Kerja di Jepang: Kesalahan Terbesar Saya dan Alasan Berhenti Setelah 1 Bulan
Ketika memutuskan untuk kerja di Jepang, saya membayangkan akan bekerja sesuai dengan bidang yang sudah dijanjikan sejak awal. Saya sudah mempersiapkan diri, mengurus berbagai dokumen, sampai akhirnya berangkat ke Jepang.
Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan yang saya bayangkan.
Saya justru mendapatkan pengalaman yang membuat saya harus mempertimbangkan untuk pindah perusahaan meskipun baru sekitar satu bulan bekerja. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa memilih perusahaan saat akan kerja di Jepang tidak boleh dilakukan secara terburu-buru.
Saya ingin menceritakan pengalaman ini supaya orang yang sedang mempersiapkan diri untuk kerja di Jepang bisa lebih berhati-hati.
Awalnya Saya Mendapatkan Pekerjaan dari Facebook
Perjalanan saya bermula ketika menemukan lowongan pekerjaan melalui Facebook.
Saat itu perusahaan tersebut memang sedang membutuhkan tenaga kerja. Dari sekitar sembilan orang yang mendaftar, saya menjadi satu-satunya orang yang dinyatakan lulus.
Setelah proses pengurusan selesai, saya akhirnya berangkat ke Jepang.
Awalnya saya tentu merasa senang karena berhasil mendapatkan kesempatan untuk kerja di Jepang. Saya juga sudah memiliki gambaran mengenai pekerjaan yang akan saya lakukan.
Namun, setelah sampai di Jepang, ternyata ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan.
Kesalahan Terbesar Saya: Tidak Mengecek Perusahaan Lebih Dalam
Kalau saya mengingat kembali pengalaman tersebut, salah satu hal yang paling saya sesali adalah kurang menggali informasi mengenai perusahaan sebelum berangkat.
Saya terlalu fokus pada bagaimana caranya bisa mendapatkan pekerjaan dan berangkat ke Jepang.
Padahal, menurut pengalaman saya, mendapatkan pekerjaan bukan berarti prosesnya sudah selesai.
Justru setelah dinyatakan diterima, kita harus memastikan kembali seperti apa perusahaan tempat kita akan bekerja, siapa penanggung jawabnya, bagaimana kondisi pekerja sebelumnya, dan apakah pekerjaan yang diberikan sesuai dengan kontrak.
Hal ini menjadi pelajaran penting bagi saya.
Pekerjaan Saya Tidak Sesuai dengan Kontrak
Masalah paling besar yang saya alami adalah ketidaksesuaian antara pekerjaan yang dijanjikan dengan pekerjaan yang saya lakukan.
Seharusnya saya bekerja di bidang pertanian. Namun, setelah berada di Jepang, saya justru lebih sering mengerjakan pekerjaan di genba, termasuk pekerjaan pengecatan.
Saya mengatakan dalam pengalaman saya bahwa dari beberapa kali pekerjaan pertanian yang saya lakukan, sebagian besar pekerjaan justru berada di pekerjaan genba.
Bagi saya, kondisi ini menjadi masalah serius karena bidang pekerjaan yang saya jalani tidak sesuai dengan bidang yang tercantum dalam kontrak dan status pekerjaan saya.
Saya datang ke Jepang dengan tujuan bekerja sebagai petani, bukan untuk menjadi pekerja pengecatan rumah.
Saya Mulai Memikirkan untuk Pindah Perusahaan
Setelah menyadari kondisi tersebut, saya mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain.
Saya tidak ingin terlalu lama berada dalam kondisi yang menurut saya tidak sesuai dengan kontrak karena saya khawatir akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
Akhirnya saya memutuskan bahwa saya harus mencari perusahaan lain dan mempertimbangkan untuk berhenti dari perusahaan tersebut.
Keputusan tersebut tentu tidak mudah.
Saya sudah mengeluarkan waktu, tenaga, dan biaya untuk bisa sampai ke Jepang. Tetapi menurut saya, mempertahankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang yang seharusnya juga memiliki risiko tersendiri.
Masalah Jam Kerja dan Lembur
Selain masalah pekerjaan yang tidak sesuai, saya juga mengalami persoalan terkait jam kerja dan lembur.
Menurut cerita yang saya terima dari senior, terdapat kondisi ketika jam kerja berlangsung lama tetapi lembur tidak selalu tercatat sebagaimana mestinya.
