Kerja di Jepang Misteri Satu Meja yang Tidak Boleh Diduduki
Bekerja di Jepang ternyata tidak selalu hanya tentang pekerjaan, gaji, dan kehidupan sehari-hari. Ada juga cerita-cerita unik yang mungkin sulit kita temui di tempat lain.
Salah satunya adalah pengalaman saya ketika kerja di Jepang dan menemukan satu meja di kantor yang terlihat biasa saja, tetapi ternyata tidak boleh digunakan oleh siapa pun.
Meja tersebut berada tepat di tengah area kerja. Lengkap dengan monitor, keyboard, tempat minum, beberapa buku, bahkan masih terdapat nama pemiliknya. Namun yang membuat saya heran, selama berbulan-bulan tidak pernah ada satu orang pun yang duduk dan bekerja di meja tersebut.
Awalnya saya mengira pemilik meja sedang cuti atau tidak masuk kerja untuk sementara.
Ternyata, ceritanya jauh lebih rumit.
Saya Menemukan Satu Meja Kosong di Kantor
Ketika pertama kali masuk ke perusahaan tersebut, saya langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Kantornya tidak terlalu besar. Dalam satu lantai terdapat sekitar 40 sampai 50 orang. Tetapi di tengah-tengah area kerja terdapat satu meja yang selalu kosong.
Yang membuat saya semakin penasaran, meja tersebut bukan meja rusak atau meja cadangan.
Semuanya masih lengkap.
Ada monitor, keyboard, tempat untuk minum, beberapa buku, bahkan nameplate yang menunjukkan nama seseorang.
Saya kemudian memperhatikan meja itu selama beberapa waktu.
Seminggu berlalu.
Sebulan.
Tiga bulan.
Bahkan sampai enam bulan.
Tidak ada seorang pun yang menggunakan meja tersebut.
Anehnya lagi, cleaning staff tetap membersihkan meja itu seperti meja karyawan lainnya. Kadang ada dokumen internal yang diletakkan di sana.
Saya semakin penasaran, sebenarnya meja itu milik siapa?
Ketika Saya Bertanya kepada Rekan Kerja
Karena penasaran, akhirnya saya bertanya kepada salah satu rekan kerja.
Saya bertanya kurang lebih, “Ini meja siapa? Kenapa kosong terus?”
Jawaban yang saya dapat justru membuat saya semakin bingung.
Dia hanya mengatakan bahwa meja tersebut memang sudah lama kosong.
Ketika saya bertanya lebih jauh, jawabannya kurang lebih, “I don't know, man. It's complicated.”
Bagi saya, jawaban seperti itu justru semakin mencurigakan.
Kalau memang hanya meja kosong biasa, seharusnya tidak perlu ada jawaban yang terlihat enggan untuk menjelaskan.
Saya akhirnya memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
Ada Karyawan Baru yang Ingin Menggunakan Meja Itu
Sekitar enam bulan kemudian, perusahaan menerima cukup banyak karyawan baru.
Meja-meja mulai penuh.
Kemudian ada seorang karyawan baru yang melihat meja kosong tersebut dan meminta izin kepada supervisor untuk menggunakannya.
Alasannya sebenarnya masuk akal.
Posisinya strategis karena dekat jendela, dekat printer, dan memiliki banyak colokan listrik.
Namun respons supervisor justru sangat tegas.
“No, no, no. Enggak boleh. Jangan pakai meja itu.”
Karyawan baru tersebut tentu bertanya kenapa.
Tetapi tidak mendapatkan penjelasan yang jelas.
Akhirnya, perusahaan mengambil meja tambahan dari lantai lain untuk diberikan kepada karyawan tersebut.
Di sinilah saya mulai merasa bahwa meja tersebut memang bukan meja biasa.
Kenapa Semua Orang Terlihat Tidak Nyaman?
Sebagai orang Indonesia yang bekerja di Jepang, saya merasa situasi ini cukup aneh.
Saya mulai berpikir macam-macam.
Jangan-jangan pemilik meja tersebut sudah meninggal.
Atau mungkin ada cerita tertentu yang membuat orang-orang di kantor tidak mau membahasnya.
Yang membuat saya semakin penasaran adalah sikap beberapa karyawan Jepang yang lebih senior.
Ketika masalah meja tersebut dibicarakan, mereka terlihat tidak nyaman.
