Pekerjaan Pertama Saya di Norwegia: Dari Petik Stroberi sampai Kerja di Restoran
Ketika pertama kali tinggal di Norwegia, saya tidak langsung mendapatkan pekerjaan kantoran atau pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan. Saat itu saya sedang menempuh pendidikan S2 di Norwegia melalui beasiswa dari pemerintah Norwegia.
Justru dari pengalaman tinggal bersama teman-teman dari berbagai negara, saya mulai tertarik untuk mencoba bekerja sambil kuliah.
Teman-teman saya, terutama yang berasal dari Pakistan dan Bangladesh, menurut saya memiliki semangat kerja yang luar biasa. Begitu tiba di Norwegia, mereka sudah mulai mencetak CV dan mendatangi restoran atau tempat-tempat tertentu untuk mencari pekerjaan.
Saya kemudian berpikir, kenapa saya tidak mencoba juga?
Akhirnya, selama musim panas, saya mencoba beberapa pekerjaan yang cukup berbeda dari pekerjaan profesional. Dari situlah saya mendapatkan pengalaman kerja pertama saya di luar negeri.
1. Pekerjaan Pertama: Memetik Stroberi
Pekerjaan pertama saya adalah bekerja di perkebunan stroberi sebagai pemetik buah.
Menariknya, untuk pekerjaan ini tidak ada proses seleksi yang terlalu rumit. Yang lebih penting adalah apakah kita punya waktu untuk bekerja dan memiliki akses atau koneksi untuk mendapatkan pekerjaan tersebut.
Saat itu saya bekerja bersama sebuah kelompok yang dikoordinasikan oleh teman saya. Jadi, kami datang secara berkelompok ke salah satu perkebunan.
Sistem kerjanya cukup berbeda. Pekerjaan tidak selalu tersedia setiap hari. Kalau memang ada pekerjaan, kami diberi tahu dan kemudian bekerja berdasarkan jam.
Untuk bayarannya, kalau tidak salah sekitar 50 kroner per jam. Jika dikonversikan menggunakan nilai tukar pada masa itu, jumlahnya sekitar Rp100 ribuan per jam.
Namun, saya tidak bekerja terlalu lama di sana.
Ada beberapa hal yang menurut saya kurang jelas, terutama mengenai jumlah pekerjaan yang tersedia dan sistem kerjanya. Karena sifatnya berdasarkan kelompok dan kebutuhan tenaga kerja, kadang ada hari ketika pekerjaan tersedia dan ada juga hari ketika tidak ada pekerjaan.
Meskipun begitu, pengalaman tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya.
Saya belajar bahwa ketika tinggal di luar negeri, kita tidak perlu terlalu memilih pekerjaan, terutama jika tujuan kita memang ingin mendapatkan pengalaman dan tambahan penghasilan.
2. Pekerjaan Kedua: Menjadi Pelayan di Event
Pekerjaan kedua saya adalah menjadi semacam pelayan atau waiter dalam sebuah event.
Namun, pekerjaannya bukan di restoran. Saya bekerja melalui sebuah perusahaan yang menyediakan tenaga kerja untuk berbagai acara.
Sistemnya cukup fleksibel. Mereka membutuhkan orang yang siap bekerja ketika ada event tertentu.
Di sinilah saya mendapatkan pelajaran yang sangat penting.
Ternyata Bahasa Sangat Penting
Sebelumnya saya sempat mencoba mencari pekerjaan menggunakan bahasa Inggris.
Hasilnya?
Saya sudah mencari selama sekitar enam bulan tetapi belum mendapatkan pekerjaan.
Kemudian saya mencoba mencari pekerjaan dengan menggunakan kemampuan bahasa Norwegia yang saya miliki, meskipun kemampuan saya masih sangat terbatas.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Dalam beberapa hari saya justru mendapatkan pekerjaan.
Saya kemudian mendapatkan kesempatan interview menggunakan bahasa Norwegia.
