Kerja di Jepang sebagai Penerjemah Pengalaman Saya di Indonesia dan Jepang
Banyak orang mungkin membayangkan kerja di Jepang hanya sebatas bekerja di pabrik, restoran, pertanian, kaigo, atau bidang teknis lainnya. Padahal, ada banyak pekerjaan lain yang bisa dilakukan, salah satunya adalah menjadi penerjemah bahasa Jepang.
Saya sendiri punya pengalaman menjadi penerjemah dalam berbagai situasi. Saya pernah menjadi penerjemah secara sukarela ketika masih kuliah, bekerja sebagai penerjemah di perusahaan Jepang-Indonesia di Karawang, hingga menjalani pekerjaan part-time sebagai penerjemah di Jepang.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa menjadi penerjemah bukan pekerjaan yang mudah. Kita harus mampu memahami bahasa secara cepat dan menyampaikan kembali maksud pembicaraan dengan tepat.
Namun, justru karena tantangannya itulah pekerjaan ini menurut saya menarik.
Awal Saya Menjadi Penerjemah Bahasa Jepang
Pengalaman pertama saya menjadi penerjemah bahasa Jepang-Indonesia dimulai ketika saya masih kuliah di UGM.
Saat itu ada kegiatan mahasiswa yang melibatkan mahasiswa dari Jepang. Mereka datang untuk mengikuti kegiatan sukarelawan di suatu wilayah. Meskipun beberapa mahasiswa Indonesia mampu berbahasa Inggris dengan baik, mahasiswa Jepang tetap lebih nyaman menggunakan bahasa Jepang.
Karena itulah dibutuhkan orang yang bisa membantu menerjemahkan komunikasi antara mahasiswa Jepang dan Indonesia.
Saya kemudian ditawari oleh kakak tingkat untuk ikut menjadi sukarelawan sebagai penerjemah bahasa Jepang-Indonesia. Dari sinilah saya mulai mendapatkan pengalaman menerjemahkan secara langsung.
Awalnya saya merasa kemampuan bahasa Jepang saya belum cukup.
Bahkan, saya sempat mengalami mental down karena tidak memahami apa yang dibicarakan orang Jepang. Apalagi beberapa mahasiswa Jepang yang datang berasal dari Hiroshima dan memiliki dialek sendiri. Ketika mereka berbicara dengan cepat, saya cukup kesulitan memahaminya.
Padahal posisi saya saat itu adalah sebagai penerjemah.
Kemampuan Bahasa Jepang Saya Berkembang dari Pengalaman
Meskipun sempat kesulitan, saya tidak berhenti.
Kegiatan tersebut diadakan beberapa kali sehingga saya mendapatkan kesempatan untuk terus berlatih. Pada kegiatan pertama, saya diberikan bagian yang relatif lebih mudah. Ketika masuk ke bagian yang lebih rumit, saya masih belum mampu menerjemahkannya dengan baik sehingga kakak tingkat saya membantu.
Namun, dari kegiatan ke kegiatan, kemampuan saya mulai meningkat.
Saya juga terbantu karena berteman dengan banyak orang Jepang dan mahasiswa asing di UGM. Berinteraksi langsung dengan mereka membuat saya semakin terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa Jepang.
Bahkan setelah beberapa kali mengikuti kegiatan penerjemahan, saya pernah mendapatkan bayaran dari pihak UGM untuk membantu kegiatan penerjemahan lainnya.
Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa kemampuan bahasa tidak cukup hanya dipelajari dari buku. Berkomunikasi langsung dengan orang Jepang memberikan pengalaman yang berbeda.
Pernah Bekerja sebagai Penerjemah di Perusahaan Jepang-Indonesia
Setelah lulus dari UGM, saya kembali mendapatkan pengalaman sebagai penerjemah.
Kali ini saya bekerja sebagai interpreter di sebuah perusahaan joint venture Jepang-Indonesia yang berada di Karawang. Saya tinggal di Karawang selama sekitar enam bulan untuk menjalani pekerjaan tersebut.
Awalnya pekerjaan ini juga cukup berat.
Perusahaan tersebut bergerak di bidang manufaktur sehingga saya harus memahami bahasa dan kosakata yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Selain itu, beberapa orang Jepang yang bekerja di sana juga memiliki dialek yang cukup kuat.
Akibatnya, saya kembali mengalami kesulitan ketika pertama kali mulai bekerja.
Namun, setelah kurang lebih satu bulan, saya mulai terbiasa dengan bahasa dan kosakata yang digunakan di lingkungan kerja tersebut. Semakin lama saya semakin memahami pembicaraan dan bisa menjalankan pekerjaan sebagai penerjemah dengan lebih baik.
Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa setiap tempat kerja memiliki istilah dan kebiasaan bahasa yang berbeda.
Kerja sebagai Penerjemah Part-Time di Jepang
Selain pengalaman di Indonesia, saya juga pernah bekerja part-time sebagai penerjemah di Jepang.
Pekerjaan tersebut berada di call center dan melibatkan tiga bahasa, yaitu bahasa Jepang, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Namun, dalam praktiknya saya lebih sering menerjemahkan antara bahasa Jepang dan bahasa Inggris karena pelanggan yang menggunakan layanan tersebut lebih banyak berasal dari berbagai negara.
Pekerjaan penerjemah call center ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan.
Kita harus mendengarkan penjelasan dari pihak Jepang, kemudian menerjemahkannya ke bahasa Inggris. Setelah pelanggan menjawab dalam bahasa Inggris, saya harus menerjemahkannya kembali ke bahasa Jepang.
Artinya, satu percakapan harus melewati proses penerjemahan dua arah.
Karena itu, durasi percakapannya bisa menjadi lebih panjang.
Tantangan Menjadi Penerjemah Lewat Telepon
Salah satu tantangan terbesar menjadi penerjemah call center adalah kita tidak bisa melihat secara langsung orang yang sedang berbicara.
Kadang sinyal telepon kurang jelas. Selain itu, tidak semua pelanggan asing merupakan penutur asli bahasa Inggris. Orang Jepang juga terkadang berbicara terlalu cepat.
Belum lagi isi pembicaraannya bisa berbeda-beda.
Ada percakapan yang hanya membahas hal sederhana sehari-hari. Tetapi ada juga pembicaraan yang menggunakan istilah khusus yang jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada awalnya saya merasa pekerjaan tersebut cukup berat.
Namun, setelah mendapatkan pelatihan dan terbiasa dengan jenis percakapannya, pekerjaan menjadi lebih mudah. Saya juga menjadi semakin percaya diri ketika menerjemahkan.
Pengalaman di Tempat Kedua Membuat Saya Lebih Percaya Diri
Di Jepang, saya pernah bekerja di dua tempat yang berbeda.
Pengalaman di tempat pertama berlangsung lebih dari satu tahun. Karena sudah memiliki pengalaman tersebut, ketika masuk ke tempat kedua saya merasa lebih percaya diri.
Walaupun begitu, tempat kedua memiliki tuntutan yang berbeda. Saya harus menerjemahkan dengan tingkat ketepatan yang sangat tinggi dan terbiasa dengan jenis kosakata yang berbeda.
Jadi, meskipun sudah pernah menjadi penerjemah sebelumnya, saya tetap merasakan kesulitan ketika masuk ke lingkungan baru.
Dari sini saya belajar bahwa pengalaman memang sangat membantu, tetapi kita tetap harus siap belajar lagi ketika berpindah tempat kerja.
Menjadi Penerjemah Itu Seperti Mesin Bahasa
Menurut saya, pekerjaan penerjemah bukan pekerjaan yang mudah.
Kita seperti sebuah mesin yang harus mengubah satu bahasa ke bahasa lainnya secara spontan. Kita tidak punya banyak waktu untuk berpikir panjang karena percakapan terus berjalan.
Namun, di balik kesulitannya, pekerjaan ini juga sangat menyenangkan.
Saya pernah mendapatkan pengalaman menerjemahkan secara langsung di lapangan ketika mengikuti kegiatan di berbagai daerah. Saya juga pernah mendapatkan pekerjaan freelance di Jepang dari kenalan orang Jepang yang saya kenal ketika bekerja di Indonesia.
Dalam pekerjaan seperti itu, saya tidak hanya belajar bahasa.
Saya juga mendapatkan banyak pengetahuan baru dari topik yang sedang dibicarakan.
Banyak Hal Baru yang Saya Pelajari dari Pekerjaan Penerjemah
Salah satu hal yang saya sukai dari menjadi penerjemah adalah kesempatan untuk terus belajar.
Setiap pekerjaan bisa membawa kosakata baru. Topik pembicaraan juga bisa berbeda-beda. Hari ini mungkin saya menerjemahkan tentang pekerjaan, sementara di kesempatan lain saya bisa menemukan istilah atau informasi yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui.
Jadi, kemampuan penerjemah bukan hanya soal menghafal kosakata.
Kita juga perlu memiliki kemampuan memahami konteks.
Kalau hanya menerjemahkan kata demi kata, terkadang maksud sebenarnya bisa berbeda. Karena itu, semakin banyak pengalaman yang kita dapatkan, semakin banyak pula konteks yang bisa kita pahami.
