Kerja di Jepang sebagai Petani: Benarkah Gajinya Sampai Rp50 Juta?
Bekerja di bidang pertanian mungkin masih sering dianggap sebagai pekerjaan sederhana. Namun, bagaimana jika pekerjaan tersebut dilakukan di Jepang?
Bagi sebagian orang Indonesia, kerja di Jepang sebagai pekerja pertanian menjadi salah satu pilihan untuk mendapatkan pengalaman sekaligus penghasilan di luar negeri. Bahkan, ada anggapan bahwa pekerja pertanian di Jepang bisa mendapatkan gaji hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.
Benarkah demikian?
Dalam pengalaman seorang pekerja Indonesia yang menjadi sumber artikel ini, pekerjaan pertanian di Jepang ternyata jauh lebih beragam. Ia bekerja di area pertanian yang menggunakan greenhouse untuk menanam stroberi dan anggur, melakukan pembibitan, pemupukan, hingga pekerjaan pendukung lainnya.
Kerja di Jepang sebagai Petani Tidak Sesederhana yang Dibayangkan
Salah satu hal yang sering muncul ketika membahas kerja di Jepang adalah anggapan bahwa bekerja sebagai petani merupakan pekerjaan yang mudah.
Padahal, pekerjaan pertanian tetap membutuhkan tenaga, ketelitian, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi lingkungan.
Dalam pengalaman sumber artikel, pekerjaan yang dilakukan tidak hanya berhubungan dengan tanaman. Pekerja juga melakukan berbagai pekerjaan seperti menggulung plastik greenhouse, menyebarkan pupuk, membuat bibit, memotong besi, hingga mempersiapkan tempat penyimpanan bibit.
Artinya, pekerjaan yang dilakukan dapat berubah sesuai kebutuhan pertanian.
Seperti Apa Tempat Kerja Pertanian di Jepang?
Tempat kerja dalam pengalaman tersebut berada di wilayah pedesaan Fukuoka.
Lokasi tempat tinggal dan tempat kerja cukup berdekatan sehingga dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Lingkungan sekitar juga digambarkan sebagai daerah pedesaan dengan jumlah rumah yang relatif sedikit.
Tempat pertaniannya menggunakan beberapa greenhouse dengan ukuran yang berbeda.
Salah satu greenhouse bahkan dilengkapi berbagai fasilitas seperti CCTV dan jendela otomatis. Jendela tersebut dapat terbuka ketika kondisi panas dan tertutup ketika kondisi dingin.
Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan pertanian di Jepang tidak selalu identik dengan bertani secara tradisional di lahan terbuka.
Kerja di Greenhouse Bisa Sangat Panas
Meskipun Jepang dikenal memiliki musim dingin, bekerja di greenhouse tetap dapat terasa panas.
Dalam pengalaman pekerja tersebut, suhu di dalam salah satu greenhouse dapat terasa sangat tinggi. Bahkan greenhouse yang lebih kecil disebut terasa lebih panas dibandingkan greenhouse yang berukuran besar.
Kondisi tersebut tentu menjadi salah satu tantangan ketika kerja di Jepang di sektor pertanian.
Karena itu, pekerja membutuhkan perlengkapan yang dapat membantu menghadapi kondisi panas selama bekerja.
Jaket Kipas Menjadi Perlengkapan Penting
Salah satu perlengkapan yang digunakan dalam pengalaman tersebut adalah jaket kipas atau fan jacket.
Jaket ini memiliki kipas yang membantu mengalirkan udara ke tubuh ketika pekerja berada di lingkungan yang panas.
Pekerja tersebut mengatakan bahwa perlengkapan ini sangat membantu ketika bekerja di dalam greenhouse. Harga jaket kipas yang digunakannya disebut mencapai sekitar Rp2,8 juta hingga hampir Rp3 juta.
Ini menjadi salah satu contoh bahwa bekerja di pertanian juga membutuhkan perlengkapan kerja yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
Apa Saja Pekerjaan Petani di Jepang?
Pekerjaan yang dilakukan dalam pengalaman tersebut cukup beragam.
Beberapa di antaranya adalah:
1. Menggulung Plastik
Salah satu pekerjaan yang dilakukan adalah menggulung plastik yang digunakan dalam area greenhouse.
2. Memberikan Pupuk
Pekerja juga melakukan pekerjaan penyebaran pupuk pada area pertanian.
Dalam salah satu pekerjaan, lahan yang cukup luas dikerjakan oleh empat orang.
3. Membuat Bibit Stroberi
Pekerja juga terlibat dalam proses pembibitan stroberi.