Interview-nya sebenarnya tidak terlalu rumit. Saya hanya ditanya mengenai nama, tempat tinggal, pengalaman yang berhubungan dengan pekerjaan, serta hal-hal dasar lainnya.
Dengan kemampuan bahasa Norwegia yang masih terbatas, saya berusaha menjawab semampu saya.
Dan ternyata saya lolos.
Bagi saya, itu menjadi pengalaman yang cukup membanggakan.
Tantangan Saat Harus Berbicara Bahasa Norwegia
Pekerjaan sebagai pelayan dalam event ternyata memberikan tantangan tersendiri.
Saya harus berkomunikasi langsung dengan tamu yang datang.
Masalahnya, kemampuan bahasa Norwegia saya masih pas-pasan.
Ketika sudah terjun langsung bekerja, tentu saya tidak bisa begitu saja mengatakan, "Saya tidak mengerti, kita pakai bahasa Inggris saja."
Ekspektasi orang-orang adalah saya bisa berkomunikasi dalam bahasa Norwegia.
Untungnya, ketika ada percakapan yang tidak saya mengerti, beberapa rekan kerja membantu menerjemahkannya ke bahasa Inggris.
Dari pengalaman ini saya semakin sadar bahwa kemampuan bahasa lokal bisa menjadi salah satu kunci penting untuk mendapatkan pekerjaan di luar negeri.
Bukan hanya untuk pekerjaan profesional, tetapi juga pekerjaan fisik atau pekerjaan paruh waktu.
Berapa Penghasilannya?
Dari pekerjaan sebagai pelayan event tersebut, saya bisa mendapatkan sekitar 1.000–1.200 kroner dalam satu hari kerja.
Jika menggunakan nilai konversi yang disebutkan dalam pengalaman tersebut, jumlahnya sekitar Rp2,4 juta per hari.
Tetapi perlu diingat, angka tersebut merupakan penghasilan pada masa pengalaman itu terjadi, bukan patokan gaji Norwegia saat ini. Nilai kroner dan biaya hidup juga berubah dari waktu ke waktu.
Selain itu, pekerjaan seperti ini tidak selalu tersedia setiap hari.
Saya juga harus selalu siap menerima telepon ketika ada pekerjaan.
Artinya, kalau sedang merencanakan liburan selama musim panas, kita harus pintar-pintar mengatur waktu karena pekerjaan bisa datang sewaktu-waktu.
3. Pekerjaan Ketiga: Bekerja di Restoran India
Pekerjaan ketiga saya adalah bekerja di sebuah restoran India di Norwegia.
Kebetulan pemilik restoran tersebut berasal dari India sehingga proses interview dilakukan menggunakan bahasa Inggris.
Untuk pekerjaan ini saya tidak diwajibkan menggunakan bahasa Norwegia. Yang paling penting adalah saya bersedia bekerja dan mampu menjalankan pekerjaan yang diberikan.
Bayarannya sekitar 100 kroner per jam dan pekerjaan tersebut sudah resmi sehingga penghasilannya dilaporkan untuk pajak.
Dalam sehari saya biasanya bekerja sekitar 6–7 jam. Ada juga rekan kerja yang bekerja lebih lama, bahkan sampai 10–12 jam dan pulang sekitar jam 1 malam.
Kalau dihitung, penghasilan saya sekitar 700–1.000 kroner per hari, tergantung jumlah jam kerja.
Ternyata Kerja di Luar Negeri Tidak Selalu Sesuai Bayangan
Satu hal yang cukup membuat saya terkejut ketika bekerja di restoran adalah tuntutan terhadap efisiensi dan kebersihan.
Di luar negeri, menurut pengalaman saya, satu orang bisa diberikan beberapa tanggung jawab sekaligus.
Ketika bekerja di restoran India tersebut, saya bukan hanya membantu pekerjaan di dapur.
Saya juga harus melakukan pekerjaan cleaning.
Bahkan ketika pertama kali datang, saya langsung diminta menggunakan vacuum cleaner untuk membersihkan seluruh restoran.
Tidak hanya sekadar bersih.