Mereka seperti menghindari pembicaraan mengenai meja tersebut.
Saya pun semakin ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Saya Akhirnya Mendapat Jawabannya
Suatu hari saya menjadi cukup dekat dengan seorang rekan kerja yang usianya sekitar 10 sampai 11 tahun lebih tua daripada saya.
Dia sudah bekerja di perusahaan tersebut selama belasan tahun.
Menurut saya, orang seperti ini pasti mengetahui banyak hal mengenai sejarah perusahaan dan orang-orang yang pernah bekerja di sana.
Suatu malam kami pergi minum bersama di sebuah bar.
Dalam suasana yang lebih santai, saya akhirnya memberanikan diri bertanya mengenai meja tersebut.
Awalnya dia juga tidak mau menjawab.
Tetapi setelah suasana semakin santai, akhirnya dia mulai menceritakan sedikit demi sedikit.
Ternyata Meja Itu Milik Tanaka-san
Nama pemilik meja tersebut kita sebut saja Tanaka-san.
Menurut cerita rekan kerja saya, Tanaka-san sudah bekerja di perusahaan tersebut hampir 20 tahun.
Dia dikenal sebagai karyawan yang sangat berdedikasi.
Datang paling pagi.
Pulang paling malam.
Bahkan terkadang masih masuk pada akhir pekan.
Dia digambarkan sebagai salah satu karyawan paling senior dan sangat loyal terhadap perusahaan.
Tetapi kemudian terjadi sesuatu yang mengubah hidupnya.
Tanaka-san Mengalami Kejadian Serius
Beberapa tahun sebelum saya bergabung dengan perusahaan tersebut, Tanaka-san mengalami kondisi serius ketika sedang dalam perjalanan pulang.
Dia mengalami kejadian tersebut di sebuah stasiun dan kemudian dibawa ke rumah sakit.
Menurut cerita yang saya dengar, sejak saat itu dia mengalami koma.
Di sinilah saya awalnya berpikir bahwa perusahaan sengaja mempertahankan meja tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada seorang karyawan yang sudah bekerja selama puluhan tahun.
Tetapi ternyata alasannya bukan sesederhana itu.
Status Tanaka-san Masih Tercatat sebagai Karyawan
Hal yang membuat cerita ini semakin rumit adalah Tanaka-san ternyata masih tercatat secara resmi sebagai karyawan perusahaan.
Padahal menurut cerita tersebut, dia sudah bertahun-tahun tidak datang ke kantor.
Namanya masih muncul dalam daftar karyawan.
Bahkan beberapa dokumen internal masih mencantumkan namanya.
Rekan kerja saya juga mengatakan bahwa beberapa benefit tertentu masih berjalan untuknya.
Saya kemudian bertanya:
“Kenapa perusahaan tidak memutus kontraknya saja?”
Jawaban yang saya dapat membuat cerita ini semakin gelap.
Ada Masalah dengan Jam Kerja
Menurut cerita rekan kerja saya, sebelum mengalami kejadian tersebut, Tanaka-san beberapa kali sudah menyampaikan keluhan secara tertulis mengenai jam kerja.
Dia disebut menyimpan berbagai bukti, seperti email, catatan lembur, percakapan dengan atasan, dan dokumentasi lainnya.
Yang paling serius adalah adanya dugaan bahwa dia beberapa kali diminta melakukan clock out terlebih dahulu, kemudian melanjutkan bekerja sampai malam, sehingga waktu kerja tambahan tersebut tidak tercatat sebagai lembur.
Saya tentu tidak mengetahui langsung apakah semua cerita tersebut benar karena saya hanya mendapatkannya dari rekan kerja.
Tetapi kalau memang benar, hal tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam hubungan kerja yang perlu diperhatikan.
Kenapa Perusahaan Tetap Mempertahankan Statusnya?
Menurut cerita yang saya dengar, ada kesepakatan antara perusahaan dan keluarga Tanaka-san.
Selama Tanaka-san masih hidup, statusnya sebagai karyawan tetap dipertahankan.
Beberapa benefit tertentu tetap berjalan dan keluarganya masih mendapatkan bantuan biaya.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, keluarganya disebut tidak membawa persoalan tersebut lebih jauh.
Dari situlah saya akhirnya memahami mengapa meja tersebut tidak pernah dipindahkan.