Bibit dibuat dari bagian tanaman yang menjalar, kemudian diarahkan dan ditanam kembali ke dalam pot. Jadi, pembibitan tidak dilakukan dengan menanam biji.
4. Menyiapkan Tempat Penyimpanan Bibit
Tempat khusus untuk menyimpan bibit juga dipersiapkan agar kondisi pertumbuhan tanaman dapat dikontrol. Tempat tersebut dirancang menggunakan sistem seperti pendingin ruangan untuk membantu proses pertumbuhan bibit.
5. Merawat Tanaman Anggur
Selain stroberi, terdapat pula greenhouse yang digunakan untuk menanam anggur.
6. Pekerjaan Pendukung
Pekerjaan tidak selalu berkaitan langsung dengan tanaman. Dalam pengalaman tersebut, pekerja juga pernah memotong besi untuk kebutuhan konstruksi greenhouse.
Benarkah Gaji Kerja di Jepang sebagai Petani Rp50 Juta?
Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling menarik.
Banyak orang beranggapan bahwa pekerja pertanian di Jepang pasti mendapatkan penghasilan sekitar Rp50 juta per bulan.
Namun, pengalaman dalam sumber artikel justru menunjukkan bahwa gaji kerja di Jepang sebagai petani tidak selalu mencapai angka tersebut.
Narator secara langsung menjelaskan bahwa penghasilannya di tempat kerja tersebut tidak mencapai Rp30 juta, Rp40 juta, maupun Rp50 juta. Besarnya pendapatan juga dipengaruhi oleh lembur.
Jadi, anggapan bahwa semua petani atau pekerja pertanian di Jepang mendapatkan Rp50 juta tidak dapat dijadikan patokan.
Setiap pekerja dapat memiliki kondisi yang berbeda tergantung perusahaan, pekerjaan, jam kerja, lembur, dan berbagai faktor lainnya.
Gaji Rp50 juta bukan angka yang otomatis diterima oleh setiap orang yang kerja di Jepang sebagai petani.
Mengapa Ada Anggapan Petani Jepang Kaya?
Dalam pengalaman tersebut juga dibahas mengenai kondisi petani Jepang.
Narator menjelaskan bahwa hasil pertanian di Jepang memiliki nilai jual yang tinggi, terutama produk dengan kualitas yang baik. Buah seperti anggur dan produk pertanian lainnya dapat memiliki harga yang cukup tinggi di pasar.
Sumber tersebut juga menceritakan mengenai JA yang berperan dalam menyalurkan hasil pertanian dari petani ke pasar dan supermarket.
Menurut pengalaman narator, mekanisme tersebut membantu petani mendapatkan harga yang lebih baik dibandingkan jika hasil panen dijual kepada pembeli dengan harga yang sangat rendah.
Namun, kondisi pendapatan petani sebagai pemilik usaha pertanian tentu berbeda dengan pendapatan pekerja yang bekerja sebagai karyawan di pertanian.
Hal ini penting untuk dibedakan.
Kerja di Jepang sebagai Petani Bukan Berarti Menjadi Pemilik Pertanian
Ada perbedaan besar antara bekerja di pertanian Jepang dan menjadi pemilik usaha pertanian di Jepang.
Seorang pemilik lahan atau usaha pertanian mendapatkan pendapatan dari hasil produksi dan penjualan produk. Sementara pekerja menerima penghasilan berdasarkan sistem kerja yang berlaku di perusahaan atau tempat pertanian tersebut.
Karena itu, ketika melihat seorang petani atau pemilik usaha pertanian yang hidup berkecukupan, jangan langsung menyimpulkan bahwa semua pekerjanya mendapatkan penghasilan yang sama.
Pengalaman sumber artikel sendiri menunjukkan bahwa penghasilan pekerja tidak otomatis mencapai angka Rp50 juta.
Sering Diejek karena Kerja sebagai Petani
Menariknya, bekerja sebagai petani di Jepang ternyata tidak selalu mendapatkan pandangan positif dari orang lain.
Narator mengaku sering mendapatkan komentar seperti, "Jauh-jauh ke Jepang cuma untuk jadi petani."
Pada awalnya, komentar tersebut sempat mengganggu. Namun, lama-kelamaan ia memilih untuk tidak terlalu mempedulikannya karena tujuan utamanya adalah bekerja dan mencari penghasilan.
Bagi dirinya, pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang halal dan menjadi bagian dari usaha untuk membantu keluarga.
Ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan status sosial.
Tidak Semua Pekerjaan Harus Terlihat Mewah
Ketika seseorang bekerja di luar negeri, orang lain mungkin hanya melihat hasil akhirnya.
