10 Tahun Kerja di Jepang Realita Hidup Saya sebagai Orang Indonesia di Jepang
Banyak orang Indonesia yang ingin kerja di Jepang karena membayangkan kehidupan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, sekaligus mendapatkan pengalaman hidup di luar negeri. Saya sendiri sudah menjalani kehidupan di Jepang selama 10 tahun. Selama itu pula saya bekerja di perusahaan yang sama dan tidak pernah pindah tempat kerja.
Kalau ditanya kenapa dulu saya memilih Jepang, jawabannya sebenarnya sederhana: saya membutuhkan uang dan ingin mengubah kehidupan saya.
Dulu saya pernah berada dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit. Saya merasa kalau terus berada dalam keadaan seperti itu, hidup saya tidak akan banyak berubah. Kebetulan pada waktu itu informasi mengenai kerja ke luar negeri yang paling banyak saya dapatkan adalah tentang Jepang.
Akhirnya saya memutuskan untuk belajar bahasa Jepang dan mencoba mencari jalan untuk bisa bekerja di sana.
Dari LPK sampai Berangkat Kerja ke Jepang
Sebelum berangkat ke Jepang, saya mengikuti pendidikan bahasa Jepang di sebuah LPK. Saat itu saya belum mengetahui perusahaan mana yang nantinya akan menjadi tempat saya bekerja.
Awalnya saya hanya masuk LPK, belajar bahasa Jepang, mengikuti berbagai tes, kemudian melanjutkan ke pelatihan. Setelah itu barulah ada perusahaan Jepang yang sedang mencari tenaga kerja dari Indonesia.
Saya mengikuti proses seleksi dan wawancara bersama lebih dari 10 orang peserta.
Ketika ditanya alasan ingin bekerja di Jepang, saya banyak berbicara. Bahkan saya tidak memiliki pengalaman atau keterampilan khusus yang terlalu menonjol dibandingkan peserta lainnya.
Ternyata justru cara saya berkomunikasi saat wawancara menjadi salah satu alasan saya dipilih.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa ketika mengikuti wawancara kerja di Jepang, kemampuan berbicara dan menunjukkan motivasi juga penting. Tidak harus menjadi orang yang paling hebat, tetapi kita perlu menunjukkan bahwa kita benar-benar memiliki kemauan untuk bekerja.
Saya Sudah 10 Tahun Bekerja di Perusahaan yang Sama
Sekarang saya sudah memasuki tahun ke-10 tinggal dan kerja di Jepang. Yang menarik, selama 10 tahun tersebut saya masih bekerja di perusahaan yang sama.
Ketika pertama kali datang, jumlah orang Indonesia di tempat saya bekerja hanya sekitar enam orang. Sekarang jumlahnya sudah lebih dari 20 orang.
Karena orang-orang Indonesia yang lebih senior sebelumnya sudah banyak yang pulang, posisi saya perlahan menjadi salah satu yang paling senior di lingkungan kerja tersebut.
Saya kemudian lebih banyak terlibat dalam hal edukasi dan membantu orang-orang yang datang setelah saya.
Bagi saya, perjalanan 10 tahun ini menjadi pengalaman yang cukup panjang. Saya datang sebagai orang baru yang belum terlalu menguasai bahasa Jepang. Sekarang saya justru menjadi salah satu orang yang lebih senior di tempat kerja.
Dulu Saya Mengira Jepang Itu Hanya Tokyo
Sebelum berangkat ke Jepang, gambaran saya tentang Jepang sebenarnya sangat sederhana.
Saya berpikir Jepang itu identik dengan Tokyo, gedung tinggi, kota besar, Shibuya, dan kehidupan modern.
Ternyata setelah sampai di Jepang, saya justru ditempatkan di daerah yang jauh dari gambaran tersebut.
Saya baru menyadari bahwa Jepang bukan hanya Tokyo. Ada banyak daerah pedesaan dengan suasana yang sangat berbeda.
Ketika malam hari, tempat tinggal saya bahkan terasa sangat sepi dan gelap. Minimarket juga tidak selalu mudah ditemukan seperti di Indonesia.
Pengalaman itu membuat pandangan saya tentang Jepang berubah.
Saya mulai memahami bahwa kalau ingin kerja di Jepang, kita harus siap dengan kemungkinan tinggal di daerah mana pun, bukan hanya di kota besar.
Bahasa Jepang Ternyata Tidak Semudah yang Saya Bayangkan
Salah satu tantangan terbesar ketika pertama kali datang adalah bahasa Jepang.
Sebelum berangkat, saya memang sudah belajar bahasa Jepang. Namun, bahasa yang saya pelajari di Indonesia ternyata tidak selalu sama dengan bahasa yang saya dengar langsung di Jepang.
Setiap daerah bisa mempunyai aksen atau cara berbicara yang berbeda.
Ketika pertama kali berada di daerah yang menggunakan dialek lokal, saya cukup kebingungan. Bahasa Jepang yang sebelumnya saya pelajari terasa berbeda ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Karena itu, menurut pengalaman saya, belajar bahasa Jepang jangan hanya berfokus pada buku atau ujian. Kita juga harus membiasakan diri mendengar orang Jepang berbicara secara langsung.
