Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kerja di Jepang: Beginilah Pengalaman Saya Memotong Rumput di Pelosok Jepang

Banyak orang membayangkan kerja di Jepang identik dengan gedung-gedung tinggi, pabrik, restoran, atau kehidupan kota yang ramai. Namun, pengalaman saya justru cukup berbeda. Saya pernah bekerja di daerah pelosok Jepang yang jauh dari kota, dengan pekerjaan memotong rumput di area yang sangat sepi.

Hari itu saya mendapatkan pekerjaan yang menurut saya cukup ekstrem. Rumput yang harus saya potong sangat tinggi, tebal, dan menjalar ke berbagai bagian. Bahkan, karena lokasinya berada di tempat yang cukup tinggi dan kondisi tanahnya lembek, saya harus bekerja dengan sangat hati-hati.

Kerja di Jepang Tidak Selalu di Kota

Saat berada di Jepang, saya menyadari bahwa lingkungan tempat bekerja bisa sangat berbeda-beda. Ada yang bekerja di kota dengan akses transportasi yang mudah, tetapi ada juga yang ditempatkan di daerah pedesaan yang jauh dari keramaian.

Lokasi tempat saya memotong rumput kali ini benar-benar berada di pelosok. Dari atas, saya bisa melihat beberapa rumah yang jaraknya cukup berjauhan. Rumah-rumah tersebut tidak sebanyak yang biasa kita lihat di daerah perkotaan. Di sisi lain, pemandangan pegunungan di sekitar lokasi justru sangat indah.

Suasananya sangat tenang. Bahkan kendaraan yang melintas bisa dihitung karena jumlahnya sangat sedikit. Orang-orang pun jarang terlihat.

Buat saya, kondisi seperti ini menjadi salah satu pengalaman menarik selama kerja di Jepang. Saya bisa merasakan suasana Jepang yang berbeda dari gambaran kota besar yang sering kita lihat di media sosial.

Memotong Rumput di Tempat yang Tinggi

Pekerjaan hari itu sebenarnya sederhana, yaitu memotong rumput. Namun, kondisi lokasinya membuat pekerjaan tersebut menjadi jauh lebih menantang.

Rumput yang saya potong sangat tinggi. Bahkan ketika saya sudah berada di bagian atas, masih ada rumput yang harus dibersihkan. Ketebalan rumputnya juga cukup luar biasa sehingga saya harus bekerja secara bertahap.

Saya menggunakan mesin potong rumput dan harus membawa mesin tersebut naik dengan hati-hati. Saya sengaja menghidupkan mesin dari bawah karena kalau sudah berada di atas akan lebih sulit untuk mengaturnya.

Yang membuat saya lebih waspada bukan hanya pekerjaan memotong rumputnya, tetapi kondisi tempat saya berdiri.

Kalau tidak hati-hati, saya bisa saja tergelincir dan jatuh ke bawah. Tanahnya cukup lembek dan permukaannya tidak selalu aman untuk diinjak. Karena itu, setiap langkah harus benar-benar diperhatikan.

Musim Dingin Tetap Bisa Berkeringat

Hal yang cukup lucu dari pekerjaan ini adalah saya tetap berkeringat meskipun saat itu musim dingin.

Bukan karena saya tidak kuat menahan dingin, tetapi karena pekerjaan dan kondisi tempatnya memang cukup menguras tenaga. Saya bahkan sempat mengatakan bahwa memotong rumputnya sebenarnya tidak terlalu sulit. Yang membuat saya tegang justru ketika melihat ke bawah dari tempat yang tinggi.

Saya juga harus beberapa kali berhenti untuk beristirahat. Rumput dan tali-tali yang melilit pada bagian piringan mesin harus dibersihkan terlebih dahulu. Kalau dipaksakan terus digunakan, putaran mesin menjadi sulit.

Di sisi lain, karena cuacanya sangat dingin, saya sampai bersin-bersin ketika sedang bekerja.

Jadi, pengalaman kerja di Jepang tidak selalu berarti bekerja dalam ruangan yang nyaman. Terkadang kita juga harus siap menghadapi pekerjaan lapangan dengan kondisi yang berbeda-beda.

Istirahat di Pinggir Jalan

Ketika sudah memasuki waktu makan siang, saya berhenti untuk makan. Karena lokasi pekerjaan berada di daerah yang sepi, saya makan dan beristirahat di pinggir jalan.

Orang-orang Jepang di sekitar kampung tersebut terkadang melihat saya. Mungkin mereka bertanya-tanya siapa saya dan mengapa saya makan serta beristirahat di pinggir jalan.

Bagi saya, hal seperti ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sebagai pekerja lapangan.

Saya juga selalu berusaha untuk tidak lupa makan ketika sedang bekerja. Bagaimanapun, menjaga kondisi tubuh sangat penting, terutama ketika pekerjaan membutuhkan tenaga fisik.

Bekal saya cukup sederhana. Saya membawa nasi dan ternyata di dalam tas masih ada abon Jepang yang saya beli di supermarket. Ketika sedang malas memasak, abon tersebut bisa menjadi tambahan makanan yang praktis.

Membeli Minuman dari Jidōhanbaiki

Di sekitar lokasi ternyata ada mesin penjual minuman otomatis atau jidōhanbaiki.

Saya cukup heran melihat mesin seperti ini berada di daerah yang sangat sepi. Tetapi ternyata tetap ada mesin penjual otomatis yang bisa digunakan oleh orang-orang yang lewat atau bekerja di sekitar lokasi.

