Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kerja di Jepang di Kebun Stroberi: Gaji, Pekerjaan, Biaya, dan Pengalamannya

Kerja di Jepang menjadi salah satu pilihan bagi orang Indonesia yang ingin mendapatkan pengalaman bekerja di luar negeri. Salah satu bidang yang cukup menarik untuk dibahas adalah pekerjaan di sektor pertanian, termasuk bekerja di kebun stroberi.

Seperti apa sebenarnya pekerjaan di kebun stroberi Jepang? Apakah pekerjaannya berat? Berapa gajinya? Apakah mendapatkan makan dari perusahaan? Dan berapa biaya yang perlu disiapkan untuk berangkat?

Artikel ini membahas pengalaman seorang pekerja Indonesia yang bekerja di pertanian stroberi di Jepang. Karena berasal dari pengalaman pribadi, nominal gaji, biaya keberangkatan, dan kondisi pekerjaan dapat berbeda dengan tempat kerja lainnya.

Kerja di Jepang di Kebun Stroberi Seperti Apa?

Pekerjaan di kebun stroberi tidak hanya memetik buah.

Dalam pengalaman yang dibagikan, pekerja juga melakukan berbagai pekerjaan perawatan tanaman. Salah satunya adalah mengambil daun dan bunga kecil yang tidak diperlukan.

Pekerjaan tersebut dilakukan seperti proses pruning atau pemangkasan bagian tanaman tertentu. Daun dan bunga kecil yang diambil kemudian dikumpulkan ke dalam karung atau wadah.

Ketika memasuki masa panen, aktivitas di kebun menjadi lebih ramai. Pekerja juga dapat memiliki waktu libur yang lebih sedikit karena pekerjaan sedang banyak.

Dalam pengalaman tersebut, saat musim panen pekerja hanya mendapatkan satu hari libur dalam seminggu.

Bekerja di Greenhouse Saat Musim Dingin

Salah satu hal menarik dari kerja di Jepang di sektor pertanian adalah pekerjaan tidak selalu dilakukan di lahan terbuka.

Kebun stroberi dalam pengalaman tersebut menggunakan greenhouse atau rumah tanaman. Dengan demikian, pekerja tetap dapat melakukan aktivitas pertanian meskipun kondisi di luar sangat dingin.

Di dalam greenhouse terdapat sistem penghangat untuk membantu menjaga kondisi suhu. Ketika suhu terlalu rendah, alat tersebut dapat digunakan untuk menjaga kondisi lingkungan tanaman.

Karena berada di dalam greenhouse, pekerjaan saat musim dingin menurut pengalaman pekerja tersebut tetap dapat dilakukan dengan lebih nyaman dibandingkan bekerja sepenuhnya di luar ruangan.

Berapa Lama Masa Panen Stroberi?

Dalam pengalaman yang diceritakan, masa panen stroberi berlangsung sekitar enam bulan.

Pekerjaan panen dilakukan pada periode musim dingin hingga beberapa bulan berikutnya. Setelah masa panen selesai, tanaman kemudian dibongkar dan dilakukan penanaman kembali.

Artinya, tanaman yang digunakan tidak dibiarkan begitu saja untuk menghasilkan buah selama bertahun-tahun. Setelah siklus panen selesai, proses pertanian kembali dipersiapkan untuk periode berikutnya.

Bagaimana Cara Menanam Stroberi di Jepang?

Menariknya, pembibitan stroberi yang diceritakan dalam video tersebut tidak menggunakan biji.

Tanaman stroberi menghasilkan bagian yang menjalar dari tanaman induk. Bagian tersebut kemudian diarahkan dan ditanam pada pot kecil hingga menghasilkan tanaman baru.

Setelah tanaman memiliki akar yang cukup kuat, tanaman tersebut kemudian dapat dikembangkan kembali untuk kebutuhan pertanian.

Jadi, pekerja pertanian tidak hanya bertugas memanen stroberi, tetapi juga dapat terlibat dalam proses pembibitan dan perawatan tanaman.

Teknologi yang Digunakan di Kebun Stroberi

Pertanian di Jepang dalam pengalaman tersebut juga menggunakan berbagai peralatan untuk membantu proses budidaya.

