Kerja di Jepang: Jangan Asal Pilih Loker, Salah Pilih Pekerjaan Bisa Menyesal
Ketika ingin kerja di Jepang, saya sering melihat ada orang yang berpikir, “Yang penting berangkat dulu. Nanti pekerjaan apa saja tidak masalah.”
Menurut saya, pemikiran seperti itu justru perlu dipikirkan kembali.
Memang, bisa berangkat ke Jepang untuk bekerja merupakan impian banyak orang. Tetapi setelah sampai di Jepang, kita tetap harus menjalani pekerjaan tersebut setiap hari. Kalau ternyata pekerjaannya tidak sesuai dengan kemampuan, minat, atau kondisi kita, bukan tidak mungkin akhirnya malah menyesal.
Hal inilah yang ingin saya bahas kali ini, terutama mengenai pekerjaan genba atau konstruksi dan pilihan pekerjaan lain seperti pertanian, pabrik, atau kaigo.
Jangan Hanya Berpikir yang Penting Berangkat ke Jepang
Saya pernah melihat pembahasan tentang seseorang yang ingin mengambil pekerjaan genba, tetapi kemudian mendapat saran dari temannya untuk memilih pertanian atau pabrik.
Namun ada juga yang berpendapat bahwa genba memang pekerjaan yang keras pada awalnya dan orang yang mengambil pekerjaan tersebut harus kuat secara fisik dan mental.
Menurut saya, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang kuat atau lemah.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah pekerjaan tersebut memang sesuai dengan diri kita?
Karena tujuan kita datang ke Jepang biasanya adalah untuk mencari penghasilan, mengumpulkan modal, mendapatkan pengalaman, atau membangun masa depan.
Kalau baru beberapa bulan bekerja kemudian tidak kuat dan ingin pulang, waktu, tenaga, dan biaya yang sudah dikeluarkan bisa menjadi masalah.
Saya Pernah Menjalani Pekerjaan Konstruksi
Saya sendiri mengakui bahwa saya pernah menyelesaikan sekitar tiga tahun di pekerjaan konstruksi atau genba.
Tetapi meskipun sudah menjalani pekerjaan tersebut, saya tetap mengakui bahwa pekerjaan itu bukan sesuatu yang mudah bagi saya.
Menurut saya, bekerja keras tidak harus selalu berarti memilih pekerjaan yang paling berat.
Kalau ada pilihan pekerjaan lain yang lebih sesuai dengan kemampuan dan tujuan kita, kenapa tidak mempertimbangkannya?
Dalam pembahasan saya, saya menyebut pertanian dan pabrik sebagai contoh pekerjaan yang bisa dipertimbangkan bagi orang yang memang tidak memiliki minat terhadap konstruksi.
Genba atau Konstruksi Memiliki Tantangan Tersendiri
Saya tidak mengatakan bahwa semua pekerjaan konstruksi di Jepang pasti buruk.
Kondisi setiap perusahaan dan tempat kerja tentu berbeda.
Ada orang yang mendapatkan perusahaan besar, lingkungan kerja yang nyaman, dan merasa cocok dengan pekerjaannya. Dalam transcript ini juga dibahas pengalaman orang yang merasa lingkungan kerja genbanya tidak toksik dan tempat kerjanya nyaman.
Masalahnya, pengalaman satu orang tidak otomatis sama dengan pengalaman semua pekerja.
Kalau seseorang mendapatkan tempat kerja yang bagus, mungkin dia akan merasa pekerjaan tersebut sangat mudah dijalani.
Tetapi pekerja lain bisa saja mendapatkan lingkungan yang berbeda.
Karena itu, menurut saya, jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan cerita satu orang.
Jangan Menganggap Semua Orang Harus Kuat di Genba
Ada anggapan bahwa pekerjaan genba hanya terasa berat pada tahun pertama dan setelah itu akan menjadi lebih mudah.