Secara teknis, meja itu bukan benar-benar meja kosong.
Meja tersebut masih dianggap sebagai tempat seorang karyawan yang statusnya masih tercatat di perusahaan.
Kenapa Tidak Ada yang Berani Duduk?
Kalau melihat ceritanya dari sisi tersebut, akhirnya saya memahami kenapa tidak ada orang yang berani menggunakan meja tersebut.
Bukan karena mejanya angker.
Bukan juga karena ada aturan tertulis bahwa meja tersebut tidak boleh digunakan.
Setidaknya berdasarkan cerita yang saya dengar, meja itu sengaja dibiarkan karena masih berkaitan dengan status Tanaka-san sebagai karyawan.
Namanya masih ada.
Mejanya masih ada.
Bahkan laptopnya juga masih berada di sana.
Sementara orangnya sendiri sudah bertahun-tahun tidak pernah datang ke kantor.
Pelajaran dari Cerita Ini
Bagi saya, cerita ini bukan sekadar tentang satu meja kosong.
Ada sisi lain yang menurut saya lebih penting, yaitu bagaimana seseorang yang sudah puluhan tahun bekerja bisa berada dalam kondisi kerja yang sangat berat.
Tanaka-san digambarkan sebagai orang yang sangat loyal kepada perusahaan. Namun di sisi lain, menurut cerita tersebut, dia juga pernah mengeluhkan jam kerja yang tidak masuk akal.
Cerita ini membuat saya berpikir bahwa ketika kerja di Jepang, jangan hanya melihat sisi positif seperti gaji, fasilitas, atau pengalaman tinggal di luar negeri.
Kita juga harus memperhatikan kondisi tempat kerja.
Jangan Hanya Melihat Gaji Saat Kerja di Jepang
Ketika seseorang mencari informasi tentang kerja di Jepang, biasanya yang pertama ditanyakan adalah:
“Gajinya berapa?”
Menurut saya, itu memang penting.
Tetapi bukan satu-satunya hal yang harus diperhatikan.
Kita juga perlu mengetahui:
Bagaimana jam kerja sebenarnya?
Bagaimana sistem lembur?
Apakah lembur dicatat dengan benar?
Bagaimana hubungan dengan atasan?
Bagaimana kondisi lingkungan kerja?
Apa saja hak dan kewajiban yang tertulis dalam kontrak?
Siapa yang bisa dihubungi jika terjadi masalah?
Saya semakin memahami pentingnya hal-hal tersebut setelah mendengar cerita mengenai meja Tanaka-san ini.
Kesimpulan
Cerita tentang satu meja yang tidak boleh diduduki di sebuah perusahaan Jepang ternyata memiliki latar belakang yang jauh lebih rumit daripada yang saya bayangkan.
Awalnya saya hanya melihat meja kosong yang lengkap dengan monitor, keyboard, buku, dan nameplate. Selama berbulan-bulan tidak ada seorang pun yang menggunakannya. Bahkan ketika ada karyawan baru yang ingin menempatinya, supervisor langsung melarang.
Belakangan, saya mendengar cerita bahwa meja tersebut milik seorang karyawan bernama Tanaka-san yang sudah bekerja di perusahaan tersebut selama hampir 20 tahun.
Menurut cerita yang saya dengar, Tanaka-san mengalami kondisi serius dalam perjalanan pulang dan kemudian mengalami koma. Namun namanya masih tetap tercatat sebagai karyawan perusahaan dan keluarganya masih menerima beberapa bentuk bantuan.
Cerita tersebut juga memuat dugaan mengenai masalah jam kerja dan pencatatan lembur yang pernah dikeluhkan Tanaka-san. Karena informasi ini berasal dari cerita seorang rekan kerja, saya tidak bisa memastikan kebenarannya secara independen.
Bagi saya, hal terpenting dari cerita ini adalah bahwa ketika kerja di Jepang, kita tidak cukup hanya mempersiapkan kemampuan bahasa, dokumen, dan biaya keberangkatan.
Kita juga harus memahami pekerjaan yang akan dijalani, membaca kontrak dengan teliti, dan mengetahui bagaimana sistem jam kerja serta lembur di perusahaan tersebut.
Karena pada akhirnya, bekerja di luar negeri bukan hanya tentang berapa banyak uang yang bisa kita dapatkan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani pekerjaan tersebut dengan aman dan baik.
