Kerja di Jepang Lewat Jalur Mandiri Gaji, Biaya, dan Pengalaman Saya
Banyak orang yang ingin kerja di Jepang biasanya bertanya, “Bang, bagaimana cara berangkat ke Jepang?” atau “Kalau lewat jalur mandiri, apa saja yang harus disiapkan?”
Saya sendiri sudah beberapa kali pergi ke Jepang untuk bekerja. Karena itu, kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai bagaimana saya bisa berangkat ke Jepang melalui jalur mandiri, mulai dari persiapan ujian, proses keberangkatan, sampai sedikit cerita mengenai gaji yang saya terima.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pengalaman saya pasti sama dengan pengalaman semua orang. Ini murni pengalaman yang saya jalani dan bisa menjadi gambaran bagi teman-teman yang sedang mencari informasi tentang kerja di Jepang.
Saya Berangkat ke Jepang Lewat Jalur Mandiri
Kalau ditanya bagaimana saya bisa berangkat ke Jepang, saya menggunakan jalur mandiri.
Saya menggunakan bantuan pihak yang saya sebut TSK untuk mempertemukan saya dengan perusahaan yang membutuhkan pekerja. Jadi, ada pihak ketiga yang membantu proses mempertemukan calon pekerja dengan perusahaan di Jepang.
Bagi saya, jalur seperti ini menarik karena saya tidak menggunakan jalur magang seperti sebelumnya.
Saya pertama kali ke Jepang pada tahun 2019 untuk mengikuti program magang selama tiga tahun. Setelah menyelesaikan masa magang tersebut, saya kemudian kembali menggunakan visa pekerja Tokutei Ginou.
Jadi, pengalaman saya di Jepang bukan hanya sekali. Saya sudah beberapa kali datang untuk bekerja dan pada kesempatan berikutnya menggunakan status pekerja, bukan lagi sebagai peserta magang.
Apa yang Harus Disiapkan untuk Kerja di Jepang?
Kalau ingin menggunakan jalur mandiri seperti yang saya jalani, tentunya ada beberapa hal yang harus dipersiapkan.
Salah satunya adalah kemampuan bahasa Jepang dan sertifikasi yang diperlukan.
Dalam pengalaman saya, calon pekerja perlu mengikuti ujian bahasa Jepang seperti JFT serta ujian keterampilan SSW sesuai bidang pekerjaan yang dipilih.
Jadi, jangan berpikir bahwa cukup bisa bahasa Jepang sedikit kemudian langsung bisa berangkat.
Ada proses yang harus dilewati terlebih dahulu.
Pengalaman Saya Setelah Pernah Magang di Jepang
Saya sebelumnya sudah pernah menjalani magang selama tiga tahun di Jepang.
Ketika mengikuti program tersebut, bidang pekerjaan saya adalah pabrik pengolahan makanan.
Setelah itu, ketika kembali ke Jepang, saya mengambil pekerjaan di bidang pertanian.
Nah, karena bidang pekerjaan saya berubah, sertifikasi keterampilan dari pekerjaan sebelumnya tidak bisa begitu saja digunakan untuk bidang pertanian.
Karena itu, saya tetap harus mengikuti ujian keterampilan SSW untuk bidang pertanian.
Ini menurut saya menjadi hal yang penting untuk diketahui.
Kalau seseorang sudah pernah bekerja di Jepang dalam bidang tertentu, jangan langsung menganggap semua sertifikasi yang pernah dimiliki otomatis berlaku untuk pekerjaan yang berbeda.
Bagaimana Kalau Belum Pernah ke Jepang?
Bagi teman-teman yang belum pernah bekerja di Jepang dan baru ingin memulai, persiapannya tentu harus dilakukan dari awal.
Dalam pengalaman yang saya ceritakan, salah satu jalurnya adalah mengikuti ujian bahasa Jepang dan ujian keterampilan sesuai bidang pekerjaan yang ingin diambil.