Dalam pengalaman saya, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa saya semakin yakin untuk mencari perusahaan lain.
Bagi saya, kalau jam kerja memang panjang, maka kompensasi dan pencatatannya juga harus jelas.
Saya datang ke Jepang untuk bekerja dan mencari penghasilan bagi keluarga. Karena itu, saya berharap pekerjaan, jam kerja, gaji, dan hak-hak pekerja semuanya jelas sejak awal.
Saya Tidak Mendapatkan Hari Libur Seperti yang Saya Harapkan
Hal lain yang saya rasakan adalah masalah hari libur.
Dalam pengalaman saya, saya merasa hampir tidak mendapatkan waktu libur selama bekerja di perusahaan tersebut.
Kondisi ini membuat saya semakin merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan pekerjaan yang saya jalani.
Saya sendiri tidak mempermasalahkan kalau harus bekerja keras. Tetapi menurut saya, kerja keras tetap harus diimbangi dengan kondisi kerja dan hak yang jelas.
Itulah sebabnya saya mulai memikirkan masa depan saya di perusahaan tersebut.
Saya Sempat Meminta Kontak Senior Indonesia
Setelah dinyatakan lulus, menurut saya salah satu hal yang penting dilakukan adalah meminta kontak pekerja Indonesia yang sudah lebih dahulu bekerja di perusahaan tersebut.
Tujuannya sederhana: kita bisa bertanya langsung kepada mereka mengenai kondisi pekerjaan yang sebenarnya.
Apakah pekerjaannya sesuai dengan kontrak?
Bagaimana jam kerjanya?
Bagaimana sistem lemburnya?
Bagaimana suasana di perusahaan?
Dan bagaimana hubungan dengan atasan?
Dalam pengalaman saya, ketika saya meminta kontak senior Indonesia, perusahaan tidak memberikannya.
Bagi saya, ini kemudian menjadi salah satu tanda yang membuat saya semakin waspada.
Apa yang Saya Pelajari dari Pengalaman Ini?
Setelah mengalami sendiri, saya mendapatkan beberapa pelajaran penting bagi siapa saja yang ingin kerja di Jepang.
1. Jangan Hanya Fokus pada Keberangkatan
Saya dulu terlalu fokus bagaimana caranya bisa mendapatkan pekerjaan dan berangkat ke Jepang.
Sekarang saya menyadari bahwa memilih perusahaan sama pentingnya dengan mendapatkan pekerjaan itu sendiri.
Jangan hanya bertanya:
“Kapan saya bisa berangkat?”
Tetapi juga tanyakan:
Saya akan bekerja di bidang apa?
Siapa perusahaan yang mempekerjakan saya?
Apa pekerjaan sehari-harinya?
Berapa jam kerja?
Bagaimana sistem lemburnya?
Berapa hari libur?
Siapa penanggung jawab saya?
Siapa senior yang bisa dihubungi?
2. Minta Kontak Senior Sebelum Berangkat
Kalau memungkinkan, saya menyarankan calon pekerja meminta kontak orang Indonesia yang sudah bekerja di perusahaan tersebut.
Dengan begitu, kita bisa mendapatkan gambaran dari orang yang benar-benar mengalami pekerjaan tersebut.
Saya sendiri baru menyadari betapa pentingnya hal ini setelah mengalami masalah.
3. Baca Kontrak dengan Teliti
Ini menurut saya bagian yang paling penting.
Jangan langsung menandatangani kontrak hanya karena sudah mendapatkan kesempatan kerja di Jepang.
Baca setiap bagian dengan teliti.
Perhatikan bidang pekerjaan, jam kerja, gaji, lembur, tempat kerja, hari libur, dan ketentuan lainnya.
Kalau ada bagian yang tidak dipahami atau terasa janggal, tanyakan sebelum menandatangani.
Saya sendiri mengalami situasi yang membuat saya semakin memahami pentingnya kontrak.
Karena pekerjaan yang saya jalani ternyata berbeda dengan bidang yang seharusnya saya kerjakan.
4. Jangan Takut Bertanya
Menurut saya, bertanya sebelum berangkat jauh lebih baik daripada menyesal setelah sampai di Jepang.
Kalau ada sesuatu yang tidak jelas, tanyakan.
Kalau ada bagian kontrak yang tidak dimengerti, tanyakan.
