Culture Shock Tinggal di Norwegia, Banyak Hal yang Beda dengan Indonesia
Pindah dan tinggal di negara lain tentu membuat saya harus banyak beradaptasi.
Meskipun sama-sama menjalani kehidupan sehari-hari seperti bekerja, belanja, sekolah, dan bersosialisasi, ternyata kebiasaan di Norwegia cukup berbeda dengan yang biasa saya temui di Indonesia.
Ada beberapa hal yang awalnya membuat saya cukup kaget atau bisa dibilang culture shock.
Mulai dari matahari yang hampir tidak terbenam saat musim panas, suasana musim dingin yang sangat gelap, sampai kebiasaan orang Norwegia yang sangat menghargai privasi.
Berikut beberapa hal yang paling saya rasakan selama tinggal di Norwegia.
1. Musim Panas Bisa Terang Hampir 24 Jam
Hal pertama yang membuat saya cukup kaget adalah kondisi siang dan malam di Norwegia.
Saat musim panas, matahari bisa bersinar sangat lama. Bahkan di beberapa wilayah, kondisi terang bisa berlangsung hampir 23 sampai 24 jam.
Buat saya yang terbiasa tinggal di Indonesia, tentu ini terasa sangat berbeda.
Di Indonesia, ketika malam tiba, tubuh kita secara otomatis mulai bersiap untuk tidur karena suasana sudah gelap.
Tetapi di Norwegia, terutama saat musim panas, malam hari bisa tetap terang.
Pada awal tinggal di sana, saya cukup kesulitan tidur karena kondisi di luar masih terlihat seperti siang.
2. Musim Dingin Justru Sangat Gelap
Kalau musim panas membuat saya sulit tidur karena terlalu terang, musim dingin memberikan pengalaman yang sebaliknya.
Saat musim dingin, suasananya bisa sangat gelap dan sepi.
Orang-orang juga lebih jarang berada di luar rumah.
Buat saya, perubahan kondisi seperti ini membutuhkan penyesuaian.
Tubuh kita yang terbiasa dengan pola siang dan malam di Indonesia harus beradaptasi dengan kondisi yang sangat berbeda.
Menariknya, ketika musim dingin datang, saya justru bisa tidur lebih lama.
3. Orang Norwegia Sangat Menjaga Privasi
Culture shock berikutnya adalah masalah privasi dan personal space.
Di Norwegia, saya melihat orang-orang sangat menjaga ruang pribadi masing-masing.
Kalau tidak saling mengenal, mereka biasanya tidak terlalu banyak bertegur sapa.
Misalnya ketika berada di halte bus, stasiun kereta, di dalam kereta atau bus, jangan berharap akan banyak orang yang tiba-tiba mengajak ngobrol.
Ini berbeda dengan Indonesia.
Di Indonesia, berada di tempat umum terkadang bisa membuat kita mudah berinteraksi dengan orang lain.
Bahkan orang yang baru kita kenal bisa saja mengajak ngobrol.
Di Norwegia, saya justru harus memahami bahwa setiap orang memiliki ruang pribadi yang harus dihormati.
Awalnya mungkin terasa dingin atau kurang ramah.
Tetapi sebenarnya ini lebih kepada perbedaan budaya.
4. Kebiasaan Party di Akhir Pekan
Hal lain yang cukup menarik adalah kebiasaan orang Norwegia ketika menikmati akhir pekan.
Selama hari Senin sampai Jumat, kebanyakan orang menjalani rutinitas seperti bekerja, kemudian menghabiskan waktu bersama keluarga.
Mereka bisa melakukan kegiatan seperti hiking, ski, berjalan-jalan, atau menghabiskan waktu bersama pasangan dan anak.
Kemudian ketika akhir pekan tiba, terutama Jumat dan Sabtu malam, sebagian orang mulai bersosialisasi dengan teman-temannya.
Ada yang pergi ke bar atau klub dan bisa berpesta sampai larut malam.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak selalu langsung dimulai di bar.
Sebagian orang biasanya berkumpul terlebih dahulu di rumah teman, kemudian baru pergi ke bar atau tempat lainnya.
5. Minggu Justru Banyak Toko Tutup
Ini juga salah satu hal yang cukup terasa berbeda dibandingkan Indonesia.
Kalau di Indonesia hari Sabtu dan Minggu biasanya justru menjadi waktu yang ramai untuk pergi ke mal atau berbelanja, di Norwegia kondisinya bisa berbeda.
Banyak toko dan pusat perbelanjaan tutup pada hari Minggu.
Buat saya, awalnya ini cukup mengejutkan.
Di Indonesia, akhir pekan identik dengan jalan-jalan, belanja, makan di luar, atau pergi ke pusat perbelanjaan.
Sedangkan di Norwegia, kita harus lebih memperhatikan jadwal operasional toko.
Kalau membutuhkan barang tertentu, sebaiknya belanja lebih awal.
Jangan sampai baru ingat mau belanja pada hari Minggu, ternyata tokonya tutup.
6. Sistem ID di Norwegia Sangat Praktis
Salah satu hal yang justru menurut saya sangat bagus adalah sistem personal number.
Norwegia memiliki nomor identitas pribadi yang digunakan untuk berbagai keperluan.
Nomor tersebut bisa digunakan untuk berbagai urusan administratif, seperti membuat janji dengan dokter, membayar pajak, melamar pekerjaan, belajar, sampai mengurus SIM.
