Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pertimbangkan 5 Hal Ini Sebelum Kerja di Jepang

Keinginan untuk kerja di Jepang semakin banyak diminati. Banyak orang melihat Jepang sebagai negara yang memberikan kesempatan untuk bekerja, mendapatkan pengalaman, sekaligus memperoleh penghasilan.

Namun, menurut saya, jangan hanya melihat sisi menariknya.

Sebelum memutuskan untuk kerja di Jepang, ada beberapa hal yang benar-benar harus dipikirkan. Jangan sampai kita datang dengan ekspektasi yang terlalu tinggi, tetapi ternyata tidak siap dengan kehidupan yang sebenarnya.

Dari pengalaman saya, ada lima hal penting yang perlu dipertimbangkan sebelum kerja di Jepang, yaitu tujuan, lingkungan, modal, passion, dan ekspektasi.

1. Tentukan Tujuan Kerja di Jepang

Hal pertama yang menurut saya harus dipikirkan adalah tujuan kerja di Jepang.

Setiap orang tentu mempunyai tujuan yang berbeda.

Ada yang ingin menjadi tulang punggung keluarga, membiayai sekolah adik, membantu orang tua memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau sekadar ingin mencari pengalaman baru.

Ada juga yang menjadikan uang sebagai tujuan utama, sementara pengalaman berada di urutan berikutnya.

Menurut saya, mengetahui tujuan sejak awal sangat penting.

Kenapa?

Karena ketika nanti sudah berada di Jepang, pasti ada masa ketika kita merasa lelah, tidak bersemangat, atau bahkan homesick dan ingin pulang.

Pada saat seperti itu, mengingat kembali alasan awal kita berangkat bisa membantu mengembalikan semangat.

Jangan Kerja di Jepang Hanya Karena Ikut Teman

Saya juga tidak menyarankan datang ke Jepang hanya karena melihat kehidupan orang lain di media sosial.

Misalnya melihat orang yang kerja di Jepang kemudian bisa jalan-jalan, membeli barang, atau terlihat sukses.

Kehidupan yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan seluruh kehidupan sebenarnya.

Menurut saya, jangan sampai keputusan sebesar kerja di Jepang hanya dilakukan karena ikut-ikutan teman.

Kita harus mempunyai alasan sendiri.

2. Pertimbangkan Lingkungan di Jepang

Hal kedua yang perlu dipikirkan adalah lingkungan.

Lingkungan kerja dan lingkungan tempat tinggal di Jepang tentu berbeda dengan Indonesia.

Mulai dari cara masyarakat mematuhi peraturan, menjaga kebersihan, sampai kebiasaan sehari-hari.

Sebagai pendatang, kita harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut.

Menurut saya, kemampuan beradaptasi sangat penting ketika tinggal di negara lain.

Kita tidak bisa selalu mengharapkan lingkungan Jepang mengikuti kebiasaan kita di Indonesia.

Justru kita yang harus belajar memahami kebiasaan dan aturan yang berlaku di tempat kita tinggal.

Tinggal di Jepang sebagai Muslim Juga Perlu Dipersiapkan

Bagi teman-teman Muslim, ada pertimbangan tambahan yang menurut saya penting.

Di beberapa daerah Jepang, fasilitas yang ramah Muslim tidak selalu mudah ditemukan.

Misalnya masjid, tempat salat, maupun makanan halal.

Menurut pengalaman yang saya ceritakan, kondisi di kota besar seperti Tokyo atau Osaka bisa berbeda karena fasilitas seperti masjid dan makanan halal relatif lebih mudah dicari dibandingkan daerah tertentu.

Namun, tidak semua orang mendapatkan tempat kerja di kota besar.

Karena itu, sebelum menerima pekerjaan, menurut saya kita perlu mengetahui terlebih dahulu lokasi perusahaan dan lingkungan tempat tinggal.

Kalau tempat kerja jauh dari fasilitas ibadah, kita perlu memikirkan bagaimana menjalankan aktivitas sehari-hari sesuai kebutuhan kita.

Kita Juga Harus Menghargai Kebiasaan Masyarakat Jepang

Ada hal kecil yang mungkin terlihat sepele tetapi menurut saya penting, yaitu soal makanan dan bau.

Dalam cerita yang saya sampaikan, pernah ada pengalaman seorang pekerja Indonesia yang memasak makanan dengan aroma sangat kuat di tempat tinggalnya dan kemudian mendapat laporan dari tetangga.

Di Indonesia, aroma makanan tertentu mungkin sudah sangat biasa.

Tetapi ketika kita tinggal di negara lain, kebiasaan tersebut bisa saja dianggap mengganggu orang di sekitar.

Karena itu, sebagai pendatang kita harus belajar menghargai lingkungan.

Bukan berarti harus meninggalkan semua kebiasaan dari Indonesia, tetapi kita harus tahu kapan dan bagaimana melakukannya supaya tidak mengganggu orang lain.

3. Siapkan Modal untuk Kerja di Jepang

Hal ketiga adalah modal.

Banyak orang mungkin berpikir bahwa untuk kerja di Jepang, yang diperlukan hanya kemampuan dan kemauan.