Saya kemudian mengecek uang yang saya bawa dan membeli minuman. Dalam cerita saya, saya membawa uang sekitar 250 yen, sedangkan minuman yang saya pilih harganya sekitar 100 yen.

Setelah membeli minuman, saya kembali ke tempat istirahat. Saya duduk sebentar, minum, kemudian meluruskan badan sebelum melanjutkan pekerjaan.

Begitulah kehidupan saya ketika bekerja di lapangan. Tempat istirahat tidak selalu berupa ruangan khusus. Kadang di mana kita bisa berhenti, di situlah kita beristirahat.

Setelah Rumput Selesai Dipotong

Setelah melewati proses yang cukup melelahkan, akhirnya rumput di area tersebut berhasil saya bersihkan.

Bagian yang sebelumnya dipenuhi rumput tinggi dan menjalar sekarang terlihat jauh lebih rapi. Saya juga menggunakan alat penyemprot untuk membantu menyelesaikan pekerjaan setelah proses pemotongan rumput.

Pada bagian tertentu, saya bahkan menggunakan baket ekskavator sebagai tempat berpijak untuk membantu memotong rumput di area yang tinggi. Pekerjaan tersebut bisa dilakukan lebih cepat karena saya dapat menjangkau bagian yang sulit dari posisi tersebut.

Melihat hasil akhirnya, saya merasa cukup puas.

Rumput yang sebelumnya tinggi dan berantakan akhirnya terlihat bersih. Dari pekerjaan seperti ini saya belajar bahwa pekerjaan sederhana sekalipun tetap membutuhkan kehati-hatian, tenaga, dan tanggung jawab.

Setelah Kerja, Saya Menggiling Beras

Setelah pekerjaan selesai, ternyata cerita saya hari itu belum berakhir.

Saya mendapatkan beras langsung dari petani. Karena beras tersebut masih belum digiling, saya membawanya ke tempat penggilingan beras.

Di Jepang, saya menemukan mesin penggilingan beras yang bisa digunakan sendiri. Caranya cukup sederhana, yaitu memasukkan beras kemudian membayar menggunakan uang koin.

Beras yang masih belum digiling terlihat berwarna kecokelatan. Setelah dimasukkan ke mesin, beras tersebut diproses hingga warnanya berubah menjadi putih.

Saya bahkan pernah salah mengira beras yang belum digiling sebagai beras merah. Waktu pertama kali datang ke Jepang, saya sempat langsung memasaknya. Setelah itu saya baru mengetahui dari teman bahwa beras tersebut memang harus digiling terlebih dahulu.

Menggiling 60 Kilogram Beras

Hari itu saya membawa dua karung beras untuk digiling.

Satu karung beratnya sekitar 30 kilogram. Jadi, total beras yang saya bawa mencapai 60 kilogram. Dalam cerita saya, biaya penggilingan yang disebutkan adalah sekitar Rp10.000 per kilogram, sehingga untuk 30 kilogram biayanya Rp30.000 dan dua karung atau 60 kilogram menjadi Rp60.000.

Beras tersebut sebenarnya bukan semuanya milik saya. Sebagian merupakan milik teman yang meminta bantuan saya untuk menggilingkannya.

Setelah proses selesai, beras yang sebelumnya berwarna kecokelatan berubah menjadi putih. Saya kemudian memasukkannya kembali ke dalam kendaraan untuk dibawa pulang.

Pelajaran dari Pengalaman Kerja di Jepang

Dari pengalaman kerja di Jepang ini, saya semakin memahami bahwa kehidupan sebagai pekerja di Jepang tidak selalu seperti yang terlihat di media sosial.

Ada pekerjaan yang dilakukan di kota, tetapi ada juga pekerjaan yang membawa kita ke daerah pedesaan yang sangat sepi. Ada pekerjaan di dalam ruangan, tetapi ada juga pekerjaan lapangan seperti memotong rumput yang membutuhkan tenaga dan kehati-hatian.

Saya juga belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Ketika bekerja di tempat yang jauh dari kota, kita harus bisa mengatur diri sendiri, mulai dari membawa makanan, membeli minuman, mencari tempat beristirahat, sampai memastikan peralatan kerja tetap bisa digunakan.

Yang paling penting, saya tetap berusaha menikmati prosesnya.

Walaupun pekerjaannya melelahkan dan lokasinya jauh dari keramaian, saya bisa menikmati pemandangan pegunungan, merasakan suasana pedesaan Jepang, dan mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak saya dapatkan kalau hanya bekerja di kota.

Kesimpulan

Kerja di Jepang ternyata memiliki banyak cerita. Tidak semuanya tentang gaji, kota besar, atau pekerjaan di perusahaan. Ada juga pengalaman bekerja di pelosok Jepang, memotong rumput yang tinggi, menghadapi medan yang cukup ekstrem, makan di pinggir jalan, hingga berinteraksi dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

Bagi saya, pengalaman seperti ini menjadi bagian dari perjalanan merantau. Setiap pekerjaan memiliki tantangannya sendiri dan setiap tempat memberikan pengalaman yang berbeda.

Hari itu saya berhasil menyelesaikan pekerjaan memotong rumput dan kemudian membantu menggiling beras milik teman. Setelah semuanya selesai, saya pun bersiap pulang.

Inilah salah satu cerita saya selama kerja di Jepang. Bukan pekerjaan yang mewah, tetapi justru dari pekerjaan seperti inilah saya mendapatkan pengalaman tentang kehidupan, kerja keras, dan bagaimana beradaptasi di negeri orang.