Cara Mendapatkan Pekerjaan Pertama di Luar Negeri Secara Gratis
Bekerja di luar negeri sering dianggap membutuhkan biaya besar, harus memiliki pendidikan tinggi, atau bahkan harus mempunyai keluarga dan kenalan yang sudah lebih dulu tinggal di luar negeri.
Namun, pengalaman ini menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar.
Seseorang yang berasal dari kampung dan tidak memiliki keluarga yang bekerja di luar negeri berhasil mendapatkan pekerjaan pertamanya di luar negeri tanpa menggunakan agen berbayar. Bahkan ketika pertama kali berangkat, ia masih hanya memiliki ijazah SMA.
Berawal dari Keinginan Tinggal di Luar Negeri
Keinginan untuk tinggal dan bekerja di luar negeri sebenarnya sudah muncul sejak kecil. Ia mengaku menyukai pelajaran geografi dan senang melihat peta serta berbagai negara.
Keinginan tersebut kemudian berkembang menjadi cita-cita untuk bisa tinggal, bekerja, dan melihat kehidupan di negara lain.
Namun, karena tumbuh di kampung dan tidak memiliki keluarga atau kerabat yang pernah bekerja di luar negeri, ia tidak mempunyai orang yang bisa dijadikan tempat bertanya.
Apalagi pada masa itu akses internet dan informasi belum semudah sekarang. Berbagai informasi mengenai pekerjaan di luar negeri harus dicari sendiri.
Hanya Tamatan SMA, tetapi Punya Pengalaman Kerja
Pada tahun 2017, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan pertamanya di luar negeri. Saat itu, ia melamar menggunakan ijazah SMA.
Ia memang hanya tamat SMA pada tahun 2010. Namun, selama tujuh tahun setelah lulus, ia tidak berhenti bekerja dan mengembangkan pengalaman.
Ia memulai pekerjaan di industri perhotelan sebagai resepsionis. Dari sana, kariernya berkembang hingga menjadi supervisor dan kemudian Front Office Manager.
Setelah itu, ia juga pernah bekerja sebagai Marketing Manager di hotel lain, kemudian menjadi Assistant Spa Manager sekaligus instruktur kebugaran, yoga, dan fitness.
Pengalaman selama tujuh tahun tersebut akhirnya membuat CV-nya menjadi menarik bagi perusahaan di luar negeri. Pada saat melamar pekerjaan di Maladewa, ia masih berstatus tamatan SMA, tetapi pengalaman kerja yang dimilikinya menjadi salah satu kekuatan utama.
Yang Dilihat Bukan Hanya Ijazah
Menurut pengalaman tersebut, ijazah bukan satu-satunya hal yang menentukan seseorang bisa mendapatkan pekerjaan di luar negeri.
Yang lebih penting adalah memiliki pengalaman kerja yang relevan dengan posisi yang dilamar.
Ketika melamar di Maladewa, pengalaman yang dimiliki juga masih berada di bidang yang sama, yaitu hospitality atau perhotelan. Posisi yang dilamar pun sesuai dengan pengalaman terakhirnya sebagai instruktur kebugaran dan bidang wellness.
Perusahaan bahkan tidak terlalu mempermasalahkan ijazahnya. Mereka lebih melihat pengalaman kerja dan skill yang dimiliki, kemudian meminta bukti berupa sertifikat yang berkaitan dengan kemampuan tersebut.
Artinya, pendidikan memang penting, tetapi pengalaman dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan juga dapat menjadi modal yang sangat kuat.
Tidak Mau Menggunakan Agen Berbayar
Sebelum mendapatkan pekerjaan pertamanya, ia sempat mencari informasi melalui agen.
Namun, saat itu ia menemukan bahwa sejumlah agen meminta biaya yang cukup besar, mulai dari sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta.
Bagi seseorang yang baru pertama kali ingin pergi ke luar negeri, mengeluarkan uang sebanyak itu tentu memiliki risiko. Apalagi pada saat itu ia juga mendengar berbagai informasi mengenai penipuan dan human trafficking.
Karena pertimbangan tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakan agen.
Ia kemudian mencoba mencari informasi melalui internet dan bertanya kepada teman yang sudah lebih dulu mendapatkan pekerjaan di luar negeri.
Menemukan Lowongan Melalui Internet
Sekitar tahun 2016–2017, akses internet sudah semakin mudah. Ia kemudian mendapatkan informasi mengenai sebuah website yang menyediakan lowongan pekerjaan di luar negeri.
Dari website tersebut, ia mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan skill dan pengalamannya.
Cara melamarnya juga sederhana. Ia cukup menyiapkan CV kemudian mengirimkan lamaran melalui email.
Ia tidak hanya melamar satu atau dua pekerjaan. Semua lowongan yang dirasa sesuai dengan kemampuan dicoba. Dalam satu hari, ia bahkan bisa mengirim sekitar 10 CV.
Jika dihitung selama satu bulan, jumlah lamaran yang dikirim bisa mencapai lebih dari 300 lowongan.
Sampai Akhirnya Mendapat Panggilan Interview
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Ia mulai mendapatkan email dari beberapa perusahaan yang mengundangnya untuk mengikuti interview. Beberapa perusahaan yang disebut dalam pengalamannya antara lain Hotel Westin dan JW Marriott.
