Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kerja di Jepang Berapa yang Bisa Saya Tabung dalam Sebulan?

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapatkan dari orang yang ingin kerja di Jepang adalah: “Kalau kerja di Jepang, bisa nabung berapa juta dalam sebulan?”

Pertanyaan ini memang wajar. Sebelum berangkat ke luar negeri, kita tentu ingin tahu apakah penghasilan yang didapat nantinya sebanding dengan biaya hidup dan pengorbanan yang harus dijalani.

Kalau berdasarkan pengalaman saya selama bekerja di Jepang, saya tidak ingin memberikan angka yang terlalu tinggi atau membuat orang berekspektasi berlebihan.

Menurut saya, kalau kita bisa hidup dengan baik, tidak menghamburkan uang, dan pandai mengatur pengeluaran, menabung sekitar Rp5 juta per bulan masih memungkinkan. Kalau mendapatkan bonus dan lembur, jumlah tabungan bisa meningkat hingga sekitar Rp10 juta per bulan.

Kerja di Jepang Bisa Nabung Rp5 Juta Sebulan?

Menurut saya, target menabung Rp5 juta per bulan cukup realistis berdasarkan pengalaman yang saya ceritakan.

Tentunya ini bukan angka yang pasti untuk semua orang. Kondisi setiap pekerja berbeda-beda, mulai dari gaji, biaya tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, sampai gaya hidup.

Saya sendiri melihat bahwa kalau kita masih lajang, tidak mempunyai banyak tanggungan, makan dengan hemat, dan mampu mengatur keuangan, peluang untuk menyisihkan uang setiap bulan menjadi lebih besar.

Saya juga tidak menyarankan orang yang baru berencana kerja di Jepang untuk langsung mempunyai ekspektasi bisa menabung puluhan juta setiap bulan.

Lebih baik menggunakan target yang masuk akal terlebih dahulu.

Menurut saya, bisa menyisihkan Rp5 juta setiap bulan sudah cukup baik.

Kalau Hemat, Tabungan Bisa Lebih Besar

Jumlah tabungan tentu bisa berbeda kalau kondisi keuangan kita lebih baik.

Misalnya mendapatkan bonus atau lembur, penghasilan bulanan bisa bertambah. Kalau tambahan tersebut tidak langsung dihabiskan dan kita tetap menjaga pengeluaran, uang yang bisa ditabung juga semakin besar.

Dalam pengalaman yang saya ceritakan, ada pekerja yang bisa menabung sampai sekitar Rp10 juta per bulan karena mendapatkan lembur dan bonus serta mampu berhemat.

Jadi, jangan hanya melihat gaji ketika membahas penghasilan kerja di Jepang.

Yang lebih penting adalah melihat berapa uang yang tersisa setelah semua kebutuhan dibayar.

Gaji besar tetapi pengeluaran juga besar belum tentu menghasilkan tabungan yang besar.

Sebaliknya, kalau penghasilan cukup dan kita bisa mengontrol pengeluaran, uang yang tersisa bisa lebih banyak.

Saya Memilih Tidak Memberikan Ekspektasi Terlalu Tinggi

Saya pernah mendapatkan pertanyaan dari orang tua yang anaknya berencana pergi ke Jepang.

Pertanyaannya sederhana:

“Kalau kerja di Jepang, bisa nabung berapa sebulan?”

Saya menjawab berdasarkan pengalaman saya, kira-kira Rp5 juta sampai Rp10 juta, tergantung kondisi masing-masing.

Tetapi orang tua tersebut kemudian mengatakan bahwa kalau hanya bisa menabung sebanyak itu, menurutnya anaknya terlalu jauh kalau harus pergi ke Jepang.

Saya memahami kenapa ada orang yang berpikir seperti itu.

Orang mungkin membayangkan bahwa bekerja di luar negeri otomatis membuat seseorang bisa mendapatkan tabungan yang sangat besar.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Ada biaya hidup yang harus dibayar dan ada banyak kebutuhan yang harus diperhitungkan.

Jangan Hanya Membandingkan Tabungan dengan Indonesia

Menurut saya, membandingkan kerja di Jepang dengan kerja di Indonesia tidak bisa hanya berdasarkan nominal tabungan.

Kalau seseorang mempunyai kemampuan atau skill yang bagus dan di Indonesia sudah bisa mendapatkan penghasilan yang cukup baik, tentu bekerja di Indonesia juga bisa menjadi pilihan yang bagus.

Saya sendiri tidak mengatakan bahwa semua orang harus pergi ke Jepang.

Yang saya sampaikan adalah berdasarkan pengalaman saya.

Apalagi kondisi mencari pekerjaan di Indonesia juga menjadi salah satu alasan mengapa sebagian anak muda mempertimbangkan bekerja ke luar negeri.