Saya sendiri memiliki pandangan yang berbeda berdasarkan pengalaman yang saya ceritakan.
Menurut saya, seseorang memang bisa menjadi lebih terbiasa dengan lingkungan dan pekerjaan setelah bertahun-tahun. Tetapi terbiasa bukan berarti kondisi pekerjaannya otomatis berubah.
Kita mungkin menjadi lebih mampu menghadapi pekerjaan tersebut karena sudah mengetahui ritmenya.
Jadi, sebelum memilih pekerjaan, menurut saya kita perlu jujur kepada diri sendiri:
Apakah saya memang cocok dengan pekerjaan ini?
Jangan Sampai Baru Sampai Jepang Langsung Ingin Pulang
Ini bagian yang paling saya khawatirkan.
Bayangkan seseorang sudah mengikuti proses panjang untuk kerja di Jepang.
Sudah belajar bahasa.
Sudah mengikuti pelatihan.
Sudah mengeluarkan biaya.
Sudah menunggu proses keberangkatan.
Kemudian setelah sampai di Jepang ternyata pekerjaannya tidak sesuai.
Kalau hanya bertahan beberapa bulan kemudian memutuskan pulang, tentu banyak hal yang sudah dikorbankan.
Dalam pembahasan saya, saya memberikan contoh seseorang yang tidak kuat selama beberapa bulan lalu pulang. Waktu yang sudah digunakan untuk proses keberangkatan akhirnya tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.
Karena itu, saya lebih memilih menyarankan calon pekerja untuk berpikir matang sebelum berangkat.
Pilih Pekerjaan Sesuai Tujuan Awal
Menurut saya, ini adalah salah satu hal terpenting ketika mencari loker kerja di Jepang.
Kalau sejak awal tujuan kita adalah bekerja di pabrik, tetapi kemudian ditawari pekerjaan konstruksi hanya karena ingin cepat berangkat, sebaiknya pikirkan kembali.
Begitu juga kalau sejak awal ingin bekerja di kaigo tetapi kemudian memilih pekerjaan lain hanya karena lowongannya tersedia lebih cepat.
Saya berpendapat bahwa memilih pekerjaan yang memang kita inginkan akan membuat kita lebih siap menghadapi tantangannya.
Karena ketika mengalami kesulitan, kita masih memiliki alasan yang kuat untuk bertahan.
Sebaliknya, kalau dari awal kita sebenarnya tidak menyukai pekerjaannya, tekanan yang muncul bisa terasa jauh lebih berat.
Jangan Takut Menunggu Loker yang Sesuai
Saya justru lebih memilih menunggu daripada terburu-buru.
Menurut saya, tidak masalah kalau proses mendapatkan pekerjaan yang sesuai membutuhkan waktu lebih lama.
Yang penting ketika akhirnya berangkat ke Jepang, kita sudah mengetahui pekerjaan yang akan dijalani dan memang memiliki minat terhadap bidang tersebut.
Dalam transcript ini saya juga menyampaikan bahwa lebih baik prosesnya lama daripada datang ke Jepang tetapi akhirnya mengalami kesengsaraan karena pekerjaan yang dipilih tidak sesuai.
Tentu keputusan akhirnya tetap kembali kepada masing-masing orang.
Tetapi setidaknya jangan mengambil keputusan hanya karena kalimat:
“Yang penting berangkat dulu.”
Bagaimana Kalau Loker yang Tersedia Hanya Genba?
Kalau memang tidak memiliki minat terhadap konstruksi, menurut saya tidak perlu memaksakan diri.
Misalnya sejak awal kita ingin bekerja di pabrik, kaigo, atau bidang lain, kita bisa mempertimbangkan untuk tetap mencari pekerjaan sesuai tujuan tersebut.
Namun kalau memang memiliki minat terhadap konstruksi, memahami risikonya, dan merasa cocok dengan pekerjaan fisik, maka pekerjaan tersebut juga bisa menjadi pilihan.
Intinya bukan mengatakan bahwa genba harus dihindari semua orang.
