Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kerja di Jepang sebagai Petani: Persiapan, Biaya, dan Pentingnya Jalur Resmi

Buat teman-teman yang punya keinginan kerja di Jepang, khususnya di bidang pertanian, saya ingin berbagi sedikit pengalaman dan hal yang menurut saya penting dipersiapkan sebelum berangkat.

Kerja di Jepang memang bisa menjadi kesempatan yang menarik. Apalagi kalau kita memang sudah mempunyai bidang pekerjaan yang disukai, termasuk pekerjaan pertanian.

Namun, jangan sampai karena terlalu ingin cepat berangkat, kita justru mengambil jalur yang tidak jelas.

Menurut saya, proses yang resmi memang membutuhkan waktu, tetapi jauh lebih baik daripada terburu-buru berangkat tanpa mengetahui bagaimana status dan tanggung jawab kita selama berada di Jepang.

Ingin Kerja di Jepang sebagai Petani? Pilih Pekerjaan yang Sesuai

Kalau memang teman-teman ingin kerja di Jepang sebagai petani, menurut saya tidak ada salahnya mempersiapkan diri dari sekarang.

Pekerjaan di Jepang tidak hanya satu bidang. Kita bisa memilih pekerjaan berdasarkan minat dan kemampuan yang kita miliki.

Saya sendiri dalam video ini mengajak teman-teman yang ingin bekerja di bidang pertanian maupun bidang pekerjaan lainnya untuk mencari jalur yang sesuai.

Salah satu jalur yang saya sebutkan adalah melalui LPK.

LPK dapat menjadi tempat untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti proses mendapatkan pekerjaan.

Jangan Langsung Membayar Semua Biaya

Ada satu hal yang menurut saya sangat penting bagi teman-teman yang sedang mencari informasi kerja di Jepang melalui LPK.

Jangan langsung mau membayar seluruh biaya hanya karena sudah mendaftar.

Menurut pengalaman dan pemahaman yang saya sampaikan, seharusnya ada proses yang dilalui terlebih dahulu.

Mulai dari pendaftaran, kemudian belajar atau pelatihan, setelah itu mengikuti tes atau proses seleksi pekerjaan.

Jadi, kalau ada proses yang langsung meminta calon peserta mendaftar kemudian membayar seluruh biaya tanpa melalui tahapan yang jelas, menurut saya kita harus berhati-hati.

Kita perlu memahami terlebih dahulu apa saja yang sebenarnya kita bayar dan pada tahap apa pembayaran tersebut dilakukan.

Pembayaran Setelah Mendapatkan Job

Dalam pengalaman yang saya ceritakan, pembayaran biaya dikaitkan dengan tahapan proses keberangkatan.

Saya menyebutkan bahwa ketika seseorang sudah mendapatkan pekerjaan, kemudian COE sudah turun dan visa sudah turun, barulah pembayaran biaya secara keseluruhan menjadi lebih masuk akal.

Tentu saja setiap LPK atau jalur keberangkatan bisa mempunyai aturan dan biaya yang berbeda.

Karena itu, jangan hanya melihat angka biayanya. Yang lebih penting adalah memahami proses kerja di Jepang dari awal sampai keberangkatan.

Berapa Biaya Kerja di Jepang?

Dalam video tersebut saya menyebutkan estimasi biaya sekitar Rp30 juta hingga Rp40 jutaan untuk wilayah Pulau Jawa.

Namun, angka tersebut merupakan estimasi yang saya sampaikan dalam pengalaman tersebut, bukan angka yang berlaku untuk semua LPK atau semua calon pekerja.

Untuk wilayah Sumatera, saya juga menyebutkan bahwa biayanya bisa berbeda dan menurut informasi yang saya dengar bisa lebih mahal.

Jadi, sebelum menyiapkan uang, sebaiknya calon pekerja meminta rincian biaya secara jelas.

Tanyakan:

  • Biaya pendaftaran berapa?

  • Biaya pelatihan berapa?

  • Biaya bahasa Jepang berapa?

  • Biaya pengurusan dokumen apa saja?

  • Biaya visa termasuk atau tidak?

  • Biaya keberangkatan termasuk atau tidak?

  • Kapan masing-masing biaya harus dibayarkan?

Dengan begitu, kita tidak hanya mengetahui jumlah akhirnya, tetapi juga memahami untuk apa uang tersebut digunakan.

Jangan Tergiur Berangkat Cepat dengan Visa Turis

Hal lain yang menurut saya sangat penting adalah jangan tergoda dengan tawaran berangkat cepat menggunakan visa pariwisata untuk kemudian mencari pekerjaan.