Kalau ingin mengetahui kondisi perusahaan, tanyakan kepada senior.
Jangan merasa sungkan hanya karena takut dianggap banyak bertanya.
Justru kita sedang memastikan masa depan kita sendiri.
5. Jangan Terburu-buru Mengambil Pekerjaan
Saya mendapatkan pekerjaan tersebut melalui lowongan yang saya temukan di Facebook dan prosesnya berjalan cukup cepat.
Karena perusahaan memang sedang membutuhkan pekerja, saya akhirnya menjadi salah satu orang yang diterima.
Dari sini saya belajar bahwa ketika menemukan lowongan kerja di Jepang, jangan hanya melihat kesempatan untuk berangkat.
Kita juga harus melihat apakah pekerjaan tersebut benar-benar cocok dan sesuai dengan kontrak.
Saya Bahkan Membatalkan Rencana Istri untuk Masuk Perusahaan yang Sama
Ada hal lain yang saya lakukan setelah mengetahui kondisi perusahaan tersebut.
Awalnya istri saya juga direncanakan untuk masuk ke perusahaan yang sama. Bahkan prosesnya sudah berjalan.
Namun karena saya sudah mengalami sendiri kondisi perusahaan tersebut, saya memilih membatalkan rencana tersebut.
Untungnya, istri saya belum menyelesaikan proses tanda tangan dokumen yang bersangkutan sehingga masih bisa dihentikan.
Bagi saya, lebih baik menunggu lebih lama daripada mengulangi kesalahan yang sama.
Saya tidak ingin istri saya mengalami pengalaman seperti yang saya alami.
Saya Tetap Bersyukur dengan Pengalaman Ini
Walaupun pengalaman ini membuat saya kecewa dan merasa mengalami kerugian, saya mencoba melihatnya dari sisi lain.
Saya menganggap pengalaman tersebut sebagai pelajaran hidup.
Saya memang berharap bisa bekerja sebagai petani di Jepang. Namun kenyataannya saya justru mendapatkan pengalaman berbeda.
Saya percaya setiap pengalaman pasti memiliki pelajaran.
Karena itu, saya tidak ingin hanya mengeluh. Saya memilih menjalani sisa waktu di perusahaan tersebut sambil mencari jalan keluar yang lebih baik.
Saya Memutuskan untuk Mencari Perusahaan Baru
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya mulai mencari perusahaan baru.
Rencananya, saya akan mencari pekerjaan lain terlebih dahulu. Jika sudah mendapatkan perusahaan yang sesuai dan dinyatakan lolos, barulah saya menyampaikan keputusan untuk berhenti.
Saya ingin mendapatkan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan bidang saya dan kondisi yang lebih baik.
Saya juga berharap perusahaan berikutnya bisa memberikan lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan apa yang saya harapkan.
Kesimpulan: Jangan Ulangi Kesalahan Saya Saat Kerja di Jepang
Pengalaman kerja di Jepang membuat saya belajar bahwa keberangkatan ke Jepang bukanlah akhir dari perjuangan.
Justru setelah sampai di Jepang, kita harus memastikan bahwa pekerjaan yang kita jalani sesuai dengan kontrak dan bidang yang dijanjikan.
Kesalahan terbesar saya adalah kurang menggali informasi tentang perusahaan sebelum benar-benar berangkat.
Saya terlalu fokus pada kesempatan untuk bekerja di Jepang tanpa memastikan lebih dalam bagaimana kondisi perusahaan tersebut.
Karena itu, kalau sekarang ada orang yang bertanya kepada saya mengenai persiapan kerja di Jepang, saya akan mengatakan satu hal:
Jangan terburu-buru menandatangani kontrak. Baca, pahami, dan tanyakan semua hal yang belum jelas.
Cari tahu juga pengalaman senior yang sudah bekerja di perusahaan tersebut.
Bagi saya, lebih baik menghabiskan waktu untuk melakukan pengecekan sebelum berangkat daripada harus menghadapi masalah setelah tiba di Jepang.
Pengalaman ini memang tidak sesuai dengan rencana saya. Tetapi saya percaya, setiap masalah pasti memberikan pelajaran.
Saya hanya berharap pengalaman saya ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi teman-teman yang sedang mempersiapkan diri untuk kerja di Jepang, supaya tidak mengalami kesalahan yang sama.