Dari Pekerjaan Ini Saya Sadar Pentingnya Bahasa Jepang
Pengalaman menjadi penerjemah di Jepang juga membuat saya semakin menyadari bahwa kemampuan bahasa lokal sangat membantu kehidupan sehari-hari.
Saya bertemu dengan banyak orang asing yang tinggal di Jepang dan tetap bisa menjalani kehidupan meskipun kemampuan bahasa Jepangnya terbatas. Namun, menurut saya, kehidupan di Jepang akan terasa lebih mudah ketika kita mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang.
Tidak harus langsung fasih.
Setidaknya kita bisa memperkenalkan diri, menyampaikan nama, nomor telepon, alamat, dan menjelaskan kebutuhan dasar.
Kemampuan sederhana seperti itu sudah sangat membantu ketika berkomunikasi dengan orang Jepang, termasuk ketika harus menghubungi layanan tertentu.
Kalau Mau Kerja di Jepang, Belajar Bahasa Jepang
Bagi teman-teman yang ingin kerja di Jepang, menurut saya belajar bahasa Jepang merupakan salah satu persiapan yang penting.
Apalagi kalau pekerjaan yang ingin dilakukan berhubungan langsung dengan komunikasi.
Semakin baik kemampuan bahasa kita, semakin mudah pula kita memahami instruksi, berkomunikasi dengan rekan kerja, dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Pengalaman saya menjadi penerjemah juga menunjukkan bahwa kemampuan bahasa tidak langsung sempurna hanya karena sudah belajar sebelumnya.
Saya sendiri pernah merasa tidak mengerti ketika mendengar dialek orang Jepang. Saya juga pernah kesulitan memahami kosakata di perusahaan manufaktur dan kesulitan menerjemahkan percakapan melalui telepon.
Tetapi setelah sering berlatih, semuanya menjadi lebih terbiasa.
Peluang Kerja Penerjemah di Jepang
Dari pengalaman saya, pekerjaan penerjemah di Jepang tidak hanya terbatas pada pekerjaan full-time.
Ada kesempatan sebagai penerjemah part-time, freelance, maupun bekerja di perusahaan. Saya sendiri pernah merasakan beberapa bentuk pekerjaan tersebut, baik di Indonesia maupun ketika berada di Jepang.
Pekerjaan penerjemah juga bisa menggunakan kombinasi bahasa yang berbeda.
Dalam pengalaman saya, ada penerjemahan Jepang-Indonesia, Jepang-Inggris, maupun penerjemahan dalam konteks pekerjaan tertentu.
Karena itu, bagi yang mempunyai kemampuan bahasa Jepang dan ingin kerja di Jepang, bidang penerjemahan bisa menjadi salah satu pilihan yang dapat dipelajari.
Namun, tentu saja kemampuan bahasa harus terus ditingkatkan karena kebutuhan setiap pekerjaan berbeda.
Kesimpulan
Pengalaman saya sebagai penerjemah dimulai dari kegiatan sukarelawan ketika masih kuliah di UGM. Dari sana saya mulai belajar menerjemahkan bahasa Jepang dan Indonesia secara langsung.
Saya kemudian mendapatkan pengalaman bekerja sebagai interpreter di perusahaan joint venture Jepang-Indonesia di Karawang selama sekitar enam bulan. Setelah itu, saya juga pernah bekerja part-time sebagai penerjemah di Jepang, termasuk menerjemahkan bahasa Jepang dan Inggris melalui call center.
Semua pengalaman tersebut memiliki tantangan masing-masing.
Awalnya saya sering merasa kesulitan, terutama ketika menghadapi dialek, kosakata khusus, percakapan cepat, atau komunikasi melalui telepon. Namun, setelah terus berlatih dan mendapatkan pengalaman, saya menjadi lebih percaya diri.
Bagi saya, menjadi penerjemah bukan hanya tentang mengubah bahasa Jepang menjadi bahasa Indonesia atau sebaliknya. Pekerjaan ini juga membuat saya bertemu banyak orang, belajar berbagai istilah, memahami bidang pekerjaan yang berbeda, dan mendapatkan pengalaman baru.
Kalau teman-teman ingin kerja di Jepang, saya rasa belajar bahasa Jepang sejak awal akan sangat membantu. Tidak harus langsung sempurna. Yang penting terus berlatih dan berani menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan nyata.
Karena saya sendiri merasakan bahwa kemampuan bahasa Jepang saya berkembang justru ketika saya berani menggunakannya dan terus menghadapi situasi yang sebelumnya terasa sulit.