Di dalam greenhouse terdapat selang yang digunakan untuk membantu penyiraman dan pemberian nutrisi atau bahan tertentu pada tanaman.

Selain itu, terdapat banyak lampu yang digunakan di dalam greenhouse. Lampu tersebut membantu memberikan pencahayaan bagi tanaman ketika kondisi gelap dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan pertanian di Jepang dapat menggunakan teknologi untuk membantu menjaga kondisi tanaman dan meningkatkan kualitas hasil pertanian.

Kualitas Stroberi Sangat Diperhatikan

Salah satu hal yang cukup menarik dari pengalaman kerja di Jepang di kebun stroberi adalah perhatian terhadap kualitas buah.

Stroberi yang akan dipanen harus diperiksa dengan teliti. Buah yang mengalami lecet atau memiliki cacat dapat dipisahkan dari buah dengan kualitas yang lebih baik.

Bentuk dan ukuran buah juga dapat memengaruhi harga.

Dalam pengalaman tersebut, stroberi dengan bentuk tertentu, terutama yang dianggap memiliki kualitas lebih baik, dapat memiliki harga lebih tinggi dibandingkan buah lainnya.

Hal ini menjadi salah satu contoh bagaimana standar kualitas produk dapat menjadi bagian penting dalam pekerjaan pertanian.

Berapa Gaji Kerja di Jepang di Kebun Stroberi?

Mengenai gaji kerja di Jepang, pekerja dalam sumber tersebut tidak menyebutkan jumlah gaji bulanan secara spesifik.

Ia memberikan gambaran mengenai upah per jam. Dalam transkrip disebutkan nominal sekitar Rp100.000 per jam setelah dikonversikan ke rupiah, tetapi angka dalam transkrip mengalami gangguan pada bagian nominal sehingga sebaiknya dianggap sebagai gambaran pengalaman pribadi, bukan patokan gaji seluruh pekerja pertanian di Jepang.

Sistem pembayaran yang diceritakan juga berkaitan dengan jumlah hari kerja. Jika tidak masuk bekerja, maka tidak mendapatkan penghasilan untuk hari tersebut.

Karena itu, jumlah pendapatan yang diterima dapat berbeda tergantung jumlah jam dan hari kerja.

Apakah Kerja di Jepang di Pertanian Mendapat Makan?

Tidak semua tempat kerja memberikan fasilitas makanan yang sama.

Dalam pengalaman pekerja tersebut, tempat kerja di kebun stroberi yang ia tempati tidak memberikan makan siang atau makanan utama. Makanan harus disiapkan atau dibeli sendiri.

Namun, pengalaman pekerja lain di sektor pertanian berbeda. Ada tempat kerja yang memberikan makanan ringan seperti roti, onigiri, dan minuman ketika waktu istirahat.

Karena itu, calon pekerja perlu menanyakan fasilitas yang diberikan perusahaan sebelum menerima pekerjaan.

Jangan menganggap semua perusahaan pertanian di Jepang memberikan fasilitas yang sama.

Berapa Biaya untuk Kerja di Jepang?

Biaya keberangkatan juga menjadi salah satu pertanyaan penting bagi orang yang ingin kerja di Jepang.

Dalam pengalaman yang diceritakan, pekerja tersebut mengeluarkan sekitar Rp50 juta untuk proses keberangkatan, termasuk biaya pendidikan dan berbagai kebutuhan sampai berangkat. Namun, ia juga menjelaskan bahwa kondisi setiap orang dapat berbeda.

Ia bahkan menceritakan bahwa uang tersebut bukan berasal dari tabungan orang tua, melainkan diperoleh melalui pinjaman kepada keluarga.

Setelah bekerja di Jepang, penghasilan yang diperoleh kemudian digunakan untuk melunasi pinjaman tersebut.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa biaya keberangkatan tidak selalu berarti seseorang harus berasal dari keluarga yang memiliki banyak uang. Namun, apabila menggunakan pinjaman, tentu perlu memperhitungkan kemampuan untuk mengembalikannya.

Apakah Kerja di Jepang di Bidang Pertanian Worth It?

