Kerja di Jepang sebagai Petani: Jepang Punya Sawah, Tapi Kekurangan Petani
Kalau kita membayangkan Jepang, mungkin yang langsung terlintas adalah kota modern, kereta cepat, teknologi, anime, atau gedung-gedung tinggi.
Tapi Jepang juga memiliki hamparan sawah dan sektor pertanian yang masih sangat penting.
Masalahnya, ada sesuatu yang sedang berubah.
Sawah masih ada. Padi masih ditanam. Bibit masih harus dipindahkan, tanaman harus dirawat, dan ketika musim panen tiba, pekerjaan tetap harus dilakukan.
Namun, orang yang mengerjakannya semakin sedikit.
Kondisi inilah yang membuat kerja di Jepang sebagai petani menjadi salah satu pekerjaan yang menarik untuk dibahas, termasuk bagi pekerja dari Indonesia.
Jepang Mengalami Kekurangan Tenaga Kerja Pertanian
Dalam sumber yang saya bahas, data sensus pertanian Jepang tahun 2025 menunjukkan jumlah tenaga utama yang bekerja di sektor pertanian sekitar 1,021 juta orang.
Jumlah tersebut disebut turun 25,1% dibandingkan lima tahun sebelumnya.
Yang menarik, sekitar 70% dari penurunan tersebut berasal dari kelompok usia 65 tahun ke atas.
Artinya, persoalannya bukan hanya jumlah petani yang semakin sedikit, tetapi juga masalah regenerasi petani.
Petani yang sudah berusia lanjut semakin banyak yang berhenti, sementara generasi muda yang menggantikan mereka belum cukup banyak.
Ini menjadi tantangan besar bagi pertanian Jepang.
Petani Jepang Semakin Tua
Bayangkan seorang petani yang sudah puluhan tahun mengurus sawah keluarganya.
Setiap hari ia harus memperhatikan tanaman, mengatur air, memantau kondisi cuaca, sampai memastikan sawah tetap terawat.
Pekerjaan seperti ini tidak bisa begitu saja dihentikan hanya karena tenaga kerja sedang tidak tersedia.
Ketika waktunya menanam, tanaman harus ditanam.
Ketika waktunya panen, hasil pertanian harus dipanen.
Kalau tidak ada orang yang mengerjakannya, hasil pertanian juga bisa ikut terdampak.
Masalahnya semakin besar karena banyak anak muda Jepang memilih meninggalkan daerah pedesaan untuk melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan di kota.
Akibatnya, desa-desa kehilangan sebagian generasi produktifnya.
Sawah masih ada, tetapi orang yang mengelolanya semakin sedikit.
Rata-Rata Usia Tenaga Pertanian Sudah Tinggi
Dalam sumber tersebut juga disebutkan bahwa pada 2024 rata-rata usia tenaga utama pertanian Jepang sudah mencapai sekitar 69 tahun.
Sementara itu, kelompok tenaga pertanian berusia di bawah 49 tahun hanya sekitar 11%.
Angka tersebut menggambarkan betapa seriusnya persoalan regenerasi di sektor pertanian Jepang.
Bukan berarti Jepang tidak memiliki anak muda yang bekerja di pertanian sama sekali.
Namun, jumlahnya belum cukup untuk menggantikan tenaga kerja yang semakin menua.
Jepang Mulai Mengandalkan Teknologi
Untuk menghadapi masalah tersebut, Jepang tidak hanya mencari manusia tambahan.
Teknologi juga mulai digunakan dalam sektor pertanian.
Robot, mesin otomatis, sensor, dan teknologi berbasis data mulai dimanfaatkan untuk membantu mengurangi beban pekerjaan manusia.
Pemerintah Jepang juga mendorong konsep smart agriculture sebagai salah satu cara menghadapi berkurangnya tenaga kerja.
Tetapi menurut saya, teknologi tetap memiliki batas.
Mesin memang bisa membantu menanam, memanen, atau melakukan pekerjaan tertentu.
Namun, tetap ada manusia yang harus mengoperasikan, merawat, mengawasi, dan mengambil keputusan.