Karena itu, sebelum memutuskan untuk pergi, menurut saya setiap orang perlu menghitung kembali tujuan, biaya keberangkatan, penghasilan, dan kemungkinan tabungan.

Siapa yang Lebih Mudah Menabung?

Dari pengalaman saya, pekerja yang masih lajang dan tidak memiliki banyak utang atau tanggungan biasanya mempunyai ruang lebih besar untuk mengatur tabungan.

Misalnya, kalau kebutuhan sehari-hari bisa ditekan, makanan bisa diatur dengan hemat, dan tidak terlalu banyak mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak diperlukan, sebagian penghasilan bisa langsung disisihkan.

Sebaliknya, kalau mempunyai banyak tanggungan atau cicilan, jumlah uang yang bisa ditabung tentu bisa berbeda.

Jadi ketika ada orang bertanya, “Berapa tabungan dari kerja di Jepang?”, menurut saya jawabannya tidak bisa hanya berdasarkan gaji.

Kondisi pribadi juga sangat menentukan.

Lembur Bisa Menambah Tabungan

Salah satu faktor yang bisa membuat tabungan bertambah adalah lembur.

Kalau pekerjaan sedang banyak dan perusahaan memberikan kesempatan lembur, penghasilan yang diterima bisa lebih tinggi dibandingkan bulan biasa.

Selain lembur, bonus juga dapat membuat jumlah uang yang bisa disimpan menjadi lebih besar.

Tetapi saya tetap menyarankan agar jangan menganggap lembur sebagai sesuatu yang pasti ada setiap bulan.

Kalau dari awal kita membuat perhitungan dengan asumsi selalu mendapatkan lembur, kemudian ternyata lemburnya sedikit, kita bisa kesulitan mengatur keuangan.

Lebih aman menghitung kebutuhan berdasarkan penghasilan yang memang pasti, kemudian menganggap lembur atau bonus sebagai tambahan.

Target Tabungan Rp5–10 Juta Per Bulan

Kalau saya rangkum berdasarkan pengalaman yang saya ceritakan, gambaran sederhananya seperti ini:

  • Sekitar Rp5 juta per bulan: masih memungkinkan dengan hidup hemat.

  • Lebih dari Rp5 juta: bisa terjadi jika pengeluaran lebih rendah dan kondisi penghasilan mendukung.

  • Sekitar Rp10 juta per bulan: memungkinkan ketika mendapatkan bonus atau lembur dan tetap mampu mengontrol pengeluaran.

  • Di atas angka tersebut: tentu ada juga yang bisa mencapainya, tetapi tidak bisa dijadikan patokan untuk semua pekerja.

Saya sengaja menggunakan angka tersebut supaya orang yang sedang merencanakan kerja di Jepang tidak mempunyai ekspektasi yang terlalu tinggi.

Yang penting bukan sekadar berapa besar gaji yang masuk, tetapi berapa yang benar-benar bisa kita simpan.

Jadi, Berapa yang Bisa Saya Tabung?

Kalau ada yang bertanya langsung kepada saya, “Kerja di Jepang bisa nabung berapa sebulan?”, jawaban saya adalah sekitar Rp5 juta sampai Rp10 juta, tergantung kondisi.

Kalau hidup hemat dan tidak banyak pengeluaran, Rp5 juta per bulan bisa menjadi target.

Kalau mendapatkan lembur dan bonus, tabungan bisa meningkat dan dalam pengalaman saya bisa mencapai sekitar Rp10 juta per bulan.

Tetapi angka ini bukan jaminan untuk setiap pekerja.

Jangan menjadikan pengalaman saya sebagai patokan mutlak. Gunakan sebagai gambaran awal, kemudian hitung sendiri berdasarkan kontrak kerja dan kondisi pekerjaan yang akan dijalani.

Kesimpulan

Kerja di Jepang memang bisa memberikan kesempatan untuk menabung, tetapi jumlah tabungan setiap orang tidak akan sama.

Berdasarkan pengalaman saya, dengan hidup hemat, masih lajang, dan tidak memiliki banyak tanggungan, menabung sekitar Rp5 juta per bulan masih memungkinkan. Kalau mendapatkan bonus dan lembur, tabungan bisa meningkat hingga sekitar Rp10 juta per bulan.

Jadi, kalau Anda sedang mempertimbangkan untuk kerja di Jepang, jangan hanya bertanya mengenai gaji.

Tanyakan juga berapa biaya hidup, berapa pengeluaran bulanan, apakah ada lembur, bagaimana sistem bonus, dan berapa uang yang realistis untuk ditabung.

Menurut saya, lebih baik berangkat dengan perhitungan yang realistis daripada mempunyai ekspektasi terlalu tinggi.

Yang terpenting adalah bekerja dengan baik, hidup hemat, mengatur uang, dan mempunyai tujuan yang jelas selama berada di Jepang.