Kerja di Jepang Saat Hujan Badai Pengalaman Saya Menjadi Petani
Banyak orang mungkin membayangkan kerja di Jepang hanya dilakukan ketika cuaca sedang bagus. Namun, pengalaman saya sebagai pekerja pertanian ternyata tidak selalu seperti itu.
Hari itu saya baru bangun dan melihat kondisi cuaca di luar sangat buruk. Hujan turun deras disertai angin kencang. Tetapi meskipun cuaca sedang seperti itu, saya tetap harus berangkat bekerja.
Sebagai petani, pekerjaan tidak selalu bisa menunggu sampai cuaca benar-benar cerah. Pada hari itu saya tetap harus berangkat ke lahan untuk melakukan panen.
Inilah salah satu pengalaman yang membuat saya semakin memahami bagaimana rasanya kerja di Jepang sebagai petani.
Berangkat Kerja Saat Hujan Badai
Pagi itu saya mempersiapkan diri sebelum berangkat.
Karena sedang musim panas tetapi hujan turun sangat deras, saya tidak menggunakan jaket khusus untuk menahan angin. Saya justru menggunakan perlengkapan yang lebih cocok untuk kondisi hujan.
Ketika keluar rumah, kondisi cuaca benar-benar tidak bersahabat.
Kaca kendaraan bahkan terlihat berembun dan hujan sudah turun sejak sebelumnya. Anginnya juga cukup kencang.
Namun, saya tetap berusaha semangat.
Bagaimanapun, pekerjaan harus tetap dilakukan.
Saya kemudian berangkat menuju tempat kerja untuk bertemu dengan teman-teman lainnya.
Sampai di Pabrik, Menunggu Teman
Sesampainya di pabrik, saya menunggu teman-teman yang lain datang.
Karena saya membuat video, saya berangkat lebih dulu dibandingkan teman-teman saya. Tidak lama kemudian, teman-teman mulai berdatangan meskipun mereka juga harus menerobos hujan.
Teman-teman saya berasal dari berbagai negara. Dalam pekerjaan tersebut saya bekerja bersama beberapa pekerja asal Myanmar.
Setelah semua berkumpul, kami menunggu bos datang untuk memberikan arahan mengenai lokasi panen hari itu.
Begitu bos datang, kami langsung bersiap berangkat ke lahan pertanian.
Pagi Hari Tidak Langsung di Pabrik
Pada hari itu, pagi hari kami tidak langsung bekerja di dalam pabrik.
Kami justru harus pergi ke lahan pertanian untuk melakukan panen terlebih dahulu.
Setelah hasil panen terkumpul, barulah kami membawanya kembali ke pabrik untuk diproses dan dikemas.
Jadi, alur pekerjaan saya pada hari itu cukup sederhana tetapi sangat menguras tenaga:
Lahan pertanian → panen → angkut hasil panen → pabrik → kemas.
Karena cuacanya sedang hujan deras, prosesnya menjadi jauh lebih sulit.
Panen di Tengah Hujan Deras
Saat sampai di lahan, hujan masih turun dengan deras.
Kami tetap melakukan pekerjaan seperti biasa.
Tanah dan lingkungan sekitar menjadi basah dan kotor. Pekerjaan yang biasanya mungkin terasa biasa saja menjadi lebih berat karena harus dilakukan dalam kondisi hujan dan angin.
Saya juga harus bolak-balik dari lahan menuju pabrik karena bertugas membawa hasil panen.
Jadi, bukan hanya memanen.
Saya juga harus memastikan hasil panen bisa segera dibawa ke pabrik.
Hari itu pekerjaan terasa sangat sibuk karena kondisi cuaca membuat proses pengangkutan menjadi lebih sulit.
Hasil Panen Dibawa ke Pabrik
Setelah hasil panen terkumpul, kami membawanya menggunakan kendaraan menuju pabrik.
Saat perjalanan dari lahan ke kendaraan, hujan masih sangat deras sehingga proses pengangkutan tidak sempat saya rekam.
Setelah sampai di pabrik, hasil panen kemudian dipersiapkan untuk dikemas.
Dalam satu kardus terdapat sekitar 25 buah produk. Setelah dikemas, hasil panen tersebut kemudian disimpan di dalam lemari pendingin.