Menurut pengalaman pribadi narator, bekerja di pertanian Jepang dinilai cukup menarik, terutama bagi orang yang belum memiliki pekerjaan dan ingin mendapatkan pengalaman bekerja di luar negeri.

Namun, keputusan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Pekerjaan pertanian tetap membutuhkan kemampuan beradaptasi, kedisiplinan, dan kesiapan menghadapi pekerjaan yang berhubungan dengan tanaman serta kondisi lingkungan.

Narator juga menyarankan agar calon pekerja mencari lembaga pelatihan kerja yang terpercaya dan belajar dengan sungguh-sungguh sebelum berangkat.

Hati-Hati Memilih LPK untuk Kerja di Jepang

Bagi calon pekerja yang ingin menggunakan jalur LPK, pemilihan lembaga pelatihan menjadi hal yang penting.

Dalam pengalaman sumber tersebut, narator mengingatkan agar calon pekerja tidak sembarangan memilih LPK karena terdapat risiko menemukan lembaga yang tidak dapat dipercaya.

Salah satu hal yang disarankan adalah mencari tahu apakah LPK tersebut sudah pernah memberangkatkan peserta ke Jepang dan menanyakan secara jelas biaya yang harus dibayarkan.

Jangan hanya tergiur dengan janji keberangkatan cepat atau gaji besar.

Sebelum membayar, calon pekerja sebaiknya memahami:

  • biaya pendidikan;

  • biaya keberangkatan;

  • jenis pekerjaan;

  • lokasi pekerjaan;

  • sistem penggajian;

  • fasilitas tempat tinggal;

  • fasilitas makan;

  • jam kerja;

  • waktu libur;

  • dokumen yang diperlukan; dan

  • ketentuan lainnya.

Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Kerja di Jepang

Jika tertarik bekerja di sektor pertanian Jepang, persiapan tidak cukup hanya dengan mengumpulkan uang.

Beberapa hal yang dapat dipersiapkan berdasarkan pengalaman dalam sumber tersebut antara lain:

1. Belajar Bahasa Jepang

Kemampuan bahasa akan membantu komunikasi selama berada di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari.

2. Pilih Bidang yang Sesuai

Jika tertarik dengan pertanian, pahami terlebih dahulu seperti apa pekerjaan yang akan dilakukan.

3. Cari Informasi LPK dengan Teliti

Jangan memilih lembaga pelatihan hanya karena mendapatkan promosi dari media sosial.

4. Tanyakan Biaya Secara Terbuka

Pastikan calon pekerja mengetahui seluruh komponen biaya sebelum melakukan pembayaran.

5. Pahami Kondisi Pekerjaan

Cari tahu jam kerja, hari libur, fasilitas makanan, tempat tinggal, dan sistem pembayaran.

6. Siapkan Mental

Tinggal dan bekerja di luar negeri tentu berbeda dengan berada di Indonesia. Kesiapan mental menjadi bagian penting sebelum keberangkatan.

Kesimpulan

Kerja di Jepang di kebun stroberi dapat menjadi salah satu pilihan bagi orang Indonesia yang tertarik bekerja di sektor pertanian.

Pekerjaannya tidak hanya memanen stroberi, tetapi juga dapat mencakup pembibitan, perawatan tanaman, mengambil daun dan bunga, menjaga kualitas buah, hingga berbagai pekerjaan lainnya di dalam greenhouse.

Dari pengalaman yang dibagikan, pekerjaan pertanian juga memiliki tantangan tersendiri. Fasilitas setiap tempat kerja dapat berbeda, termasuk mengenai makanan, sistem pembayaran, jam kerja, dan kondisi tempat tinggal.

Karena itu, sebelum memutuskan kerja di Jepang, jangan hanya melihat nominal gaji. Pelajari juga biaya keberangkatan, jenis pekerjaan, fasilitas, kondisi kerja, dan lembaga yang membantu proses keberangkatan.

Yang paling penting, jangan mudah percaya pada tawaran yang tidak jelas. Cari informasi sebanyak mungkin dan pastikan setiap biaya serta ketentuan pekerjaan dapat dipahami sebelum berangkat.