Pengalaman Puasa di Norwegia, Hampir 20 Jam Sehari

Bulan Ramadan selalu punya cerita tersendiri bagi setiap umat Muslim. Kalau biasanya kita menjalankan puasa dari waktu subuh sampai magrib, bagaimana kalau harus menjalani puasa di negara yang waktu siangnya jauh lebih panjang?


Itulah salah satu pengalaman yang menarik ketika saya melihat kehidupan Muslim di Norwegia.

Saya penasaran bagaimana rasanya menjalankan ibadah puasa di negara Eropa Utara yang memiliki perbedaan waktu siang dan malam cukup ekstrem, terutama ketika memasuki musim tertentu.

Ternyata, menjalankan puasa di Norwegia memang membutuhkan mental dan fisik yang cukup kuat.

Puasa di Norwegia Bisa Sampai Hampir 20 Jam

Hal pertama yang membuat saya cukup kaget adalah lamanya waktu berpuasa.

Di daerah Verdal, waktu imsak bisa dimulai sekitar pukul 02.30 dini hari.

Sementara waktu berbuka bisa mencapai sekitar pukul 22.03 malam.

Artinya, dalam satu hari waktu berpuasa bisa mendekati 20 jam.

Buat saya yang terbiasa tinggal di Indonesia, membayangkan puasa selama itu saja sudah terasa berat.

Di Indonesia, waktu puasa relatif lebih pendek dan perbedaan antara waktu imsak dan magrib tidak sejauh itu.

Sedangkan di Norwegia, saya harus mempersiapkan diri untuk menahan lapar dan haus sejak dini hari sampai malam.

Waktu Berbuka Bisa Bertambah Setiap Hari

Yang menarik lagi, waktu berbuka di Norwegia tidak selalu sama.

Di Verdal, waktu berbuka bisa bertambah sekitar tiga menit setiap hari.

Misalnya hari ini berbuka pukul 22.03, kemudian besok menjadi sekitar 22.06 dan hari berikutnya sekitar 22.09.

Lama-kelamaan waktu berbuka bisa semakin malam.

Bisa dibayangkan bagaimana rasanya ketika tubuh sudah mulai lelah, tetapi waktu berbuka masih cukup lama.

Namun, bagi orang yang sudah tinggal di sana, kondisi seperti ini menjadi bagian dari kehidupan selama Ramadan.

Bagaimana Rasanya Melihat Orang Lain Makan Saat Kita Puasa?

Salah satu hal yang menurut saya menarik adalah bagaimana seorang Muslim menghadapi lingkungan yang tidak semuanya berpuasa.

Di sekolah atau tempat belajar, misalnya, ada orang-orang yang bukan Muslim dan tetap makan seperti biasa.

Bayangkan kita sedang berpuasa, kemudian melihat orang lain makan di depan kita.

Belum lagi kalau aroma makanan tercium.

Ternyata hal tersebut tidak menjadi masalah besar.

Kuncinya adalah niat dan bagaimana kita mengendalikan diri.

Dalam pengalaman yang saya lihat, meskipun ada orang lain yang makan di depan mata, fokus tetap pada ibadah dan tidak terlalu memikirkan makanan tersebut.

Menurut saya, ini justru menjadi salah satu bentuk latihan untuk menguatkan kesabaran.

Lebaran di Norwegia Tidak Sama dengan di Afghanistan atau Indonesia

Selain puasa, saya juga tertarik dengan cerita mengenai Lebaran.

Bagi umat Muslim di negara dengan jumlah Muslim yang tidak sebanyak Indonesia, suasana Idulfitri tentu bisa terasa berbeda.

Di Afghanistan, misalnya, Lebaran bisa menjadi momen yang sangat ramai dan penuh kegiatan bersama keluarga.

Lebaran dirayakan selama tiga hari.

Pada hari pertama, keluarga biasanya bangun pagi, mandi, bersiap-siap, kemudian pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Id.

Setelah itu mereka saling mengucapkan Eid Mubarak, meminta maaf, dan berkumpul bersama keluarga.

Ada juga tradisi memberikan uang kepada anak-anak yang disebut Eidi atau hadiah Lebaran.

Tradisi ini ternyata cukup mirip dengan kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak mendapatkan uang atau hadiah dari orang tua, keluarga, bahkan tetangga.

Suasana Lebaran di Norwegia Lebih Sederhana

Berbeda dengan Afghanistan yang memiliki banyak keluarga dan komunitas Muslim, merayakan Lebaran di Norwegia bisa terasa lebih sederhana.

Jumlah umat Muslim yang berada di sekitar kita tentu tidak sebanyak di negara-negara dengan mayoritas Muslim.

Karena itu, suasananya mungkin tidak seramai ketika merayakan Lebaran di Indonesia.

Apalagi ketika kondisi sedang tidak memungkinkan untuk berkumpul dalam jumlah banyak.

Bagi saya, ini menjadi salah satu perbedaan besar ketika menjalankan kehidupan sebagai Muslim di luar negeri.

Kita tetap bisa menjalankan ibadah dan merayakan Idulfitri, tetapi suasananya mungkin tidak sama seperti ketika berada di kampung halaman.

Tinggal di Norwegia Tidak Selalu Berarti Harus Tinggal di Kota Besar

Hal lain yang menurut saya menarik adalah pilihan tempat tinggal.

Saya justru lebih menyukai daerah yang kecil dan tenang seperti Verdal.

Tidak semua orang cocok tinggal di kota besar.