Dari sini saya bisa melihat bahwa pekerjaan pertanian tidak hanya soal menanam dan memanen.
Setelah panen masih ada proses lain yang harus dilakukan agar hasil pertanian siap untuk disimpan atau dipasarkan.
Istirahat 15 Menit
Setelah bekerja sejak pagi, kami mendapatkan waktu istirahat.
Sekitar pukul 10, kami beristirahat selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu pekerjaan dilanjutkan kembali.
Karena cuaca sangat dingin akibat hujan dan pekerjaan cukup melelahkan, waktu istirahat tersebut cukup berarti.
Namun, setelah 15 menit selesai, kami harus kembali bekerja.
Tidak lama kemudian saya kembali menuju lahan untuk melakukan panen dan mengangkut hasilnya.
Harga Hasil Panen di Jepang
Ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika melihat hasil panen tersebut.
Dalam cerita saya, satu kemasan berisi empat buah memiliki harga sekitar Rp20.000 jika dikonversikan ke rupiah. Menurut saya, harga tersebut terasa cukup mahal jika dibandingkan dengan jumlah produknya.
Namun, saya tidak menjadikan angka tersebut sebagai patokan umum harga produk pertanian di Jepang karena harga tentu dapat berbeda tergantung jenis produk, lokasi, toko, dan kondisi pasar.
Yang saya ceritakan adalah apa yang saya lihat dan alami pada saat itu.
Siang Hari, Saatnya Salat Zuhur
Memasuki pukul 12 siang, kami mendapatkan waktu istirahat.
Bagi saya, waktu istirahat tersebut juga sangat pas karena bertepatan dengan waktu salat Zuhur.
Saya kemudian melaksanakan salat Zuhur terlebih dahulu sebelum makan. Setelah itu saya makan dan beristirahat. Total waktu istirahat siang yang saya dapatkan sekitar 50 menit sebelum kembali bekerja.
Menurut saya, kondisi seperti ini cukup membantu ketika bekerja di Jepang.
Ketika lokasi panen berada dekat rumah, kami bisa lebih mudah mencari tempat untuk beristirahat. Berbeda ketika lokasi panen jauh dari rumah, terkadang kami harus beristirahat di luar area kerja.
Setelah Istirahat, Kembali ke Pabrik
Setelah istirahat siang selesai, saya kembali bekerja.
Saat itu beberapa pekerja Jepang sudah pulang sehingga saya membantu pekerjaan di pabrik.
Jadi pekerjaan saya dalam satu hari tidak hanya berada di satu tempat.
Saya bisa berada di lahan pertanian untuk memanen, kemudian mengangkut hasil panen, lalu kembali ke pabrik untuk membantu proses berikutnya.
Menurut saya, inilah salah satu hal yang membuat pekerjaan pertanian terasa cukup dinamis.
Hujan Mulai Reda
Setelah bekerja cukup lama, akhirnya hujan mulai reda.
Pemandangan di sekitar lahan pertanian pun mulai terlihat lebih indah.
Sebelumnya suasana dipenuhi hujan, angin, dan kabut. Setelah hujan mereda, pemandangan menjadi lebih cerah meskipun anginnya masih cukup kencang.
Saya kemudian kembali melakukan pekerjaan mengangkut hasil panen.
Karena hasil panen di lahan sudah banyak, saya harus bolak-balik membawa hasilnya ke pabrik.
Begitulah pekerjaan saya hari itu.
Angkut dari lahan, bawa ke pabrik, kembali lagi ke lahan.
Terus berulang sampai pekerjaan selesai.
Bekerja Bersama Pekerja dari Myanmar
Salah satu hal yang saya sukai dari pekerjaan ini adalah saya tidak bekerja sendirian.
Saya bekerja bersama teman-teman dari Myanmar dan juga pekerja Jepang.
Kami saling membantu selama pekerjaan berlangsung.
Bekerja bersama orang dari negara yang berbeda juga memberikan pengalaman tersendiri bagi saya.
Meskipun kami memiliki bahasa dan latar belakang yang berbeda, kami tetap bisa bekerja bersama untuk menyelesaikan pekerjaan.
Menurut saya, pengalaman seperti ini merupakan salah satu bagian menarik dari menjadi pekerja asing di Jepang.