Menurut saya, sistem seperti ini sangat praktis.
Ketika kita mengurus sesuatu, data yang diperlukan sudah terhubung dengan sistem.
Jadi tidak perlu berkali-kali membawa berbagai dokumen untuk membuktikan identitas dan informasi pribadi.
Buat saya, ini salah satu hal yang cukup terasa modern dan sistematis.
7. Jarang Menggunakan Uang Cash
Culture shock berikutnya adalah kebiasaan pembayaran.
Di Norwegia, penggunaan uang tunai relatif jarang.
Masyarakat lebih banyak menggunakan kartu atau pembayaran melalui aplikasi di handphone.
Bahkan ATM juga tidak sebanyak yang biasa saya lihat di Indonesia.
Saya sendiri hampir jarang mengambil uang tunai.
Kalau ingin membeli sesuatu, biasanya cukup menggunakan kartu atau metode pembayaran digital.
Awalnya mungkin terasa sedikit aneh kalau terbiasa membawa uang cash.
Tetapi lama-kelamaan justru terasa praktis.
8. Pemilahan Sampahnya Sangat Detail
Nah, ini salah satu hal yang menurut saya paling menarik.
Norwegia sangat serius dalam masalah pemilahan sampah.
Bukan hanya memisahkan sampah basah dan kering.
Pemilahannya bisa jauh lebih detail.
Ada tempat atau kategori berbeda untuk sampah kertas, plastik, makanan, kaca, elektronik, kayu, logam, dan jenis sampah lainnya.
Bahkan sebelum membuang kemasan tertentu, kita harus membersihkannya terlebih dahulu.
Misalnya kemasan karton bekas makanan atau minuman harus dicuci agar bersih sebelum dibuang.
Untuk plastik pun masih ada pemilahan berdasarkan jenisnya.
Awalnya mungkin terasa merepotkan.
Tetapi kalau sudah terbiasa, sistem seperti ini membuat proses pengelolaan sampah menjadi lebih teratur.
Menurut saya, ini juga menjadi salah satu alasan lingkungan di Norwegia terlihat bersih.
9. Bisa Minum Air Langsung dari Keran
Hal lain yang membuat saya cukup kaget ketika pertama kali tinggal di Norwegia adalah kebiasaan minum air langsung dari keran.
Di sana, banyak orang terbiasa minum air putih langsung dari keran karena kualitas airnya dianggap baik.
Awalnya tentu saya harus membiasakan diri.
Kalau di Indonesia, kita lebih sering membeli air minum kemasan atau menggunakan air yang sudah dimasak atau melalui proses penyaringan.
Di Norwegia, mengambil air minum dari keran bisa menjadi sesuatu yang biasa.
Dan menurut saya, rasanya juga segar.
10. Kehidupan di Norwegia Terasa Lebih Teratur
Dari beberapa hal di atas, saya melihat bahwa banyak aktivitas sehari-hari di Norwegia sudah dibuat sangat sistematis.
Mulai dari sistem identitas, pembayaran digital, pengelolaan sampah, sampai jam operasional toko.
Semua memiliki aturan dan kebiasaan yang harus diikuti.
Buat orang yang baru datang, tentu membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Tetapi setelah terbiasa, banyak hal justru terasa lebih mudah.
Culture Shock Itu Berbeda untuk Setiap Orang
Saya menyadari bahwa pengalaman culture shock setiap orang tentu tidak akan sama.
Apa yang membuat saya kaget belum tentu membuat orang lain kaget.
Begitu juga sebaliknya.
Setiap orang memiliki kebiasaan, latar belakang, dan pengalaman yang berbeda.
Karena itu, daftar culture shock di atas adalah pengalaman pribadi saya selama tinggal di Norwegia, bukan berarti semua orang akan mengalami hal yang sama.
Menurut saya, justru hal seperti inilah yang membuat pengalaman tinggal di luar negeri menjadi menarik.
Kita belajar bahwa ternyata cara orang menjalani kehidupan sehari-hari bisa sangat berbeda meskipun kebutuhan dasarnya sama.
Kesimpulan
Tinggal di Norwegia memberikan saya banyak pengalaman baru.
Beberapa hal yang awalnya membuat saya kaget antara lain perbedaan panjang siang dan malam, musim dingin yang sangat gelap, kebiasaan menjaga privasi, budaya bersosialisasi di akhir pekan, toko yang banyak tutup pada hari Minggu, sistem personal number, pembayaran tanpa uang tunai, pemilahan sampah yang sangat detail, serta kebiasaan minum air langsung dari keran.
Awalnya beberapa hal tersebut terasa aneh karena berbeda dengan kebiasaan saya di Indonesia.
Tetapi setelah dijalani, saya mulai memahami bahwa setiap negara memang mempunyai budaya dan sistemnya sendiri.
Buat teman-teman yang punya rencana tinggal, sekolah, atau bekerja di Norwegia, menurut saya penting untuk mengetahui hal-hal seperti ini sejak awal.
Dengan begitu, ketika sudah sampai di sana, kita tidak terlalu kaget dan bisa lebih cepat beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari.
Karena menurut saya, tinggal di luar negeri bukan hanya tentang mencari pekerjaan atau mendapatkan penghasilan, tetapi juga tentang belajar memahami cara hidup yang berbeda.