Memang, mungkin terlihat lebih cepat.

Tetapi dalam cerita saya, saya mengingatkan bahwa kalau seseorang masuk ke Jepang tanpa jalur kerja yang benar dan kemudian bekerja secara ilegal, masalah yang dihadapi bisa menjadi jauh lebih besar.

Karena itu, saya lebih memilih proses resmi meskipun membutuhkan waktu lebih lama.

Proses Resmi Memang Membutuhkan Waktu

Saya juga menjelaskan bahwa proses resmi untuk kerja di Jepang tidak selalu bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Dalam pengalaman yang saya ceritakan, proses paling cepat yang saya sebutkan berada di kisaran enam bulan sampai satu tahun.

Bagi sebagian orang, waktu tersebut mungkin terasa lama.

Apalagi kalau kita sudah sangat ingin berangkat ke Jepang.

Tetapi menurut saya, lebih baik bersabar selama prosesnya jelas daripada mengejar keberangkatan cepat tetapi akhirnya tidak memiliki status pekerjaan yang jelas.

Kenapa Saya Memilih Jalur Resmi?

Bagi saya, salah satu keuntungan dari jalur resmi adalah adanya pihak yang bertanggung jawab.

Ketika kita berada di Jepang melalui proses yang benar, kita tidak berangkat sendirian tanpa mengetahui harus meminta bantuan kepada siapa ketika mengalami masalah.

Saya juga menyampaikan bahwa jalur resmi dapat membuat proses ketika ingin berpindah pekerjaan menjadi lebih terarah dibandingkan jika seseorang berada di Jepang secara ilegal.

Itulah sebabnya saya selalu mengingatkan agar teman-teman tidak hanya memikirkan bagaimana caranya cepat sampai Jepang.

Pikirkan juga bagaimana kehidupan kita setelah sampai di sana.

Jangan Sampai Berangkat Secara Ilegal

Saya sangat menyarankan untuk menghindari jalur ilegal.

Ketika seseorang berada di Jepang tanpa status yang sesuai, risiko yang dihadapi tentu menjadi jauh lebih besar.

Dalam cerita saya, saya mengingatkan bahwa apabila sampai berurusan dengan polisi, seseorang bisa menghadapi masalah terkait pekerjaan dan status keberadaannya.

Jadi, menurut saya tidak sebanding antara keuntungan berangkat cepat dengan risiko yang mungkin muncul setelahnya.

Lebih baik belajar, mengikuti proses, menyiapkan dokumen, dan menunggu sampai semuanya benar-benar siap.

Saya Juga Mengalami Kekecewaan

Dalam video tersebut, saya juga menceritakan bahwa ada rencana pekerjaan lain yang ternyata tidak jadi dilakukan.

Saya sudah sempat mempersiapkan diri, tetapi akhirnya rencana tersebut batal.

Dari sini saya kembali belajar bahwa ketika kerja di Jepang, tidak semua rencana akan berjalan sesuai dengan yang kita bayangkan.

Kadang kita sudah mempersiapkan sesuatu, tetapi pada akhirnya ada perubahan.

Yang penting adalah bagaimana kita tetap menjalani proses dan mencari jalan yang benar.

Kesimpulan

Bagi saya, kerja di Jepang sebagai petani bisa menjadi pilihan bagi orang yang memang menyukai bidang pertanian dan ingin mendapatkan pengalaman bekerja di Jepang.

Namun, jangan hanya fokus pada keinginan untuk cepat berangkat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika menggunakan LPK.

Pastikan ada proses yang jelas mulai dari pendaftaran, pembelajaran, tes pekerjaan, sampai mendapatkan job dan menyelesaikan proses keberangkatan.

Jangan langsung membayar seluruh biaya tanpa mengetahui tahapannya.

Selain itu, jangan tergiur dengan tawaran berangkat cepat menggunakan jalur yang tidak sesuai.

Saya lebih memilih proses resmi meskipun membutuhkan waktu lebih lama. Dengan begitu, kita bisa mempersiapkan bahasa, dokumen, biaya, dan mental sebelum benar-benar berangkat.

Buat teman-teman yang ingin kerja di Jepang, terutama di bidang pertanian, persiapkan semuanya dengan matang.

Jangan terburu-buru.

Lebih baik berangkat melalui proses yang jelas dan resmi daripada cepat berangkat tetapi akhirnya menghadapi masalah.