Padahal, menurut pengalaman yang saya ceritakan, tetap ada biaya yang harus dipersiapkan.

Kalau menggunakan jalur mandiri, kita perlu mengurus berbagai keperluan sendiri, termasuk dokumen dan kebutuhan keberangkatan.

Sementara itu, kalau menggunakan LPK, prosesnya bisa lebih terbantu karena sebagian persiapan dilakukan melalui lembaga tersebut.

Namun, sebagai gantinya, biaya yang dikeluarkan bisa lebih besar.

Dalam cerita saya, biaya melalui LPK dapat mencapai puluhan juta rupiah.

Karena itu, sebelum memilih jalur, kita harus melihat kemampuan masing-masing.

Jalur Mandiri atau LPK?

Menurut saya, tidak ada satu pilihan yang cocok untuk semua orang.

Kalau memiliki waktu, kemampuan mencari informasi, dan ingin mengurus proses sendiri, jalur mandiri bisa dipertimbangkan.

Namun, kalau ingin mendapatkan pendampingan dalam proses persiapan dan mempunyai dana yang cukup, LPK juga bisa menjadi pilihan.

Yang penting adalah memahami konsekuensi masing-masing.

Kalau biaya LPK tidak bisa dibayar langsung dan harus dicicil melalui pemotongan gaji setelah bekerja di Jepang, kita juga harus mempertimbangkan apakah sanggup dengan kondisi tersebut.

Menurut saya, intinya bukan mencari jalur yang paling murah atau paling cepat.

Yang penting adalah memilih jalur yang sesuai dengan kondisi kita.

Tidak Ada yang Instan

Saya belajar bahwa untuk bisa kerja di Jepang, kita perlu mengorbankan sesuatu.

Kalau tidak mempunyai banyak uang, mungkin kita harus mengorbankan lebih banyak waktu untuk belajar bahasa Jepang sendiri.

Kita bisa membeli buku sendiri, belajar sendiri, mencari informasi sendiri, dan mempersiapkan berbagai hal secara bertahap.

Sebaliknya, kalau ingin proses yang lebih banyak dibantu, kita perlu menyiapkan biaya lebih besar.

Jadi, menurut saya memang tidak ada yang benar-benar instan.

Tidak ada yang murah dan gratis dalam proses seperti ini.

Yang membedakan adalah apa yang kita korbankan: uang, waktu, tenaga, atau kombinasi semuanya.

4. Pertimbangkan Passion dan Pekerjaan yang Akan Dilakukan

Hal berikutnya adalah passion.

Menurut saya, ini juga sangat penting.

Bahasa Jepang tidak mudah. Lingkungan kerja juga belum tentu mudah. Kita pasti akan menemukan berbagai tantangan.

Karena itu, akan lebih baik kalau pekerjaan yang dilakukan masih memiliki hubungan dengan minat atau passion kita.

Misalnya saya sendiri memang sudah menyukai Jepang sejak kecil.

Saya suka hal-hal yang berhubungan dengan Jepang dan juga suka menonton anime.

Karena itu, meskipun pekerjaan terasa melelahkan, saya masih bisa menikmati kehidupan di Jepang.

Saya merasa bersyukur karena akhirnya bisa tinggal di negara yang sejak dulu ingin saya kunjungi.

Jangan Menganggap Semua Pekerjaan Akan Sesuai dengan Pendidikan

Hal lain yang perlu dipikirkan adalah pekerjaan yang akan kita lakukan belum tentu sesuai dengan pendidikan sebelumnya.

Ada orang yang belajar akuntansi di Indonesia, tetapi ketika bekerja di Jepang justru masuk bidang perikanan.

Ada juga yang pendidikan atau latar belakangnya berbeda dengan pekerjaan yang dijalani.

Karena itu, sebelum berangkat kita harus bertanya kepada diri sendiri:

“Kalau nanti pekerjaan saya berbeda dengan jurusan atau pengalaman saya di Indonesia, apakah saya siap?”

Ini pertanyaan yang menurut saya penting.

Jangan hanya berpikir, “Yang penting berangkat dulu.”

Karena setelah sampai di Jepang, pekerjaan tersebut akan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Saya Sendiri Menikmati Pekerjaan sebagai Kaigo

Kalau saya sendiri, saya memiliki latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat.

Saya kemudian bekerja di Jepang dalam bidang kaigo atau perawatan lansia.

Pekerjaan tersebut tidak berfokus pada pekerjaan medis, tetapi masih memiliki hubungan dengan bidang kesehatan dan membantu orang lain.

Karena saya memang senang membantu orang dan merasa senang ketika bisa memberikan manfaat kepada orang lain, saya bisa menikmati pekerjaan tersebut meskipun tentu saja ada rasa lelah.

Bagi saya, kesesuaian pekerjaan dengan minat menjadi salah satu hal yang membuat saya bisa bertahan.

5. Jangan Memiliki Ekspektasi Terlalu Tinggi

Hal terakhir yang menurut saya sangat penting adalah ekspektasi.