Jadi, teknologi tidak otomatis membuat manusia tidak diperlukan.
Lahan Pertanian Jepang Juga Mengalami Perubahan
Selain teknologi, struktur pertanian Jepang juga berubah.
Ketika jumlah petani kecil berkurang, lahan pertanian bisa dialihkan atau digabungkan ke pengelola yang lebih besar.
Dalam data sensus pertanian 2025 yang dibahas dalam sumber, jumlah usaha pertanian memang mengalami penurunan, tetapi luas lahan yang dikelola oleh setiap entitas cenderung semakin besar.
Bahkan, lahan yang dikelola oleh usaha pertanian dengan luas 20 hektare atau lebih disebut untuk pertama kalinya melewati setengah dari total lahan pertanian yang dikelola.
Artinya, masa depan pertanian Jepang bukan hanya tentang mencari petani baru.
Struktur pengelolaan pertaniannya sendiri sedang berubah.
Lalu Siapa yang Akan Menggarap Sawah Jepang?
Di sinilah tenaga kerja asing mulai memiliki peran.
Jepang semakin membuka ruang bagi pekerja asing untuk bekerja di sektor pertanian.
Data yang dibahas dalam sumber menyebutkan bahwa jumlah pekerja asing di sektor pertanian mencapai sekitar 58.000 orang pada 2024, meningkat sekitar 7.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, pekerja dengan status Specified Skilled Worker di bidang pertanian mencapai lebih dari 29.000 orang pada akhir 2024.
Jadi, ketika kita melihat pekerja Indonesia bekerja di ladang atau sawah Jepang, sebenarnya kita sedang melihat bagian dari perubahan yang lebih besar.
Peluang Kerja di Jepang untuk Orang Indonesia
Menurut saya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sektor pertanian Jepang menarik untuk diperhatikan oleh orang Indonesia yang ingin kerja di Jepang.
Jepang memiliki jalur resmi bagi pekerja asing untuk bekerja di bidang pertanian melalui skema Specified Skilled Worker.
Pekerjaannya juga bukan hanya menanam dan memanen.
Bidangnya dapat mencakup pengelolaan budidaya, pengumpulan, pengiriman, dan penyortiran hasil pertanian.
Jadi, kalau ada yang membayangkan kerja pertanian di Jepang hanya sebatas mencangkul atau menanam padi, sebenarnya cakupannya bisa lebih luas.
Ada berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan proses produksi sampai penanganan hasil pertanian.
Pekerja Indonesia Tidak Menggantikan Semua Petani Jepang
Menurut saya, penting juga untuk memahami persoalan ini dengan benar.
Masuknya pekerja Indonesia ke sektor pertanian Jepang bukan berarti seluruh petani Jepang akan digantikan oleh pekerja asing.
Persoalannya jauh lebih kompleks.
Jumlah pekerja lokal semakin terbatas, sementara pekerjaan pertanian tetap harus dilakukan.
Karena itu, pekerja asing menjadi salah satu bagian dari solusi yang digunakan Jepang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja.
Jadi, keberadaan pekerja Indonesia lebih tepat dilihat sebagai bagian dari perubahan struktur tenaga kerja di sektor pertanian Jepang.
Seperti Apa Rasanya Kerja di Pertanian Jepang?
Kalau membayangkan kerja di Jepang sebagai petani, jangan hanya membayangkan sisi menariknya.
Pekerjaan pertanian tetap membutuhkan tenaga fisik.
Ada pekerjaan yang dilakukan di bawah perubahan cuaca, ada masa panen yang lebih padat, dan ada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian.
Selain itu, pekerja asing juga harus beradaptasi dengan bahasa Jepang dan aturan kerja yang berlaku.
Jadi, bekerja di sektor pertanian Jepang bukan berarti pekerjaan yang mudah.
Tetapi bagi orang yang memang tertarik dengan bidang pertanian, pekerjaan ini bisa menjadi pengalaman yang berbeda.
Saya Harus Siap Belajar Hal Baru
Ketika bekerja di Jepang, saya tidak bisa berharap semua hal akan sama seperti di Indonesia.
