Kerja di Jepang: Gaji, Pengeluaran, dan Berapa yang Bisa Saya Tabung?
Kalau saya memutuskan untuk kerja di Jepang, sebenarnya berapa gaji yang bisa saya dapatkan? Berapa pengeluaran setiap bulan? Dan setelah semua kebutuhan dibayar, masih berapa uang yang bisa saya tabung?
Pertanyaan seperti ini mungkin juga muncul di pikiran banyak orang yang sedang mempersiapkan diri untuk bekerja di Jepang.
Karena itu, kali ini saya ingin membagikan gambaran berdasarkan pengalaman dan perhitungan yang saya gunakan selama tinggal dan bekerja di Jepang. Saya akan membahas mulai dari gaji pokok, lembur, tunjangan, pajak, asuransi, biaya tempat tinggal, makanan, sampai uang yang tersisa untuk ditabung.
Catatan: angka dalam artikel ini merupakan gambaran dari pengalaman dan simulasi yang saya gunakan, bukan angka yang otomatis berlaku untuk semua pekerja di Jepang.
Berapa Gaji Kerja di Jepang?
Ketika membahas kerja di Jepang, salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapatkan adalah soal gaji.
Dalam simulasi yang saya gunakan, saya mengambil dasar upah per jam sebesar 1.226 yen. Dengan asumsi bekerja sekitar 150 jam dalam satu bulan, gaji pokok yang saya hitung sekitar Rp20,4 juta jika menggunakan kurs yang saya gunakan dalam perhitungan tersebut.
Tetapi angka tersebut masih merupakan gaji kotor.
Artinya, uang tersebut belum dikurangi pajak, asuransi, biaya tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya.
Jadi, ketika ingin kerja di Jepang, saya tidak akan melihat angka gaji pokok saja. Saya juga harus menghitung berapa uang yang benar-benar tersisa setelah semua potongan.
Kalau Ada Lembur, Gaji Bisa Bertambah
Selain gaji pokok, saya juga memasukkan lembur ke dalam simulasi.
Dalam perhitungan saya, ada lembur dalam jam kerja dan lembur di luar jam kerja.
Untuk lembur pertama, saya menghitung sekitar 5 jam 30 menit dengan nilai sekitar Rp748 ribu.
Kemudian ada lembur di luar jam kerja. Dalam simulasi tersebut, setelah jam kerja dalam satu minggu melewati 40 jam, saya menggunakan perhitungan upah yang lebih tinggi. Untuk sekitar 16 jam 30 menit, hasilnya sekitar Rp2,8 juta.
Artinya, jumlah lembur dapat memberikan perbedaan yang cukup besar terhadap pendapatan bulanan.
Namun, tentu saja saya tidak bisa menganggap setiap bulan pasti mendapatkan jumlah lembur yang sama. Jam kerja dan kebijakan perusahaan dapat berbeda.
Ada Juga Tunjangan Transportasi
Dalam perhitungan saya, selain gaji pokok dan lembur, saya memasukkan tunjangan transportasi.
Ada tunjangan untuk rute utama yang saya gunakan setiap hari menuju tempat kerja. Selain itu, ada juga tunjangan tambahan untuk perjalanan tertentu ketika saya harus berpindah lokasi kerja atau menggunakan rute yang tidak biasa.
Dalam simulasi tersebut, tunjangan transportasi utama sekitar Rp3,288 juta dan tunjangan tambahan sekitar Rp150 ribu. Jika digabungkan dengan gaji pokok dan lembur, total pendapatan kotor menjadi sekitar Rp27,4 juta.
Tetapi ada hal penting yang perlu saya pahami.
Tunjangan transportasi bukan berarti seluruhnya menjadi uang yang bisa saya tabung.
Sebagian uang tersebut memang digunakan untuk membayar perjalanan saya menuju tempat kerja.
Gaji Kotor Bukan Berarti Uang yang Bisa Ditabung
Ini bagian yang menurut saya paling penting.
Ketika melihat angka sekitar Rp27 juta, mungkin saya akan berpikir, "Wah, bisa menabung banyak."
Padahal belum tentu.
Setelah mendapatkan gaji, saya masih harus membayar berbagai kewajiban dan kebutuhan hidup.
Saya membaginya menjadi beberapa kelompok:
Pajak dan asuransi.
Tempat tinggal dan kebutuhan rumah.
Transportasi.
Makanan.
Kebutuhan pribadi.
Hiburan.
Dana darurat.
Internet pribadi.
Jadi, sebelum menghitung berapa uang yang bisa saya tabung, saya harus mengetahui terlebih dahulu total pengeluaran saya.
Potongan Pajak dan Asuransi
Dalam simulasi saya, ada beberapa potongan yang langsung berkaitan dengan pajak dan asuransi.
