Kerja di Jepang: Gaji 22 Hari Kerja dan 8 Jam Lembur, Benarkah Bisa 20 Juta?
Banyak orang yang mencari informasi tentang kerja di Jepang pasti penasaran dengan satu hal: sebenarnya berapa sih gaji yang bisa diterima setiap bulan?
Di media sosial, saya sering melihat informasi bahwa gaji kerja di Jepang bisa mencapai Rp20 juta bahkan lebih. Tapi apakah angka tersebut benar-benar bisa diterima setiap bulan? Menurut saya, jawabannya tidak bisa disamaratakan karena jumlah gaji sangat bergantung pada jumlah hari kerja, sistem penggajian, lembur, serta potongan yang dikenakan.
Kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya sendiri ketika menerima gaji setelah bekerja selama 22 hari dengan tambahan lembur 8 jam.
Gaji Kerja di Jepang Saya: 22 Hari Kerja dan 8 Jam Lembur
Pada bulan tersebut, saya bekerja selama 22 hari. Jika dihitung berdasarkan jam kerja, total waktu kerja saya mencapai 176 jam.
Selain jam kerja normal, saya juga mendapatkan lembur. Total lembur saya pada bulan tersebut adalah 8 jam. Jadi, jumlah jam lembur tersebut ikut menambah penghasilan yang saya terima.
Dari slip gaji, pendapatan untuk jam kerja normal tercatat sekitar 198.528 yen. Sementara itu, lembur selama 8 jam mendapatkan tambahan sekitar 11.280 yen.
Kalau kemudian dikonversikan ke rupiah, jumlah pendapatan kotor saya berada di kisaran Rp20 juta lebih.
Inilah yang kemudian membuat saya memahami kenapa angka gaji Rp20 juta atau lebih sering muncul ketika orang membicarakan kerja di Jepang. Namun, perlu diperhatikan bahwa angka tersebut merupakan gaji kotor, bukan uang yang langsung masuk ke rekening.
Kenapa Gaji Kotor dan Gaji Bersih Berbeda?
Ini bagian yang menurut saya sangat penting untuk dipahami bagi teman-teman yang sedang merencanakan kerja di Jepang.
Ketika melihat informasi gaji Rp20 juta, jangan langsung menganggap bahwa seluruh uang tersebut akan diterima. Di Jepang ada berbagai potongan yang membuat jumlah gaji bersih menjadi lebih kecil.
Pada gaji saya, beberapa potongan tersebut antara lain:
Asuransi kesehatan
Pajak pensiun
Asuransi ketenagakerjaan
Biaya tempat tinggal
Biaya listrik dan kebutuhan rumah lainnya
Potongan asuransi kesehatan yang tercatat sekitar 11.319 yen, sedangkan potongan pensiun sekitar 20.130 yen. Ada juga potongan asuransi ketenagakerjaan sekitar 128 yen.
Selain itu, saya juga mendapatkan potongan untuk tempat tinggal dan kebutuhan utilitas.
Biaya bangunan atau sewa tempat tinggal yang tercatat sekitar 18.000 yen, sedangkan biaya listrik, gas, air, dan kebutuhan lainnya sekitar 10.641 yen per orang.
Jadi, sebelum melihat angka gaji bersih, saya harus melihat terlebih dahulu seluruh potongan yang ada di slip gaji.
Gaji Rp20 Juta Bukan Berarti Tabungan Rp20 Juta
Ini juga menjadi hal yang menurut saya penting untuk diluruskan.
Misalnya kita melihat informasi bahwa kerja di Jepang bisa mendapatkan gaji Rp20 juta, bukan berarti Rp20 juta tersebut bisa langsung ditabung.
Gaji yang terlihat pada slip merupakan gaji kotor. Setelah dikurangi berbagai potongan, jumlah yang benar-benar saya terima menjadi jauh lebih kecil.
Dalam pengalaman saya, total seluruh potongan yang tercatat mencapai sekitar 61.098 yen. Setelah semua potongan tersebut dikurangi, gaji bersih yang saya terima berada di kisaran 148.710 yen.
Jadi, kalau teman-teman sedang mencari informasi tentang gaji kerja di Jepang, jangan hanya melihat angka gaji kotor. Justru yang perlu diperhatikan adalah berapa gaji bersih setelah seluruh potongan.
Gaji Kerja di Jepang Bisa Berbeda Setiap Bulan
Hal lain yang saya alami adalah jumlah gaji yang saya terima tidak selalu sama setiap bulan.
Pada bulan ini saya bekerja selama 22 hari dan mendapatkan tambahan lembur 8 jam. Hasilnya tentu berbeda dengan bulan sebelumnya.
Pada bulan sebelumnya, saya bekerja sekitar 20 hari tanpa lembur. Gaji kotor yang saya terima pada saat itu sekitar 177.700 yen, sedangkan total potongannya sekitar 55.900 yen. Setelah dikurangi berbagai potongan, jumlah yang saya terima berada di kisaran 111.900 yen.