Bahasanya berbeda.
Sistem kerjanya berbeda.
Cara menggunakan alat pertanian juga mungkin berbeda.
Bahkan ritme pekerjaan bisa berbeda.
Pekerja Indonesia yang datang ke Jepang harus mau belajar dan beradaptasi.
Namun, setelah terbiasa, kita mulai memahami ritme pekerjaan dan lingkungan sekitar.
Menurut saya, proses adaptasi inilah yang menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman kerja di Jepang.
Ada Pertukaran Pengetahuan antara Jepang dan Indonesia
Hal menarik lainnya adalah hubungan antara pekerja Indonesia dan petani Jepang tidak hanya sebatas hubungan antara pekerja dan pemberi kerja.
Ada proses belajar dari kedua belah pihak.
Pekerja Indonesia belajar mengenai sistem pertanian, cara bekerja, penggunaan alat, dan kebiasaan kerja di Jepang.
Di sisi lain, pekerja asing juga bisa membawa pengalaman dan cara kerja yang mereka miliki.
Dari interaksi sehari-hari tersebut, terjadi proses adaptasi dan pertukaran pengetahuan.
Kalau seseorang bekerja cukup lama di suatu daerah, ia bahkan bisa menjadi bagian dari komunitas tempatnya bekerja dan tinggal.
Masa Depan Pertanian Jepang Sedang Berubah
Menurut saya, persoalan petani Jepang yang semakin sedikit bukan hanya masalah tenaga kerja.
Ini juga merupakan masalah tentang bagaimana lahan pertanian akan diteruskan.
Sebagian lahan bisa dialihkan kepada petani lain.
Sebagian bisa dikelola perusahaan atau badan usaha.
Sebagian dapat dikerjakan dengan bantuan teknologi.
Namun, ada juga lahan yang berisiko tidak lagi dimanfaatkan jika tidak ada penerus.
Karena itu, Jepang sedang menghadapi perubahan besar dalam sektor pertaniannya.
Siapa yang Akan Menggarap Sawah Jepang?
Kalau pertanyaannya adalah siapa yang akan menggarap sawah Jepang di masa depan, jawabannya tidak hanya satu.
Sebagiannya masih akan dikerjakan oleh petani Jepang yang bertahan.
Sebagian mungkin dikelola oleh generasi muda yang memilih kembali ke sektor pertanian.
Sebagian lagi dapat dikelola perusahaan dengan lahan yang lebih luas.
Teknologi juga akan mengambil alih sebagian pekerjaan.
Sementara pekerjaan yang tetap membutuhkan tenaga manusia bisa semakin terbuka bagi pekerja asing.
Kesimpulan
Jepang memang dikenal sebagai negara maju dan memiliki teknologi pertanian yang semakin berkembang.
Tetapi di balik kemajuan tersebut, Jepang juga menghadapi persoalan serius: jumlah petani semakin berkurang dan usia tenaga pertanian semakin tua.
Kondisi ini membuat kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan.
Bagi orang Indonesia yang ingin kerja di Jepang, sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang memiliki jalur resmi bagi pekerja asing.
Namun, pekerjaan tersebut tetap membutuhkan kemampuan, kesiapan fisik, kemampuan bahasa, dan kemauan untuk beradaptasi.
Menurut saya, menariknya bukan sekadar karena Jepang kekurangan petani.
Yang lebih menarik adalah kita sedang melihat perubahan besar dalam cara pertanian Jepang dikelola.
Teknologi berkembang.
Lahan semakin terkonsentrasi pada pengelola yang lebih besar.
Dan pekerja dari berbagai negara, termasuk Indonesia, mulai menjadi bagian dari ekosistem pertanian Jepang.
Jadi, ketika melihat seorang pekerja Indonesia berdiri di tengah sawah Jepang, sebenarnya kita sedang melihat lebih dari sekadar seseorang yang sedang bekerja.
Kita sedang melihat bagaimana pertanian Jepang sedang beradaptasi menghadapi perubahan demografi dan kekurangan tenaga kerja.