Yang saya tekankan adalah jangan memilih pekerjaan yang sama sekali tidak kita inginkan hanya karena ingin cepat berangkat ke Jepang.
Jangan Terpengaruh oleh Cerita Orang Lain
Hal lain yang saya pelajari adalah pengalaman setiap pekerja bisa berbeda.
Ada orang yang mengatakan pekerjaannya nyaman.
Ada yang mengatakan pekerjaannya berat.
Ada yang mendapatkan lingkungan kerja yang baik.
Ada pula yang mengalami kondisi yang tidak sesuai harapan.
Karena itu, jangan langsung percaya ketika seseorang mengatakan:
“Pekerjaan ini gampang.”
atau
“Pekerjaan ini cuma berat di tahun pertama.”
Menurut saya, kita harus mencari informasi sebanyak mungkin sebelum mengambil keputusan.
Cari tahu jenis pekerjaannya, lingkungan kerja, tugas sehari-hari, jam kerja, kondisi fisik yang dibutuhkan, serta gambaran pekerjaan yang sebenarnya.
Loker Jepang Bukan Sekadar Mana yang Paling Cepat
Ketika mencari loker di Jepang, terkadang kita terlalu fokus pada pertanyaan:
“Kapan saya bisa berangkat?”
Padahal ada pertanyaan yang lebih penting:
“Pekerjaan apa yang akan saya jalani setelah sampai di sana?”
Saya justru menyarankan agar calon pekerja membalik urutannya.
Pertama, tentukan pekerjaan yang sesuai.
Kedua, cari informasi mengenai perusahaan dan lingkungan kerjanya.
Ketiga, pahami proses dan persyaratannya.
Setelah itu baru memikirkan kapan bisa berangkat.
Dengan begitu, keberangkatan bukan menjadi tujuan utama, tetapi menjadi bagian dari rencana yang lebih besar.
Kalau Tidak Suka Konstruksi, Jangan Dipaksakan
Dalam pengalaman saya, kalau seseorang memang tidak memiliki minat terhadap konstruksi, sebaiknya jangan memaksakan diri.
Kalau sejak awal ingin masuk pabrik, tetap cari peluang pabrik.
Kalau ingin bekerja di kaigo, fokus mencari jalur kaigo.
Kalau tertarik pertanian, pertimbangkan pekerjaan pertanian.
Saya menyampaikan hal tersebut karena saya tidak ingin orang lain mengalami penyesalan yang pernah saya lihat atau rasakan sendiri.
Karena ketika kita datang ke Jepang dengan pekerjaan yang memang kita inginkan, setidaknya kita sudah mengetahui apa yang akan kita hadapi.
Kesimpulan
Bagi saya, mencari kerja di Jepang bukan hanya soal mendapatkan loker tercepat atau pekerjaan yang bisa membuat kita segera berangkat.
Yang lebih penting adalah memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, minat, kondisi fisik, dan tujuan kita.
Pekerjaan genba atau konstruksi memang bisa menjadi pilihan bagi orang yang memiliki minat dan kesiapan untuk menjalaninya. Tetapi bukan berarti semua orang harus memilih pekerjaan tersebut.
Kalau sejak awal kita lebih tertarik pada pabrik, pertanian, kaigo, atau pekerjaan lainnya, menurut saya tidak perlu memaksakan diri hanya karena ingin cepat berangkat.
Lebih baik menunggu sedikit lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai daripada terburu-buru datang ke Jepang lalu menyesal karena pekerjaan yang dijalani ternyata bukan yang kita inginkan.
Jangan hanya bertanya, “Loker Jepang mana yang paling cepat berangkat?”
Tanyakan juga:
“Pekerjaan mana yang sanggup saya jalani selama bertahun-tahun?”
Karena yang akan kita jalani bukan hanya proses keberangkatannya, tetapi kehidupan dan pekerjaan kita setelah benar-benar berada di Jepang.
