Gak Enak Jadi Karyawan di Norwegia, Ternyata Tidak Selalu Seindah yang Dibayangkan

Selama ini kalau mendengar kata kerja di Norwegia, yang terbayang mungkin adalah gaji besar, lingkungan yang nyaman, negara maju, dan kehidupan yang lebih tertata.

Tapi setelah saya mengetahui pengalaman seorang pekerja Indonesia yang sudah bekerja di Norwegia selama beberapa tahun, ternyata menjadi karyawan di sana juga punya sisi yang kurang enak.

Bukan berarti bekerja di Norwegia itu buruk. Justru banyak hal yang menarik. Hanya saja, kalau kita hanya melihat dari sisi gaji dan fasilitas, kita mungkin tidak mengetahui tantangan yang sebenarnya dirasakan ketika sudah tinggal dan bekerja di sana.

Ada beberapa hal yang menurut saya cukup menarik untuk diketahui, terutama bagi teman-teman yang punya rencana mencari kerja di Norwegia.

1. Cuaca Buruk Tetap Harus Masuk Kerja

Hal pertama yang menurut saya cukup mengejutkan adalah masalah cuaca.

Norwegia tentu terkenal dengan cuacanya yang dingin, terutama ketika musim salju. Ketika melihat kondisi salju yang cukup tebal, mungkin kita berpikir bahwa aktivitas kerja akan dihentikan.

Ternyata tidak selalu begitu.

Dari pengalaman yang saya pelajari, meskipun cuaca sedang buruk dan salju turun, pekerja tetap harus menjalankan kewajibannya.

Tidak ada alasan hanya karena cuaca dingin kemudian tidak masuk kerja.

Buat orang yang sudah terbiasa dengan kondisi tersebut mungkin bukan masalah besar. Tapi bagi orang Indonesia yang belum terbiasa dengan musim dingin, tentu membutuhkan adaptasi.

Menurut saya, ini salah satu hal yang harus dipersiapkan secara mental sebelum memutuskan bekerja di Norwegia.

2. Jam Kerja 37,5 Jam per Minggu

Hal berikutnya adalah mengenai jam kerja.

Di Norwegia, jam kerja yang dijalani dalam pengalaman tersebut sekitar 37,5 jam per minggu.

Bagi sebagian orang, tentu ini justru terdengar menyenangkan.

Jam kerja tidak terlalu panjang sehingga masih ada waktu untuk beristirahat dan melakukan kegiatan lainnya.

Tapi masalahnya menjadi berbeda kalau tujuan kita bekerja di luar negeri adalah ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

Kalau kita termasuk orang yang ingin mengambil banyak tambahan jam kerja, tentu adanya batasan jam kerja bisa terasa kurang menyenangkan.

Memang masih memungkinkan untuk menambah jam kerja, tetapi ada konsekuensi tertentu yang perlu diperhitungkan, terutama berkaitan dengan pajak ketika jam kerja melebihi batas tersebut.

Jadi menurut saya, sebelum berangkat kita harus tahu dulu tujuan kita bekerja di Norwegia.

Kalau ingin kehidupan yang lebih seimbang antara kerja dan waktu pribadi, jam kerja seperti ini mungkin justru menjadi keuntungan.

Tapi kalau targetnya adalah bekerja sebanyak mungkin untuk mengumpulkan uang, tentu perlu dipertimbangkan lagi.

3. Mau Resign Tidak Bisa Seenaknya

Hal lain yang menurut saya cukup penting adalah aturan ketika ingin berhenti bekerja.

Di tempat kerja yang diceritakan dalam pengalaman tersebut, karyawan harus memberikan pemberitahuan sekitar dua bulan sebelum resign.

Artinya, kita tidak bisa begitu saja memutuskan hari ini mau berhenti dan besok sudah tidak masuk kerja.

Bagi saya, hal ini cukup penting untuk dipahami terutama bagi orang yang punya rencana berpindah pekerjaan.

Misalnya kita menemukan lowongan pekerjaan baru yang lebih menarik.

Kita tentu ingin mencoba melamar. Tetapi masalahnya, pekerjaan baru tersebut belum tentu menerima kita.

Sementara itu, di pekerjaan lama kita sudah harus mengajukan permohonan untuk berhenti.

Di sinilah menurut saya letak kesulitannya.

Kita belum tentu mendapatkan pekerjaan baru, tetapi proses untuk meninggalkan pekerjaan lama sudah harus dimulai terlebih dahulu.

4. Sulit Mendapatkan Teman Dekat di Tempat Kerja

Ini mungkin salah satu hal yang paling menarik dari pengalaman tersebut.

Kalau kita terbiasa bekerja di Indonesia, suasana kantor sering kali cukup akrab.

Setelah pulang kerja misalnya, teman kantor bisa saja mengajak:

“Ngopi dulu yuk.”

Atau sekadar nongkrong dan ngobrol sebelum pulang.

Tapi jangan terlalu berharap menemukan suasana seperti itu ketika bekerja di Norwegia.

Dari pengalaman yang saya pelajari, hubungan dengan teman kerja memang bisa cukup baik ketika berada di lingkungan pekerjaan.

Mereka bisa ngobrol, bercanda, bahkan saling bertanya tentang kehidupan masing-masing.

Tetapi ketika jam kerja selesai, hubungan tersebut sering kali juga ikut selesai.