Dari pengalaman tersebut, saya bisa melihat bahwa jumlah gaji memang dapat berubah tergantung pada jumlah hari kerja dan ada atau tidaknya lembur.
Jadi kalau ada orang mengatakan bahwa gaji kerja di Jepang selalu Rp20 juta setiap bulan, menurut saya kita perlu melihat kembali sistem penggajian dan kondisi pekerjaannya.
Lembur Bisa Menambah Penghasilan
Dalam pengalaman saya, lembur memang cukup berpengaruh terhadap jumlah pendapatan.
Pada bulan ketika saya bekerja 22 hari, saya mendapatkan tambahan lembur selama 8 jam. Tambahan lembur tersebut membuat total pendapatan saya menjadi lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya ketika saya tidak mendapatkan lembur.
Karena itu, ketika mencari kerja di Jepang, jangan hanya bertanya mengenai gaji pokok. Saya juga menyarankan untuk memahami:
Berapa jam kerja normal?
Apakah ada lembur?
Bagaimana sistem pembayaran lembur?
Apakah lembur tersedia secara rutin?
Apa saja potongan gaji?
Berapa biaya tempat tinggal?
Apakah gaji dihitung per jam atau per bulan?
Pertanyaan seperti ini menurut saya jauh lebih penting daripada hanya melihat angka gaji yang besar.
Gaji Per Jam dan Gaji Bulanan
Dari pengalaman saya, ada perbedaan antara perusahaan yang menghitung gaji berdasarkan jam kerja dengan perusahaan yang menggunakan sistem gaji bulanan.
Saya sendiri menggunakan sistem perhitungan gaji berdasarkan jam. Artinya, jumlah hari kerja dan jam kerja dapat memengaruhi jumlah pendapatan.
Sementara itu, ada juga perusahaan yang menggunakan sistem gaji bulanan. Dalam sistem tersebut, meskipun jumlah hari kerja dalam satu bulan berbeda, pembayaran bulanannya dapat tetap sama sesuai sistem perusahaan.
Karena itu, menurut pengalaman saya, sistem penggajian juga menjadi salah satu hal yang harus ditanyakan sebelum menerima pekerjaan.
Jangan Hanya Mengejar Gaji Besar Saat Kerja di Jepang
Selain membicarakan gaji, ada satu hal yang menurut saya justru lebih penting.
Ketika mencari pekerjaan di Jepang, saya tidak hanya melihat berapa besar gajinya. Saya lebih memilih pekerjaan dengan lingkungan yang nyaman, pekerjaan yang masih bisa dijalani dengan baik, dan orang-orang di tempat kerja yang bisa bekerja sama dengan baik.
Dalam pengalaman yang saya ceritakan, saya juga menyarankan agar calon pekerja tidak terburu-buru memilih pekerjaan hanya karena ingin cepat berangkat ke Jepang.
Kalau perlu menunggu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai, menurut saya itu lebih baik daripada terburu-buru berangkat tetapi kemudian menyesal karena pekerjaan terlalu berat atau lingkungan kerjanya tidak sesuai harapan.
Memilih Pekerjaan di Jepang Juga Perlu Dipikirkan
Saya sendiri lebih menyarankan teman-teman yang ingin kerja di Jepang untuk memperhatikan jenis pekerjaannya.
Dalam pengalaman saya, pekerjaan di dalam ruangan bisa terasa lebih nyaman karena tidak terlalu terpengaruh oleh panas dan dinginnya cuaca dibandingkan pekerjaan di luar ruangan.
Namun tentu saja, setiap pekerjaan memiliki kondisi masing-masing. Yang penting adalah calon pekerja mengetahui sejak awal pekerjaan seperti apa yang akan dijalani.
Jangan hanya melihat angka gajinya.
Kesimpulan: Berapa Gaji Kerja di Jepang yang Saya Terima?
Dari pengalaman saya, pada bulan tersebut saya bekerja 22 hari dengan total 176 jam kerja, ditambah 8 jam lembur.
Gaji kotor saya berada di kisaran Rp20 juta lebih, sedangkan setelah dikurangi berbagai potongan, gaji bersih yang saya terima menjadi lebih rendah.
Bulan sebelumnya, ketika saya bekerja sekitar 20 hari tanpa lembur, jumlah yang saya terima juga berbeda. Ini menunjukkan bahwa gaji kerja di Jepang tidak selalu sama setiap bulan, terutama jika sistem penggajiannya berdasarkan jam kerja dan jumlah lembur.
Jadi, kalau teman-teman sedang mencari informasi kerja di Jepang, jangan hanya bertanya, "Gajinya berapa?"
Lebih baik tanyakan secara lengkap:
Berapa gaji kotor, berapa gaji bersih, bagaimana sistem lemburnya, apa saja potongannya, berapa biaya tempat tinggal, dan apakah gajinya dihitung per jam atau per bulan?
Dengan memahami semua itu sejak awal, kita bisa memiliki gambaran yang lebih realistis tentang kehidupan dan penghasilan selama kerja di Jepang.