Semuanya harus benar-benar bersih dan rapi.
Debu pun diperhatikan.
Bahkan saya pernah mendapatkan pengalaman harus membersihkan bagian tembok karena ada debu di sana.
Pengalaman yang Tidak Terlupakan: Membersihkan Bak Sampah
Ada satu pengalaman yang sampai sekarang cukup saya ingat.
Saya pernah harus masuk ke sebuah bak sampah berukuran besar, kurang lebih seperti setengah container, kemudian membersihkannya menggunakan selang.
Seluruh bagian bak sampah tersebut harus dicuci sampai bersih.
Pekerjaan seperti ini mungkin tidak pernah saya bayangkan sebelumnya ketika berangkat ke Norwegia untuk kuliah S2.
Bahkan pekerjaan tersebut tidak pernah saya ceritakan kepada orang tua karena menurut saya cukup ekstrem.
Tapi justru dari pengalaman seperti itulah saya belajar banyak.
Saya belajar bahwa bekerja di luar negeri tidak selalu berarti mendapatkan pekerjaan yang nyaman atau sesuai dengan gelar pendidikan.
Kadang kita harus mau melakukan pekerjaan yang mungkin belum pernah kita lakukan sebelumnya.
Bisa Kuliah Sambil Kerja di Norwegia?
Pengalaman saya waktu itu memang bekerja ketika sedang kuliah dan terutama pada musim panas.
Karena pekerjaan yang saya lakukan sifatnya sementara dan berkaitan dengan musim, saya harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.
Setelah masa kerja tersebut selesai, saya kembali fokus pada studi.
Jadi, bagi teman-teman yang mempunyai rencana kuliah sambil mencari pekerjaan atau summer job di luar negeri, menurut saya penting untuk mempertimbangkan beberapa hal:
Pelajari bahasa negara tujuan.
Jangan terlalu memilih pekerjaan di awal.
Siapkan CV yang sederhana dan mudah dipahami.
Bangun koneksi dengan teman atau komunitas.
Siapkan diri untuk melakukan pekerjaan fisik.
Pahami sistem pembayaran dan pajak sebelum menerima pekerjaan.
Tetap prioritaskan pendidikan jika statusnya sedang kuliah.
Atur keuangan karena biaya hidup di Norwegia cukup tinggi.
Pelajaran dari Pekerjaan Pertama di Norwegia
Kalau saya melihat kembali pengalaman tersebut, tiga pekerjaan itu memberikan pelajaran yang berbeda.
Dari perkebunan stroberi, saya belajar bagaimana rasanya melakukan pekerjaan fisik dan bekerja berdasarkan kebutuhan musim.
Dari pekerjaan event, saya belajar betapa pentingnya kemampuan bahasa lokal.
Sedangkan dari pekerjaan di restoran, saya belajar tentang disiplin, efisiensi, kebersihan, dan tanggung jawab dalam bekerja.
Yang paling penting, saya menjadi semakin memahami bahwa kesempatan kerja di luar negeri tidak selalu datang dalam bentuk pekerjaan profesional.
Terkadang kita harus memulai dari pekerjaan sederhana.
Bagi saya, pekerjaan pertama tersebut bukan sekadar soal berapa banyak uang yang didapat. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses belajar hidup di negara lain.
Penutup
Ketika pertama kali datang ke Norwegia untuk kuliah S2, saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan pengalaman bekerja sebagai pemetik stroberi, pelayan event, sampai membantu pekerjaan di restoran.
Semua pekerjaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru memberikan pengalaman yang tidak saya dapatkan dari bangku kuliah.
Kalau Anda saat ini sedang merencanakan kuliah atau bekerja di luar negeri, jangan hanya mempersiapkan ijazah dan kemampuan profesional.
Persiapkan juga mental, kemampuan bahasa, kemampuan beradaptasi, dan jangan takut untuk memulai dari pekerjaan yang sederhana.
Karena terkadang, pekerjaan pertama yang kita anggap kecil justru bisa memberikan pelajaran yang besar.