Ada orang yang justru merasa lebih nyaman berada di tempat yang tidak terlalu ramai, jauh dari kebisingan, dan memiliki suasana yang lebih tenang.

Itulah yang menjadi salah satu alasan saya menyukai Verdal.

Daerahnya tidak terlalu ramai dan suasananya lebih tenang.

Menurut saya, hal seperti ini juga perlu dipikirkan bagi siapa saja yang ingin bekerja di luar negeri.

Jangan hanya melihat kota besar seperti Oslo.

Ada banyak daerah lain yang mungkin justru lebih cocok untuk kehidupan kita.

Saya Datang ke Norwegia Karena Keluarga

Ada cerita lain yang cukup menarik mengenai bagaimana seseorang bisa sampai ke Norwegia.

Dalam pengalaman yang saya pelajari, kedatangan ke Norwegia tidak selalu dimulai dari mencari pekerjaan.

Ada juga yang datang karena keluarga.

Salah satu orang yang diwawancarai dalam video tersebut datang ke Norwegia setelah istrinya lebih dahulu tinggal di sana. Prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum akhirnya bisa berangkat.

Ini menunjukkan bahwa jalan seseorang untuk tinggal di luar negeri bisa berbeda-beda.

Ada yang datang untuk bekerja, ada yang melalui pendidikan, dan ada juga yang mengikuti keluarga.

Setelah Sampai di Norwegia, Saya Ingin Tetap Bekerja Sesuai Bidang

Bagi saya, pindah ke negara lain bukan berarti harus meninggalkan pengalaman dan pendidikan yang sudah dimiliki.

Ada orang yang datang ke Norwegia dengan latar belakang pendidikan tertentu dan tetap ingin melanjutkan karier di bidang yang sama.

Contohnya adalah seseorang yang memiliki pendidikan farmasi dan pengalaman bekerja di rumah sakit serta apotek di negara asalnya. Ia berharap bisa melanjutkan pekerjaan di bidang farmasi setelah memenuhi proses pengakuan pendidikan dan sertifikat di Norwegia.

Menurut saya, ini menjadi pelajaran penting.

Kalau kita ingin bekerja di luar negeri, sebaiknya jangan hanya memikirkan bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan pertama.

Kita juga harus memikirkan bagaimana karier kita bisa berkembang dalam jangka panjang.

Perlu Beradaptasi dengan Sistem di Negara Tujuan

Ketika membawa pendidikan atau pengalaman kerja dari Indonesia maupun negara lain, belum tentu semuanya bisa langsung digunakan di negara tujuan.

Ada proses pemeriksaan dan pengakuan dokumen pendidikan maupun sertifikat.

Karena itu, sebelum berangkat bekerja, saya rasa kita perlu mencari tahu terlebih dahulu apakah ijazah, sertifikat, atau keahlian yang kita miliki bisa digunakan di negara tersebut.

Jangan sampai setelah sampai di sana kita baru mengetahui bahwa ternyata harus mengikuti pendidikan atau proses tambahan.

Persiapan seperti ini menurut saya jauh lebih baik dilakukan sejak masih berada di negara asal.

Tidak Semua Pengalaman di Luar Negeri Itu Mudah

Bekerja dan tinggal di luar negeri memang terlihat menarik.

Tetapi tentu ada tantangannya.

Kita harus beradaptasi dengan bahasa, cuaca, budaya, makanan, lingkungan sosial, hingga sistem pekerjaan.

Bahkan dalam pekerjaan yang membutuhkan kerja tim, kita akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara dengan karakter yang berbeda.

Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu hal yang sangat penting.

Menurut pengalaman yang diceritakan, bekerja bersama orang dari berbagai negara membutuhkan kemampuan untuk memahami karakter masing-masing agar tidak menimbulkan masalah dalam pekerjaan.

Yang Saya Pelajari dari Kehidupan di Norwegia

Dari cerita tersebut, saya mendapatkan beberapa pelajaran.

Pertama, tinggal di luar negeri membutuhkan mental yang kuat.

Kedua, kita harus mampu beradaptasi dengan budaya yang berbeda.

Ketiga, jangan hanya mengejar pekerjaan tanpa memikirkan kehidupan sehari-hari.

Dan yang tidak kalah penting, kita harus mempersiapkan diri dengan baik sebelum memutuskan untuk pindah ke negara lain.

Termasuk mempelajari bahasa, pekerjaan, tempat tinggal, aturan imigrasi, serta kehidupan sosial di negara tujuan.

Kesimpulan

Menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim di Norwegia memberikan pengalaman yang berbeda.

Salah satu tantangan yang paling menarik adalah ketika Ramadan datang dan waktu puasa bisa mencapai hampir 20 jam dalam sehari. Di Verdal, misalnya, imsak bisa sekitar pukul 02.30 dan waktu berbuka sekitar pukul 22.03, dengan waktu berbuka yang bertambah beberapa menit setiap harinya.

Selain masalah puasa, kehidupan di Norwegia juga mengajarkan saya tentang pentingnya beradaptasi dengan lingkungan baru.

Lebaran mungkin tidak seramai di Indonesia atau Afghanistan, tetapi ibadah tetap bisa dijalankan.

Bekerja di luar negeri juga bukan hanya tentang mendapatkan gaji yang lebih besar. Kita harus siap menghadapi budaya baru, lingkungan baru, bahasa baru, dan berbagai aturan yang berbeda.

Bagi saya, pengalaman seperti ini justru membuat kita sadar bahwa bekerja di luar negeri bukan sekadar pindah negara, tetapi juga belajar menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda.