Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kerja di Jepang Sisi yang Jarang Diceritakan di Balik Kehidupan Jepang

 Kalau mendengar kata Jepang, mungkin yang langsung terbayang adalah negara maju, bersih, disiplin, teknologi canggih, transportasi yang teratur, dan masyarakat yang terkenal sangat tertib.

Tapi setelah saya membahas lebih dalam tentang kehidupan di Jepang, saya menemukan bahwa ada sisi lain yang jarang dibicarakan.

Bagi teman-teman yang sedang mempertimbangkan kerja di Jepang, menurut saya sisi ini juga penting untuk diketahui. Bukan berarti semua orang Jepang atau semua perusahaan Jepang seperti yang akan saya ceritakan, tetapi ada beberapa fenomena sosial dan budaya kerja yang menarik untuk dipahami.

Mulai dari kebiasaan setelah pulang kerja, hubungan senior dan junior, tekanan di tempat kerja, lembur, sampai fenomena orang yang menarik diri dari masyarakat.

Berikut beberapa hal yang menurut saya perlu diketahui sebelum memutuskan kerja di Jepang.

1. Nomikai, Nongkrong Setelah Pulang Kerja

Salah satu hal yang dibahas adalah Nomikai, yaitu acara minum bersama rekan kerja setelah jam kantor.

Kalau di Indonesia setelah selesai bekerja kita biasanya langsung pulang, menghadapi macet, kemudian beristirahat di rumah. Di Jepang, dalam lingkungan tertentu, ada budaya berkumpul bersama rekan kerja setelah pekerjaan selesai.

Nomikai bisa menjadi kesempatan untuk berbicara lebih santai dengan rekan kerja maupun atasan. Dalam suasana seperti ini, orang bisa membicarakan berbagai hal yang mungkin tidak mudah disampaikan ketika sedang berada di lingkungan kantor.

Namun, materi yang saya bahas juga menunjukkan bahwa Nomikai mempunyai aturan sosial tertentu.

Misalnya, ada kebiasaan menuangkan minuman untuk rekan kerja, terutama kepada orang yang lebih senior. Posisi duduk juga dapat mencerminkan hierarki dalam kelompok. Senior biasanya mendapatkan posisi yang lebih dihormati, sedangkan junior berada di posisi yang lebih dekat dengan pintu.

Jadi, Nomikai bukan sekadar acara makan dan minum. Dalam lingkungan tertentu, acara seperti ini bisa menjadi bagian dari hubungan sosial di tempat kerja.

2. Tekanan untuk Ikut Acara Kantor

Hal yang menurut saya perlu diperhatikan adalah ketika kegiatan sosial seperti Nomikai dianggap sebagai bagian dari kehidupan kerja.

Dalam materi tersebut digambarkan bahwa orang yang terlalu sering menolak ajakan Nomikai bisa dianggap sulit berbaur atau tidak bisa bekerja sama dengan tim.

Dari sinilah saya melihat bahwa bekerja di luar negeri bukan hanya soal kemampuan teknis.

Kita juga perlu memahami budaya dan kebiasaan di lingkungan kerja.

Namun, tentu saja pengalaman setiap orang bisa berbeda. Tidak semua perusahaan atau lingkungan kerja memiliki kebiasaan yang sama.

3. Pawahara dan Hubungan Senior-Junior

Hal lain yang dibahas adalah pawahara, yaitu penyalahgunaan kekuasaan atau tekanan dari pihak yang memiliki posisi lebih tinggi kepada bawahannya.

Materi tersebut menghubungkannya dengan budaya senpai-kohai, yaitu hubungan senior dan junior yang cukup kuat dalam kehidupan sosial Jepang.

Bentuk tekanan yang dibahas tidak selalu berupa bentakan atau kekerasan secara langsung.

Tekanan juga bisa muncul dalam bentuk pemberian pekerjaan yang sangat berat, pengucilan dari kelompok kerja, atau bahkan tidak diberikan pekerjaan sehingga seseorang merasa tidak berguna.

Ini menjadi pengingat bagi saya bahwa ketika ingin kerja di Jepang, kita tidak hanya perlu mempersiapkan kemampuan kerja, tetapi juga harus memahami bagaimana hubungan dalam organisasi berjalan.

4. Karoshi, Ketika Pekerjaan Menjadi Terlalu Berat

Salah satu istilah yang cukup terkenal dalam pembahasan budaya kerja Jepang adalah karoshi.

Karoshi secara sederhana sering digunakan untuk menggambarkan kematian yang berkaitan dengan beban kerja berlebihan.

Materi ini menggambarkan bagaimana tekanan pekerjaan, stres, dan lembur yang terlalu berat dapat memberikan dampak serius terhadap kehidupan seseorang.

Bagi saya, poin terpentingnya bukan sekadar menghafal istilah karoshi.

Yang lebih penting adalah memahami bahwa kerja di Jepang bukan berarti harus bekerja tanpa batas.

Ketika seseorang terlalu memaksakan diri, pekerjaan dapat memengaruhi kesehatan, kehidupan sosial, bahkan kehidupan keluarga.

Karena itu, sebelum berangkat, saya perlu memiliki pemahaman bahwa bekerja di Jepang tetap membutuhkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

5. Lembur Karena Sungkan

Ada juga fenomena yang dalam materi disebut Sukiai Zango.

Gambaran sederhananya seperti ini.

Jam kerja sebenarnya sudah selesai. Pekerjaan saya juga sudah selesai. Tetapi atasan dan senior masih berada di kantor.

Akhirnya saya merasa tidak enak kalau pulang lebih dulu.

Saya pun tetap duduk di kantor meskipun sebenarnya tidak ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan.

Ini adalah bentuk tekanan sosial yang berbeda dengan lembur karena pekerjaan memang banyak.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa bertahan di kantor hanya untuk menunjukkan kebersamaan dan loyalitas kepada kelompok.

Materi juga menggambarkan kebiasaan mengucapkan “osakini resimas” ketika pulang lebih dulu daripada orang lain.

Bagi orang yang baru datang dari Indonesia, kebiasaan semacam ini tentu membutuhkan proses adaptasi.

6. Matahara, Tekanan terhadap Perempuan Hamil

Sisi lain yang dibahas adalah matahara, singkatan dari maternity harassment.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan perlakuan tidak menyenangkan atau tekanan yang dialami perempuan karena kehamilan atau kondisi yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan.

Dalam materi, contohnya digambarkan berupa pengucilan, penurunan posisi, pencabutan tugas penting, sampai tekanan untuk mengundurkan diri.

Hal ini dikaitkan dengan budaya kerja yang memiliki tuntutan tinggi terhadap kehadiran dan jam kerja.

Saya melihat poin ini sebagai pengingat bahwa budaya kerja tidak hanya berhubungan dengan gaji dan pekerjaan, tetapi juga bagaimana seseorang diperlakukan dalam lingkungan kerja.

Untuk teman-teman yang ingin kerja di Jepang, memahami lingkungan kerja secara menyeluruh tentu lebih penting daripada hanya melihat nominal gaji.

7. Privasi dan Kebiasaan Memotret

Ada juga hal menarik yang mungkin terlihat sepele, yaitu soal mengambil foto.

Materi membahas adanya perhatian yang cukup besar terhadap privasi dan hak atas gambar seseorang.

Salah satu contohnya adalah suara shutter kamera pada ponsel yang digunakan di Jepang.

Dalam materi tersebut, hal ini dikaitkan dengan kekhawatiran seseorang terhadap pemotretan tanpa izin dan penyebaran foto ke media sosial.

Bagi saya, ini menunjukkan bahwa ketika tinggal di negara lain, kita harus memahami kebiasaan masyarakat setempat.

Jangan sembarangan mengambil foto orang lain, terutama jika kita tidak mendapatkan izin.

Hal sederhana seperti ini bisa menjadi bagian dari proses adaptasi ketika kerja di Jepang.

8. Hone dan Tatemae dalam Kehidupan Sosial

Salah satu konsep budaya Jepang yang menarik adalah hone dan tatemae.

Hone menggambarkan isi hati atau perasaan sebenarnya, sedangkan tatemae menggambarkan sikap atau perkataan yang ditampilkan kepada orang lain dalam situasi sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin tidak selalu menyampaikan perasaannya secara langsung.

Materi memberikan contoh percakapan di Kyoto. Ketika seseorang mengatakan bahwa jam tangan tamunya bagus, kalimat tersebut dalam konteks tertentu bisa memiliki makna lain.

Ini menggambarkan bahwa komunikasi tidak selalu hanya bergantung pada kata-kata.

Kita juga harus memahami konteks, situasi, ekspresi, dan kebiasaan sosial.

Bagi saya, ini menjadi salah satu alasan kenapa belajar bahasa Jepang tidak cukup hanya menghafal kosakata dan tata bahasa.

Kita juga perlu memahami budaya di balik bahasa tersebut.

9. Hikikomori dan Masalah 8050

Bagian terakhir yang dibahas adalah hikikomori, yaitu kondisi ketika seseorang menarik diri dari lingkungan sosial dan menghabiskan banyak waktu di dalam rumah atau kamar.

Dalam materi, fenomena ini dikaitkan dengan masalah 8050.

Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika orang yang sudah berusia sekitar 50 tahun masih bergantung kepada orang tua yang telah berusia sekitar 80 tahun.

Gambaran seperti ini menunjukkan bahwa tekanan sosial, kegagalan, perasaan malu, masalah pekerjaan, atau pengalaman buruk dapat memberikan dampak panjang terhadap kehidupan seseorang.

Seseorang yang gagal dalam pendidikan, kehilangan pekerjaan, atau mengalami perundungan dapat menarik diri dari lingkungan sosial.

Dalam kondisi ekstrem, seseorang bahkan bisa bertahun-tahun hampir tidak berinteraksi dengan masyarakat.

Saya melihat fenomena ini sebagai pengingat bahwa kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan dan pencapaian.

Kondisi mental, hubungan sosial, keluarga, dan lingkungan juga memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang.

10. Jepang Tidak Selalu Seperti yang Terlihat dari Luar

Dari semua pembahasan tersebut, saya mendapatkan satu kesimpulan penting.

Jepang memang dikenal sebagai negara maju, disiplin, bersih, tertata, dan memiliki teknologi yang berkembang.

Tetapi seperti negara lainnya, Jepang juga memiliki persoalan sosial dan budaya yang tidak selalu terlihat oleh orang yang hanya datang sebagai wisatawan.

Ketika saya melihat Jepang hanya melalui media sosial, mungkin yang terlihat adalah kota yang indah, kereta yang tepat waktu, jalan yang bersih, gedung modern, dan kehidupan yang tertib.

Namun, ketika membahas kehidupan masyarakat secara lebih dalam, ada berbagai tantangan yang juga perlu dipahami.

Karena itu, bagi saya kerja di Jepang bukan hanya tentang berapa besar gaji yang bisa diperoleh.

Saya juga harus bertanya:

  • Apakah saya siap dengan budaya kerja yang berbeda?

  • Apakah kemampuan bahasa Jepang saya cukup?

  • Apakah saya siap tinggal jauh dari keluarga?

  • Apakah saya mampu beradaptasi dengan lingkungan baru?

  • Apakah saya memahami hak dan kewajiban sebagai pekerja?

  • Apakah saya bisa menjaga kesehatan dan kehidupan pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut saya jauh lebih penting daripada hanya melihat angka gaji.

Kesimpulan

Kalau saya ingin kerja di Jepang, saya tidak boleh hanya melihat Jepang dari sisi yang indah.

Ada banyak hal positif yang bisa dipelajari dari Jepang, tetapi ada pula budaya dan persoalan sosial yang perlu dipahami.

Nomikai, hubungan senpai-kohai, pawahara, karoshi, lembur karena tekanan sosial, matahara, hone-tatemae, sampai hikikomori menunjukkan bahwa kehidupan di Jepang mempunyai sisi yang kompleks.

Namun, saya juga tidak bisa menyimpulkan bahwa semua orang Jepang, semua perusahaan, atau semua pekerja asing pasti mengalami hal-hal tersebut.

Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda.

Justru karena itu, sebelum kerja di Jepang, saya perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin. Belajar bahasa Jepang, memahami budaya, mengetahui kondisi pekerjaan, mengenali hak sebagai pekerja, menjaga kesehatan, dan membangun lingkungan pertemanan yang baik.

Jepang bukan sekadar negara tempat mencari uang.

Ketika saya memutuskan untuk hidup dan bekerja di sana, saya juga harus siap menghadapi budaya, aturan, lingkungan, dan kehidupan sosial yang berbeda.

Dengan persiapan yang matang, saya bisa datang ke Jepang bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk memahami kehidupan dan mengambil pengalaman sebanyak mungkin.