Artinya, kalau dari awal ingin kerja di Jepang, sebaiknya tentukan dulu bidang pekerjaan yang ingin dituju.
Setelah itu, cari tahu persyaratan yang diperlukan dan mulai mempersiapkannya.
Jangan sampai sudah belajar bahasa Jepang tetapi belum menentukan bidang pekerjaan. Atau sebaliknya, sudah menentukan pekerjaan tetapi belum mempersiapkan sertifikasi keterampilannya.
Biaya Keberangkatan yang Saya Jalani
Salah satu hal yang cukup menarik dari pengalaman saya adalah mengenai biaya keberangkatan.
Dalam jalur yang saya gunakan, saya menyampaikan bahwa biaya keberangkatan dari pihak saya tidak dipungut biaya. Menurut pengalaman saya, biaya keberangkatan tersebut ditanggung oleh perusahaan.
Tetapi saya tetap harus mengurus beberapa dokumen dan kebutuhan pribadi.
Beberapa hal yang saya urus antara lain:
Paspor.
Medical check-up atau MCU.
Visa.
Dokumen administrasi keberangkatan lainnya.
Untuk tiket pesawat dalam pengalaman saya, biaya ditanggung oleh perusahaan.
Namun, saya tetap menyarankan teman-teman untuk mencari informasi secara langsung mengenai jalur yang akan digunakan karena ketentuan dan biaya bisa berbeda pada setiap proses keberangkatan.
Gaji Kerja di Jepang Tidak Selalu Sama
Selain proses keberangkatan, tentu banyak yang penasaran dengan gaji kerja di Jepang.
Saya sendiri ingin menunjukkan bahwa gaji tidak selalu sebesar angka yang sering kita lihat di media sosial.
Dalam video tersebut, saya juga menunjukkan slip gaji dari pekerjaan saya di Indonesia. Jumlahnya berada di kisaran Rp3–4 jutaan berdasarkan perhitungan yang saya sampaikan saat itu. Namun, pekerjaan tersebut baru saya jalani selama lima hari dan jam kerjanya juga belum penuh delapan jam setiap hari.
Saya menyampaikan angka tersebut bukan untuk mengatakan bahwa bekerja di Indonesia lebih baik atau lebih buruk.
Saya hanya ingin menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai rezeki dan kondisi pekerjaan yang berbeda.
Jangan Hanya Melihat Gaji Kotor
Ketika membahas kerja di Jepang, menurut saya salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah hanya melihat angka gaji kotor.
Misalnya seseorang melihat informasi bahwa ada pekerja yang mendapatkan gaji 300 ribu yen.
Angka tersebut belum tentu menjadi uang yang masuk sepenuhnya ke rekening.
Dalam pengalaman saya, ada beberapa jenis potongan yang perlu diperhitungkan, seperti asuransi, pajak pendapatan, asuransi ketenagakerjaan, dan iuran pensiun.
Karena itu, menurut saya ketika mencari informasi gaji di Jepang, jangan hanya bertanya:
“Gajinya berapa?”
Tetapi tanyakan juga:
“Setelah dipotong, berapa uang yang benar-benar diterima?”
Itu jauh lebih penting untuk menghitung kemampuan menabung.
Ada Potongan Asuransi dan Pajak
Selama bekerja di Jepang, saya juga memahami bahwa penghasilan yang terlihat besar belum tentu semuanya bisa langsung digunakan.
Ada kewajiban yang berkaitan dengan asuransi kesehatan dan berbagai potongan lainnya.
Untuk asuransi kesehatan, menurut pengalaman saya, hal tersebut penting karena kita tidak pernah tahu kapan sakit atau mengalami kejadian yang tidak diinginkan.
Saya sendiri menganggap asuransi sebagai salah satu bentuk perlindungan ketika bekerja jauh dari Indonesia.
Karena itu, ketika menghitung gaji bersih, saya tidak hanya melihat nominal gaji kotor.