Mereka pulang ke rumah masing-masing dan menjalani kehidupan pribadi.

5. Setelah Pulang Kerja Bisa Seperti Tidak Saling Kenal

Buat orang Indonesia, bagian ini mungkin cukup terasa berbeda.

Ketika sedang bekerja, kita bisa ngobrol dengan teman kantor.

Tapi setelah selesai bekerja, teman tersebut bisa langsung pulang tanpa banyak basa-basi.

Bahkan ketika bertemu di luar lingkungan kerja, belum tentu sering menyapa atau mengobrol.

Menurut saya, ini bukan berarti orang Norwegia tidak ramah.

Lebih kepada adanya perbedaan budaya dalam memisahkan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Kalau kita terbiasa dengan lingkungan kerja yang sangat sosial, kondisi seperti ini mungkin pada awalnya terasa asing.

6. Lingkungan Kerja Bisa Terasa Kaku

Masih berkaitan dengan masalah pertemanan, lingkungan kerja juga bisa terasa lebih kaku.

Ketika berada di tempat kerja, komunikasi tetap berjalan dengan baik.

Tetapi setelah pekerjaan selesai, masing-masing kembali ke kehidupan pribadi.

Bagi orang yang terbiasa bekerja sambil bercanda, nongkrong bersama teman kantor, atau sering melakukan kegiatan bersama setelah pulang kerja, perubahan suasana ini mungkin cukup terasa.

Menurut saya, hal seperti ini justru harus diperhatikan sebelum memutuskan bekerja di negara lain.

Jangan hanya bertanya:

“Berapa gajinya?”

Tapi juga tanyakan:

“Seperti apa kehidupan saya setelah bekerja?”

Karena mendapatkan gaji besar belum tentu membuat seseorang merasa nyaman kalau lingkungan dan budaya kerjanya tidak sesuai dengan kepribadian.

Apakah Berarti Kerja di Norwegia Tidak Enak?

Tentu tidak.

Menurut saya, tidak adil kalau kita langsung menyimpulkan bahwa bekerja di Norwegia itu tidak enak hanya karena beberapa pengalaman di atas.

Setiap orang bisa memiliki pengalaman yang berbeda.

Ada orang yang justru menyukai jam kerja yang lebih teratur.

Ada juga orang yang senang karena setelah bekerja bisa langsung pulang dan menikmati waktu pribadi tanpa harus ikut nongkrong dengan teman kantor.

Begitu juga dengan cuaca.

Bagi orang yang sudah terbiasa dengan salju dan musim dingin, mungkin kondisi tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Jadi, apa yang dianggap tidak enak oleh satu orang belum tentu dianggap tidak enak oleh orang lain.

Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Kerja di Norwegia

Kalau Anda punya rencana bekerja di Norwegia, menurut saya jangan hanya mempersiapkan CV dan kemampuan kerja.

Ada beberapa hal lain yang juga perlu dipersiapkan.

Persiapkan Mental Menghadapi Cuaca

Musim dingin dan salju tentu berbeda jauh dengan kondisi di Indonesia.

Pastikan kita siap menghadapi perubahan cuaca dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pahami Aturan Perusahaan

Sebelum menandatangani kontrak kerja, baca dan pahami aturan perusahaan.

Termasuk aturan mengenai jam kerja, lembur, cuti, hingga prosedur pengunduran diri.

Jangan Hanya Fokus pada Gaji

Gaji memang penting.

Tetapi jangan sampai kita hanya melihat nominal gaji tanpa mempertimbangkan biaya hidup, pajak, tempat tinggal, transportasi, dan kehidupan sehari-hari.

Siapkan Diri dengan Budaya yang Berbeda

Ini juga tidak kalah penting.

Budaya kerja di Norwegia tentu tidak sama dengan Indonesia.

Cara berkomunikasi, hubungan dengan teman kerja, dan cara menghabiskan waktu setelah bekerja bisa berbeda.

Kalau sudah mengetahui hal ini sejak awal, kita bisa lebih siap ketika benar-benar tinggal di sana.

Kesimpulan

Bekerja di Norwegia memang terlihat menarik, tetapi ternyata ada juga sisi yang tidak selalu kita bayangkan.

Dari pengalaman yang saya pelajari, beberapa hal yang bisa terasa kurang nyaman adalah cuaca buruk yang tidak otomatis menjadi alasan untuk tidak bekerja, jam kerja yang relatif terbatas bagi orang yang ingin mengambil banyak tambahan jam, aturan resign yang membutuhkan pemberitahuan terlebih dahulu, serta hubungan sosial dengan teman kerja yang tidak selalu berlanjut setelah jam kerja selesai.

Menurut saya, semua itu bukan berarti Norwegia merupakan tempat yang buruk untuk bekerja.

Justru kita perlu melihatnya secara lebih realistis.

Sebelum memutuskan bekerja di luar negeri, jangan hanya mencari informasi tentang gaji.

Cari tahu juga tentang budaya kerja, jam kerja, aturan perusahaan, cuaca, biaya hidup, dan kehidupan sosialnya.

Karena pada akhirnya, bekerja di luar negeri bukan hanya soal berapa banyak uang yang bisa kita dapatkan, tetapi juga tentang apakah kita bisa merasa nyaman menjalani kehidupan di sana.