Saya memasukkan:
asuransi kesehatan;
asuransi pensiun;
asuransi ketenagakerjaan;
pajak pendapatan;
serta komponen pajak lainnya yang saya jelaskan dalam perhitungan sumber.
Dalam contoh tersebut, asuransi kesehatan sekitar Rp1,2 juta per bulan, asuransi pensiun sekitar Rp2,2 juta, dan asuransi ketenagakerjaan sekitar Rp10 ribu. Pajak pendapatan yang digunakan dalam simulasi sekitar Rp416 ribu per bulan.
Besarnya potongan tentu tidak bisa disamaratakan untuk semua orang karena kondisi pekerja dan sistem pembayaran masing-masing bisa berbeda.
Biaya Tempat Tinggal di Jepang
Selain pajak dan asuransi, saya juga harus memikirkan tempat tinggal.
Dalam pengalaman yang menjadi dasar artikel ini, saya tinggal di tempat yang biaya sewanya sebagian dibantu oleh perusahaan.
Model tempat tinggalnya seperti sebuah rumah yang dihuni beberapa orang, tetapi masing-masing memiliki kamar sendiri.
Karena sebagian biaya ditanggung perusahaan, biaya yang harus saya keluarkan menjadi lebih ringan dibandingkan jika saya harus membayar seluruh biaya sewa sendiri.
Ini menjadi salah satu hal yang menurut saya sangat penting ketika mencari kerja di Jepang.
Sebelum menerima pekerjaan, saya perlu mengetahui apakah perusahaan menyediakan asrama, memberikan subsidi tempat tinggal, atau seluruh biaya harus ditanggung sendiri.
Biaya Listrik, Air, Gas, dan Internet
Tempat tinggal bukan hanya soal uang sewa.
Saya juga harus membayar kebutuhan seperti listrik, gas, air, Wi-Fi, dan biaya lainnya.
Dalam pengalaman saya, biaya tersebut bisa berubah tergantung pemakaian.
Ketika musim dingin dan pemanas ruangan digunakan lebih banyak, tagihan juga dapat meningkat. Dalam salah satu periode, tagihan bahkan pernah mencapai sekitar Rp3 juta.
Jadi, semakin hemat menggunakan listrik dan fasilitas rumah, semakin besar peluang saya mengendalikan pengeluaran bulanan.
Transportasi Tidak Selalu Menjadi Keuntungan
Saya juga ingin menekankan kembali soal tunjangan transportasi.
Dalam simulasi saya, perusahaan memberikan tunjangan transportasi sekitar Rp3,288 juta.
Sekilas terlihat seperti tambahan penghasilan.
Namun, sebenarnya uang tersebut saya gunakan kembali untuk membayar perjalanan menuju tempat kerja. Jadi uang itu bukan keuntungan yang bisa saya simpan seluruhnya.
Saya menganggapnya sebagai uang dari perusahaan yang memang digunakan untuk kebutuhan transportasi kerja.
Berapa Pengeluaran Pribadi Saya?
Setelah pajak, asuransi, tempat tinggal, dan transportasi, masih ada pengeluaran pribadi.
Dalam simulasi saya, saya mengalokasikan sekitar Rp3,385 juta untuk konsumsi dan kebutuhan pribadi.
Jumlah tersebut saya gunakan untuk beberapa kebutuhan seperti:
belanja mingguan;
belanja bulanan;
beras;
kebutuhan protein;
jajan;
hiburan;
dana darurat;
internet pribadi.
Pengeluaran ini merupakan bagian yang paling fleksibel. Saya bisa menghemat jika tidak banyak bepergian atau masih memiliki stok makanan. Sebaliknya, pengeluaran juga bisa meningkat ketika kebutuhan pribadi bertambah.
Saya Belanja Sayuran Setiap Minggu
Untuk kebutuhan makanan, saya biasanya melakukan belanja mingguan.
Saya lebih sering membeli sayuran yang cepat rusak, seperti kol, seledri, daun bawang, tahu, dan pakcoy.
Dalam perhitungan saya, kebutuhan belanja mingguan sekitar 1.000 yen setiap minggu, kemudian saya membuat anggaran bulanan yang lebih besar untuk mengantisipasi kebutuhan lainnya.
Menurut saya, belanja seperti ini cukup membantu mengontrol pengeluaran.
Daripada membeli terlalu banyak makanan sekaligus, saya lebih memilih membeli sesuai kebutuhan.
Beras Tidak Selalu Habis Sebulan
Untuk beras, kebutuhan saya ternyata tidak sebanyak yang mungkin dibayangkan.