Misalnya, tinggal di Jepang, memiliki pengalaman bekerja di luar negeri, atau mendapatkan penghasilan dalam yen.
Namun, proses di baliknya bisa jauh berbeda.
Dalam pengalaman tersebut, pekerja harus menghadapi panas di greenhouse, pekerjaan fisik, tangan yang dapat mengalami lecet, serta berbagai pekerjaan tambahan yang harus dilakukan.
Karena itu, jika ingin kerja di Jepang, jangan memilih pekerjaan hanya berdasarkan bagaimana pekerjaan tersebut terlihat di media sosial.
Cari tahu bagaimana pekerjaan sebenarnya.
Lingkungan Kerja Didominasi Pekerja Indonesia
Dalam pengalaman yang dibagikan, terdapat empat orang pekerja dan semuanya berasal dari Indonesia.
Karena itu, komunikasi antarpekerja lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Jepang lebih banyak digunakan ketika berkomunikasi dengan pemilik atau atasan.
Kondisi seperti ini tentunya bisa berbeda dengan tempat kerja lainnya.
Ada perusahaan yang memiliki banyak pekerja asing, ada pula yang didominasi pekerja Jepang.
Karena itu, kemampuan bahasa Jepang tetap penting meskipun lingkungan kerja tertentu memiliki banyak pekerja Indonesia.
Jam Kerja dan Kedisiplinan
Kedisiplinan juga menjadi bagian dari pengalaman kerja di Jepang.
Dalam sumber tersebut, pekerja terbiasa sudah berada di tempat kerja sekitar 15 menit sebelum waktu mulai bekerja. Hal tersebut dilakukan agar tidak terlihat malas dan sebagai bentuk kedisiplinan.
Jam pulang juga dapat berbeda berdasarkan musim dan kondisi pekerjaan.
Dalam pengalaman tersebut, pekerja menyebutkan waktu pulang sekitar sore hari pada kondisi tertentu, sedangkan pada musim lainnya waktu kerja dapat berbeda.
Karena itu, calon pekerja perlu mengetahui jam kerja secara jelas sebelum menerima pekerjaan.
Kerja di Jepang Tidak Selalu Mudah
Pekerjaan pertanian memang memiliki sisi menarik, terutama bagi orang yang menyukai suasana pedesaan dan lingkungan yang dekat dengan alam.
Namun, tetap ada tantangan.
Pekerja dalam sumber tersebut mengaku pernah mengalami kondisi tangan melepuh ketika mengerjakan pekerjaan tertentu di greenhouse. Meski demikian, ia tetap merasa bersyukur karena pekerjaan yang diperoleh tidak terlalu berat dibandingkan beberapa kemungkinan pekerjaan pertanian lainnya.
Artinya, pengalaman setiap pekerja dapat berbeda.
Ada pekerjaan yang terasa ringan bagi seseorang, tetapi bisa terasa berat bagi orang lain.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Pengalaman Ini?
Ada beberapa pelajaran penting bagi orang yang ingin kerja di Jepang.
Pertama, jangan hanya mengejar angka gaji.
Kedua, jangan percaya bahwa semua pekerjaan di Jepang memberikan penghasilan yang sama.
Ketiga, pahami jenis pekerjaan sebelum berangkat.
Keempat, siapkan diri menghadapi kondisi kerja yang sebenarnya.
Kelima, jangan merasa rendah hanya karena bekerja di bidang pertanian.
Pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan halal tetap memiliki nilai.
Kesimpulan
Kerja di Jepang sebagai petani tidak selalu berarti mendapatkan gaji Rp50 juta per bulan.
Pengalaman yang menjadi sumber artikel ini justru menunjukkan bahwa penghasilan pekerja pertanian berbeda-beda dan dipengaruhi oleh kondisi tempat kerja serta lembur.
Pekerjaan pertanian di Jepang juga ternyata cukup beragam. Pekerja dapat melakukan pembibitan stroberi, merawat tanaman, memberikan pupuk, bekerja di greenhouse, mengurus tanaman anggur, hingga mengerjakan pekerjaan pendukung seperti memotong besi.
Jadi, jika Anda ingin kerja di Jepang, jangan hanya melihat nominal gaji atau kehidupan orang lain di media sosial.
Cari tahu pekerjaan sebenarnya, jam kerja, fasilitas, lingkungan kerja, dan penghasilan yang ditawarkan.
Dan yang tidak kalah penting, jangan merasa malu menjadi pekerja pertanian. Selama pekerjaan dilakukan dengan baik dan halal, pekerjaan tersebut tetap merupakan bentuk usaha untuk mencari penghasilan dan membangun kehidupan yang lebih baik.