Untuk pekerjaan sebagai instruktur kebugaran, proses interview dilakukan dengan HRD dan kemudian dengan director bidang kebugaran.
Setelah melalui proses tersebut dan perusahaan merasa cocok dengan kemampuan yang dimiliki, ia akhirnya mendapatkan kontrak kerja.
Perusahaan Mengurus Visa, Work Permit, hingga Tiket
Setelah mendapatkan kontrak, ia hanya perlu mengirimkan sejumlah dokumen yang diminta perusahaan.
Dokumen tersebut antara lain salinan paspor, ijazah terakhir, surat pengalaman kerja, serta sertifikat yang berkaitan dengan pekerjaan sebagai instruktur kebugaran dan yoga.
Setelah dokumen diberikan, pihak perusahaan yang mengurus proses selanjutnya, termasuk visa dan work permit.
Beberapa minggu kemudian, visa dan work permit selesai. Perusahaan juga menyediakan tiket perjalanan dan menanyakan bandara keberangkatan yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.
Akhirnya, ia berangkat dari Palembang menuju Singapura dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Maladewa.
Hampir Tidak Mengeluarkan Biaya
Dari pengalaman tersebut, proses keberangkatan ke Maladewa tidak membutuhkan biaya besar.
Ia hanya mengeluarkan biaya untuk menerjemahkan ijazah dan transkrip nilai ke dalam bahasa Inggris. Biayanya disebut sekitar Rp50.000 per lembar, sehingga totalnya kurang lebih Rp100.000 untuk dua lembar ijazah.
Sementara proses seperti visa, work permit, dan tiket ditangani oleh pihak perusahaan.
Karena pengalaman tersebut, Maladewa kemudian dianggap sebagai salah satu pilihan yang menarik bagi orang yang ingin mencoba bekerja di luar negeri untuk pertama kalinya.
Bahasa Inggris Juga Harus Dipersiapkan
Selain pengalaman dan skill, kemampuan bahasa juga menjadi modal penting.
Menariknya, ketika pertama kali ingin bekerja ke luar negeri, kemampuan bahasa Inggrisnya sendiri belum terlalu lancar. Namun, ia tetap berusaha meningkatkan kemampuan tersebut.
Ia pernah mengikuti kursus bahasa Inggris tiga kali seminggu, belajar sendiri, menonton YouTube, hingga mengikuti pembelajaran di Kampung Inggris.
Menurutnya, bahasa Inggris penting karena banyak komunikasi dalam pekerjaan di luar negeri dilakukan menggunakan bahasa tersebut. Namun, jika ingin bekerja di negara yang menggunakan bahasa lain, maka kemampuan bahasa harus disesuaikan dengan kualifikasi pekerjaan yang dituju.
Misalnya, jika lowongan membutuhkan bahasa Jepang atau Korea, maka kemampuan bahasa tersebut yang harus dipersiapkan.
Dua Hal yang Paling Penting
Dari pengalaman mendapatkan pekerjaan pertama di luar negeri, ada dua hal utama yang ditekankan.
Pertama, memiliki kemauan yang kuat dan diikuti dengan usaha.
Keinginan saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata untuk mencari informasi, memperbaiki CV, meningkatkan kemampuan, dan mengirimkan lamaran sebanyak mungkin.
Kedua, memiliki skill, kemampuan, dan pengalaman kerja yang relevan.
Jangan hanya mengejar negara atau gaji yang ditawarkan. Perhatikan terlebih dahulu kemampuan apa yang dibutuhkan perusahaan dan apakah pengalaman yang dimiliki sesuai dengan pekerjaan tersebut.
Tamatan SMA Juga Punya Kesempatan
Pengalaman ini menjadi bukti bahwa kesempatan bekerja di luar negeri tidak selalu ditentukan oleh pendidikan tinggi.
Seseorang yang berasal dari kampung, tidak memiliki keluarga di luar negeri, tidak mempunyai akses informasi khusus, dan saat pertama mendapatkan pekerjaan masih hanya tamatan SMA, tetap berhasil mendapatkan pekerjaan di luar negeri.
Kuncinya adalah membangun pengalaman, memiliki skill yang dibutuhkan, terus belajar, dan tidak takut mencoba.
Kemudahan internet saat ini juga membuat informasi jauh lebih mudah ditemukan dibandingkan sebelumnya. Lowongan, pengalaman orang lain, dan berbagai informasi mengenai pekerjaan di luar negeri dapat dipelajari melalui berbagai platform.
Jadi, bagi siapa pun yang memiliki keinginan untuk bekerja di luar negeri, jangan langsung merasa minder karena pendidikan atau latar belakang.
Kalau orang yang berasal dari kampung, tidak punya keluarga di luar negeri, dan hanya tamatan SMA saja bisa mendapatkan pekerjaan di luar negeri, bukan berarti orang lain tidak punya kesempatan yang sama.
Yang terpenting adalah memiliki kemauan, terus berusaha, meningkatkan skill, dan mempersiapkan pengalaman yang sesuai dengan pekerjaan yang ingin dituju.