Media sosial sering membuat kehidupan di Jepang terlihat sangat indah.

Kita mungkin melihat orang bekerja di Jepang, mengirim banyak uang ke Indonesia, membeli mobil, membeli rumah, menikah, dan terlihat sukses.

Tetapi kehidupan setiap orang berbeda.

Menurut saya, jangan datang ke Jepang dengan pikiran bahwa setelah bekerja beberapa tahun kita pasti langsung menjadi kaya.

Kenyataannya, mengumpulkan uang di Jepang juga membutuhkan perjuangan.

Biaya hidup harus dibayar, makanan harus dibeli, tempat tinggal membutuhkan biaya, dan masih ada kebutuhan sehari-hari lainnya.

Gaji Kerja di Jepang Tidak Sama untuk Semua Orang

Saya juga ingin mengingatkan bahwa jangan menganggap semua pekerja Indonesia di Jepang mendapatkan gaji yang sama.

Dalam cerita saya, ada orang yang mungkin mendapatkan penghasilan sekitar Rp20 jutaan per bulan, tetapi saya sendiri tidak sampai pada angka tersebut.

Besarnya penghasilan bisa berbeda-beda.

Karena itu, jangan menentukan keputusan hanya berdasarkan cerita seseorang yang mendapatkan penghasilan tinggi.

Cari tahu pekerjaan yang ingin kita ambil dan perhitungkan pengeluaran yang mungkin muncul.

Mengirim Uang ke Indonesia Juga Harus Diperhitungkan

Misalnya kita mendapatkan gaji sekitar Rp16 juta sebagai gambaran kasar.

Kalau kita menjadi tulang punggung keluarga, sebagian uang tentu harus dikirim ke Indonesia.

Kemudian kita masih harus membayar kebutuhan hidup di Jepang, seperti listrik, kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan lainnya.

Belum lagi kalau ingin menikmati kehidupan di Jepang.

Kita mungkin ingin jalan-jalan ke Tokyo, Hokkaido, Disneyland, atau tempat lainnya.

Semua itu membutuhkan biaya.

Jadi, jangan menganggap seluruh gaji yang diterima bisa langsung ditabung.

Kerja di Jepang Bukan Berarti Harus Terus Bekerja

Menurut saya, kalau sudah berada di Jepang, kita juga perlu menikmati kehidupan.

Jepang merupakan negara dengan empat musim dan mempunyai banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Tetapi tentu saja semuanya harus disesuaikan dengan kondisi keuangan.

Kalau memang tujuan utama kita adalah mengumpulkan uang sebanyak mungkin, mungkin kita akan memilih untuk lebih sedikit jalan-jalan dan mengurangi pengeluaran.

Sebaliknya, kalau ingin menikmati pengalaman tinggal di Jepang, kita juga harus memasukkan biaya rekreasi dalam perencanaan keuangan.

Menurut saya, semuanya kembali kepada tujuan masing-masing.

Jangan Berpikir Tiga Tahun Pasti Bisa Membeli Rumah dan Mobil

Kalau kita hanya mempunyai kontrak sekitar tiga tahun, jangan langsung berasumsi bahwa setelah pulang kita pasti bisa membeli rumah, mobil, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Bisa saja seseorang berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah besar, tetapi hasil akhirnya sangat bergantung pada gaji, pengeluaran, lama bekerja, serta bagaimana orang tersebut mengatur uang.

Dalam cerita saya, bekerja lebih lama, misalnya memperpanjang kontrak, tentu bisa memberikan waktu lebih banyak untuk menabung. Namun, tetap saja hasilnya berbeda untuk setiap orang.

Jadi, menurut saya, ekspektasi harus dibuat realistis.

Kesimpulan

Sebelum memutuskan kerja di Jepang, menurut saya ada lima hal utama yang harus dipertimbangkan:

  1. Tujuan — tahu alasan sebenarnya kenapa ingin bekerja di Jepang.

  2. Lingkungan — siap beradaptasi dengan budaya, aturan, dan kondisi tempat tinggal.

  3. Modal — siapkan uang, waktu, tenaga, dan biaya proses keberangkatan.

  4. Passion — pertimbangkan apakah pekerjaan yang akan dilakukan sesuai dengan minat dan kemampuan.

  5. Ekspektasi — jangan menganggap kerja di Jepang otomatis membuat kita cepat kaya.

Bagi saya, kerja di Jepang memang bisa memberikan pengalaman yang sangat berharga. Tetapi kehidupan di Jepang tidak selalu seperti yang terlihat di media sosial.

Ada capeknya, ada homesick-nya, ada biaya hidupnya, ada tantangan pekerjaan, dan ada proses adaptasi yang harus dijalani.

Karena itu, sebelum berangkat, lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah saya benar-benar siap dengan kehidupan yang akan saya jalani di Jepang?”

Kalau jawabannya sudah jelas, kita bisa mempersiapkan diri dengan lebih matang.

Jangan hanya mengejar keberangkatan.

Persiapkan tujuan, mental, kemampuan, modal, dan ekspektasi sebelum benar-benar memutuskan kerja di Jepang.