Saya biasanya memasak nasi dalam jumlah sedikit dan tidak setiap hari. Karena itu, beras 5 kilogram bisa bertahan lebih dari satu bulan.
Dalam pengalaman saya, harga beras yang saya gunakan dalam simulasi berada di sekitar 3.000 yen atau sekitar Rp300 ribu berdasarkan kurs yang digunakan dalam sumber.
Saya juga memperhatikan promo beras di supermarket.
Ketika ada promo, saya bisa membeli beras dengan harga yang lebih murah dan menyimpannya sebagai stok.
Membeli Protein di Toko Grosir Halal
Untuk kebutuhan protein, saya biasanya membeli daging, ayam, ikan, cumi, dan seafood.
Saya tidak selalu membelinya di supermarket biasa.
Saya juga mencari toko grosir halal karena menurut pengalaman saya harganya bisa lebih murah. Jika di supermarket sebuah produk berada di kisaran Rp100 ribu, di toko grosir tersebut saya bisa menemukan produk yang sama atau sejenis dengan harga sekitar Rp60–75 ribu berdasarkan pengalaman yang saya ceritakan.
Dengan cara seperti ini, saya bisa tetap memenuhi kebutuhan makanan tanpa membuat pengeluaran membengkak.
Saya Tetap Menyediakan Uang untuk Hiburan
Kerja terus tanpa memberikan ruang untuk hiburan juga bisa membuat hidup terasa berat.
Karena itu, saya tetap menyediakan anggaran untuk jajan atau refreshing.
Dalam simulasi saya, anggaran hiburan dan jajan sekitar Rp77 ribu per bulan.
Kalau uang tersebut tidak terpakai, saya bisa mengalihkannya untuk kebutuhan lain, misalnya membeli makeup atau pakaian.
Saya Juga Menyiapkan Dana Darurat
Selain kebutuhan sehari-hari, saya juga berusaha menyisihkan uang untuk dana darurat.
Walaupun jumlahnya tidak besar, menurut saya tetap penting memiliki uang cadangan.
Karena kita tidak pernah tahu kapan membutuhkan uang untuk sesuatu yang tidak direncanakan.
Dalam perhitungan saya, saya menyisihkan sekitar Rp55 ribu per bulan untuk dana darurat yang saya pegang dalam bentuk yen.
Berapa Total Pengeluaran Saya?
Setelah semua kebutuhan dihitung, total pengeluaran dalam simulasi saya berada di sekitar Rp12,842 juta per bulan.
Pengeluaran tersebut sudah mencakup berbagai kebutuhan seperti pajak, asuransi, tempat tinggal, transportasi, makanan, kebutuhan pribadi, dan internet.
Angka ini menurut saya menjadi bagian paling penting ketika menghitung apakah kerja di Jepang menguntungkan atau tidak.
Sebab, yang menentukan bukan hanya berapa gaji yang saya terima, tetapi berapa uang yang tersisa setelah semua kebutuhan dibayar.
Kalau Gaji Saya Rp27 Juta, Bisa Menabung Berapa?
Dalam skenario pertama, saya mendapatkan:
Gaji pokok + lembur + tunjangan
Total pendapatan kotor sekitar Rp27,4 juta.
Setelah dikurangi berbagai pengeluaran, dalam simulasi tersebut uang yang dapat saya sisihkan untuk tabungan sekitar Rp14,5 juta per bulan.
Tentu saja ini bukan berarti semua pekerja di Jepang pasti bisa menabung Rp14,5 juta.
Ini hanyalah hasil dari simulasi dengan asumsi pendapatan dan pengeluaran yang saya gunakan.
Bagaimana Kalau Tidak Mendapat Lembur?
Sekarang saya coba membuat skenario kedua.
Misalnya saya hanya mendapatkan:
Gaji pokok + tunjangan transportasi
Tanpa lembur.
Dalam simulasi tersebut, total pendapatan sekitar Rp23,852 juta.
Setelah dikurangi pengeluaran, uang yang tersisa tentu lebih sedikit dibandingkan skenario pertama.
Ini menunjukkan betapa besar pengaruh lembur terhadap pendapatan akhir.
Bagaimana Kalau Hanya Mendapat Gaji Pokok?
Sekarang saya ambil skenario paling sederhana.
Saya hanya mendapatkan gaji pokok tanpa lembur dan tanpa tunjangan.
Dalam perhitungan tersebut, gaji kotor sekitar Rp20,4 juta.
Setelah dikurangi pengeluaran yang sama, uang yang tersisa sekitar Rp7,57 juta.
Jadi, sebelum berangkat kerja di Jepang, saya sebaiknya tidak membuat perencanaan berdasarkan skenario gaji tertinggi.
Lebih aman jika saya juga menghitung kemungkinan ketika hanya mendapatkan gaji pokok.
Saya Pernah Hanya Mendapat Gaji Pokok
Saya sendiri pernah mengalami masa ketika belum mendapatkan lembur.
Ketika baru datang dan masih beradaptasi dengan pekerjaan, saya belum mendapatkan tambahan lembur.
Pada masa tersebut, uang bersih yang saya terima sekitar Rp7,5 juta berdasarkan pengalaman yang saya ceritakan.
Meskipun jumlahnya tidak sebesar ketika sudah mendapatkan lembur, saya tetap merasa cukup dan bersyukur.
Pengalaman tersebut membuat saya sadar bahwa saya harus bisa mengatur keuangan bahkan ketika pendapatan sedang tidak maksimal.
Apakah Kerja di Jepang Menguntungkan?
Kalau saya hanya melihat angka gaji, tentu kerja di Jepang terlihat menarik.
Tetapi saya tidak bisa hanya melihat gaji.
Saya harus melihat:
gaji pokok;
lembur;
tunjangan;
pajak;
asuransi;
tempat tinggal;
listrik;
gas;
air;
transportasi;
makanan;
kebutuhan pribadi;
dana darurat.
Baru setelah itu saya bisa mengetahui berapa uang yang benar-benar tersisa.
Dalam pengalaman saya, pengeluaran hidup memang cukup besar. Tetapi saya tetap merasa bersyukur karena sebelumnya ketika bekerja di Indonesia, saya pernah mendapatkan sekitar Rp4,5–5 juta dengan pekerjaan yang menurut saya sangat menguras energi.
Saya Tidak Ingin Hanya Menabung
Setelah mengetahui berapa uang yang tersisa setiap bulan, saya juga harus menentukan uang tersebut akan digunakan untuk apa.
Bagi saya, uang yang tersisa bisa digunakan untuk beberapa tujuan:
menabung;
mengirim uang kepada orang tua;
membayar utang;
menyiapkan dana masa depan;
investasi;
atau kebutuhan lainnya.
Tujuan keuangan setiap orang tentu berbeda.
Saya sendiri tetap berusaha mengirim uang kepada orang tua. Namun, beberapa bulan terakhir orang tua saya justru meminta saya mengelola uang tersebut untuk masa depan saya sendiri.
Berapa Modal yang Saya Siapkan untuk Berangkat ke Jepang?
Selain menghitung gaji, saya juga harus memikirkan biaya sebelum mendapatkan gaji pertama.
Ketika berangkat ke Jepang, saya membutuhkan biaya untuk persiapan, membawa uang untuk kebutuhan awal, mengisi koper, dan mempersiapkan kebutuhan selama beberapa bulan karena saya belum langsung menerima gaji.
Dalam pengalaman saya, biaya pendidikan sebelum keberangkatan sekitar Rp15 juta dan sudah termasuk asrama. Namun, jika dihitung dengan berbagai kebutuhan persiapan lainnya, total dana yang saya keluarkan untuk proses menuju Jepang sekitar Rp30 juta.
Hal ini penting karena orang yang ingin kerja di Jepang tidak boleh hanya menghitung uang setelah menerima gaji.
Kita juga harus mempersiapkan masa sebelum gaji pertama masuk.
Kesimpulan
Dari pengalaman saya, kerja di Jepang bukan hanya soal mendapatkan gaji yang terlihat besar jika dikonversikan ke rupiah.
Saya harus menghitung semuanya secara realistis.
Dalam simulasi yang saya gunakan, gaji pokok sekitar Rp20,4 juta. Dengan tambahan lembur dan tunjangan, pendapatan kotor dapat mencapai sekitar Rp27,4 juta.
Namun, saya juga memiliki pengeluaran bulanan sekitar Rp12,8 juta.
Dalam skenario pendapatan tertinggi yang saya hitung, uang yang bisa saya sisihkan sekitar Rp14,5 juta. Sedangkan jika hanya mendapatkan gaji pokok, sisa uangnya sekitar Rp7,57 juta.
Angka tersebut merupakan pengalaman dan simulasi pribadi, sehingga tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk semua pekerja di Jepang.
Bagi saya, hal yang paling penting sebelum kerja di Jepang adalah memahami kondisi keuangan secara menyeluruh.
Jangan hanya bertanya, “Gajinya berapa?”
Tetapi tanyakan juga:
“Setelah dipotong pajak, asuransi, tempat tinggal, makanan, transportasi, dan kebutuhan lainnya, berapa uang yang benar-benar tersisa?”
Dengan mengetahui angka tersebut sejak awal, saya bisa membuat rencana keuangan yang lebih realistis dan tidak mudah kaget ketika sudah tinggal dan bekerja di Jepang.