Tidak Ada Libur Saat Pekerjaan Harus Diselesaikan?
Judul pengalaman saya memang menggambarkan bagaimana rasanya bekerja ketika cuaca sedang buruk.
Namun, bukan berarti semua pekerjaan pertanian di Jepang selalu tidak memiliki libur atau pekerja selalu diwajibkan bekerja dalam kondisi apa pun.
Yang saya ceritakan adalah pengalaman saya pada hari tersebut.
Pada hari itu, meskipun hujan badai dan angin kencang, kami tetap berangkat karena ada pekerjaan panen yang harus dilakukan.
Jadi, bagi saya, pekerjaan pertanian memiliki tantangan yang berbeda dengan pekerjaan yang dilakukan di dalam ruangan.
Cuaca menjadi salah satu faktor yang sangat terasa.
Menjadi Petani di Jepang Tidak Selalu Mudah
Sebelum menjalani pekerjaan ini, mungkin orang hanya membayangkan petani bekerja di lahan, memanen hasil pertanian, lalu pulang.
Tetapi ketika menjalaninya sendiri, saya merasakan bahwa pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga dan ketahanan fisik.
Ketika cuaca bagus, pekerjaan mungkin terasa lebih mudah.
Namun ketika hujan turun deras, angin kencang, dan lahan menjadi basah, pekerjaan menjadi jauh lebih menantang.
Pada hari itu saya sendiri merasakan betapa sulitnya bekerja dalam kondisi hujan badai.
Akhirnya Waktu Pulang Tiba
Setelah bekerja dari pagi, bolak-balik antara lahan dan pabrik, akhirnya waktu pulang tiba.
Saya bersyukur pekerjaan hari itu bisa selesai dengan lancar meskipun cuacanya sangat buruk.
Menjelang pulang, angin masih cukup kencang, tetapi hujan sudah jauh lebih reda dibandingkan pagi hari.
Badan tentu terasa lelah.
Tetapi ada kepuasan tersendiri ketika melihat pekerjaan hari itu sudah selesai.
Saya datang pagi-pagi ketika hujan badai dan akhirnya pulang setelah seluruh pekerjaan selesai.
Pelajaran dari Kerja di Jepang sebagai Petani
Dari pengalaman kerja di Jepang sebagai petani ini, saya belajar bahwa setiap pekerjaan memiliki tantangan masing-masing.
Untuk pekerjaan pertanian, cuaca menjadi salah satu tantangan terbesar.
Kita harus siap menghadapi panas, hujan, angin, dan kondisi lahan yang berbeda-beda. Selain itu, pekerjaan juga membutuhkan kerja sama karena prosesnya tidak hanya berhenti pada panen.
Hasil panen harus diangkut ke pabrik, kemudian dikemas dan disimpan.
Saya juga belajar bahwa bekerja bersama orang dari berbagai negara membutuhkan kemampuan beradaptasi dan kerja sama.
Pada hari itu saya bekerja bersama orang Jepang dan teman-teman dari Myanmar. Kami memiliki latar belakang berbeda, tetapi tetap bisa menyelesaikan pekerjaan bersama.
Kesimpulan
Kerja di Jepang sebagai petani ternyata tidak selalu tentang suasana pedesaan yang tenang dan pemandangan indah.
Ada hari ketika saya harus bangun pagi dan berangkat bekerja dalam kondisi hujan badai.
Saya harus pergi ke lahan, memanen, membawa hasil panen ke pabrik, membantu proses pengemasan, kemudian kembali lagi ke lahan untuk mengambil hasil panen berikutnya.
Bahkan ketika hujan turun deras dan angin kencang, pekerjaan tetap harus dilakukan pada hari itu.
Namun, dari pengalaman tersebut saya mendapatkan banyak pelajaran.
Saya belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, kerja sama dengan orang dari berbagai negara, serta bagaimana beradaptasi dengan kondisi pekerjaan yang tidak selalu ideal.
Inilah salah satu cerita saya selama kerja di Jepang sebagai petani.
Bukan hanya tentang berapa banyak uang yang bisa didapat, tetapi juga tentang bagaimana menjalani pekerjaan, menghadapi tantangan, dan menyelesaikan tanggung jawab sampai akhirnya waktu pulang tiba.