Saya juga memperhatikan berapa potongan yang dikenakan setiap bulan.
Jangan Membandingkan Penghasilan Secara Mentah
Dari pengalaman saya, setiap orang bisa mempunyai kondisi yang berbeda.
Ada orang yang mendapatkan gaji lebih besar, tetapi potongannya juga lebih besar.
Ada juga orang yang gajinya terlihat lebih kecil, tetapi biaya tertentu yang harus dikeluarkan juga berbeda.
Jadi menurut saya, jangan langsung membandingkan:
Gaji Jepang vs gaji Indonesia.
Lebih baik bandingkan secara lengkap:
Gaji kotor.
Gaji bersih.
Potongan pajak.
Asuransi.
Biaya tempat tinggal.
Biaya makan.
Transportasi.
Lembur.
Bonus.
Jumlah uang yang benar-benar bisa ditabung.
Dengan begitu, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih realistis.
Kerja di Jepang Bukan Berarti Jalan-Jalan
Satu hal yang selalu saya tekankan adalah bahwa pergi ke Jepang untuk bekerja berarti memang harus siap bekerja.
Jangan membayangkan Jepang hanya dari sisi jalan-jalan, kota yang bagus, atau kehidupan yang terlihat menarik di media sosial.
Saya sendiri pergi ke Jepang untuk bekerja.
Ada tanggung jawab, ada pekerjaan, ada target, dan tentunya ada berbagai hal yang harus dijalani ketika tinggal jauh dari Indonesia.
Karena itu, sebelum memutuskan untuk kerja di Jepang, saya menyarankan agar benar-benar mempersiapkan diri, baik dari bahasa, keterampilan, dokumen, maupun mental.
Pengalaman Saya Bisa Menjadi Gambaran, Bukan Patokan
Saya membagikan pengalaman ini supaya teman-teman yang sedang mencari informasi mengenai kerja di Jepang mempunyai gambaran mengenai proses yang pernah saya jalani.
Saya sudah pernah mengikuti magang selama tiga tahun, kemudian kembali ke Jepang menggunakan status pekerja dan menjalani bidang pekerjaan yang berbeda.
Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa proses setiap orang bisa berbeda.
Jadi, jangan hanya mengikuti cerita seseorang tanpa memahami kondisi dan jalur yang digunakan.
Cari tahu persyaratan pekerjaan yang dituju, pahami kontrak, dan hitung penghasilan bersih setelah semua potongan.
Kesimpulan
Pengalaman kerja di Jepang lewat jalur mandiri yang saya jalani dimulai dari persiapan ujian, mencari perusahaan, mengurus dokumen, medical check-up, visa, hingga keberangkatan.
Saya menggunakan bantuan pihak yang mempertemukan saya dengan perusahaan, sementara beberapa dokumen pribadi tetap harus saya urus sendiri. Dalam pengalaman saya, biaya keberangkatan dan tiket pesawat ditanggung oleh perusahaan.
Saya juga belajar bahwa ketika membicarakan gaji kerja di Jepang, jangan hanya melihat nominal gaji kotor.
Ada berbagai potongan seperti pajak dan asuransi yang harus diperhitungkan. Karena itu, yang lebih penting adalah mengetahui berapa gaji bersih yang benar-benar diterima dan berapa yang bisa disisihkan sebagai tabungan.
Bagi teman-teman yang sedang berencana kerja di Jepang, persiapkan semuanya dengan baik. Pelajari bahasa Jepang, tentukan bidang pekerjaan, siapkan sertifikasi yang diperlukan, pahami proses keberangkatan, dan jangan lupa menghitung kondisi keuangan secara realistis.
Saya membagikan pengalaman ini bukan untuk mengatakan bahwa jalur saya adalah satu-satunya cara, tetapi supaya teman-teman mempunyai gambaran dari pengalaman nyata yang pernah saya jalani.