Semakin lama tinggal di Jepang, kemampuan bahasa saya juga semakin berkembang.
Setelah 10 Tahun, Saya Merasakan Jepang Lebih Nyaman untuk Ditinggali
Kalau dibandingkan dengan ketika pertama kali datang, pandangan saya terhadap Jepang sekarang sudah jauh berbeda.
Setelah tinggal selama 10 tahun, saya merasa kehidupan di Jepang cukup nyaman.
Salah satu hal yang saya rasakan adalah keteraturan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, membuang sampah memiliki jadwal tertentu. Lingkungan juga relatif teratur sehingga kehidupan sehari-hari terasa lebih tenang bagi saya.
Di tempat saya tinggal sekarang, saya sudah terbiasa dengan lingkungan dan sistem kehidupan di Jepang.
Begitu juga dengan pekerjaan. Saya merasa masih memiliki kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan jenjang karier.
Saya tidak lagi melihat Jepang hanya sebagai tempat untuk mencari uang. Setelah bertahun-tahun tinggal di sini, Jepang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Tidak Semua Orang Jepang Sama
Selama 10 tahun di Jepang, saya tentu bertemu dengan banyak karakter orang.
Ada orang yang sangat baik, pintar, membantu, dan mudah diajak bekerja sama. Tetapi saya juga pernah bertemu dengan orang yang menurut saya cukup sulit dihadapi.
Ada sebagian orang yang menurut pengalaman saya lebih keras kepada junior dibandingkan kepada senior.
Namun saya juga tidak ingin menggeneralisasi. Tidak semua orang Jepang seperti itu. Setiap negara pasti memiliki berbagai macam karakter manusia.
Justru salah satu hal yang saya pelajari selama bekerja di Jepang adalah pentingnya memahami budaya kerja dan aturan yang berlaku.
Di lingkungan kerja saya, orang Jepang cenderung mengikuti aturan dan keputusan yang sudah ditetapkan perusahaan. Bagi saya, hal tersebut memiliki sisi positif karena pekerjaan menjadi lebih teratur.
Gaji Saya Sekarang Sudah Membuat Saya Puas
Ketika ditanya mengenai gaji, saya mengatakan bahwa sekarang saya merasa cukup puas.
Dulu saya merasa penghasilan saya masih kecil. Namun, seiring bertambahnya pengalaman dan kemampuan, penghasilan saya mengalami peningkatan.
Saya juga beberapa kali meminta kenaikan gaji.
Tetapi saya tidak sekadar meminta tanpa alasan. Saya menunjukkan hasil pekerjaan yang sudah saya lakukan.
Misalnya, ketika saya menyelesaikan suatu pekerjaan, saya membuat data, dokumentasi, foto, file Excel, PDF, atau bahan presentasi. Dengan begitu, ketika berbicara dengan perusahaan, saya bisa menunjukkan secara konkret apa yang sudah saya kerjakan.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kalau ingin berkembang ketika kerja di Jepang, kita harus bisa menunjukkan kemampuan dan hasil pekerjaan.
Bukan hanya mengatakan, “Saya bisa ini dan itu,” tetapi menunjukkan buktinya.
Jangan Hanya Menjadi Orang yang Bisa Disuruh
Ada satu prinsip yang saya pegang selama bekerja di Jepang.
Saya tidak ingin hanya menjadi orang yang menunggu perintah.
Kalau ada pekerjaan yang belum dikerjakan, saya berusaha mengerjakannya. Kalau ada data yang perlu dibuat, saya buat. Kalau perlu dokumentasi, saya siapkan.
Saya berusaha menjadi orang yang mampu mengatur pekerjaan, bukan hanya menunggu instruksi.
Saya juga membiasakan diri menggunakan data ketika menjelaskan sesuatu.
Misalnya, ketika ingin menyampaikan hasil pekerjaan, saya bisa menunjukkan data di komputer, spreadsheet, foto, atau presentasi.
Menurut pengalaman saya, kemampuan seperti ini sangat membantu dalam menunjukkan nilai kita di tempat kerja.
Kerja di Jepang Membutuhkan Mental dan Tekad
Bekerja di luar negeri tidak selalu mudah.
Kita jauh dari keluarga, berada di lingkungan yang berbeda, menggunakan bahasa yang berbeda, dan harus mengikuti aturan yang mungkin berbeda dengan kebiasaan di Indonesia.
Karena itu, sebelum memutuskan kerja di Jepang, menurut saya kita harus mempersiapkan mental.
Jangan hanya membayangkan gajinya.
Pikirkan juga bagaimana kehidupan sehari-hari, bagaimana berkomunikasi, bagaimana menghadapi pekerjaan, bagaimana beradaptasi dengan lingkungan, dan bagaimana menjaga diri ketika jauh dari keluarga.
Kita harus mempunyai tekad yang kuat.
Kalau sudah memutuskan berangkat, kita harus siap menjalani prosesnya dengan serius.
Tips Saya untuk Teman-Teman yang Mau Kerja di Jepang
Setelah tinggal dan bekerja di Jepang selama 10 tahun, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman yang sedang mempersiapkan diri.
1. Belajar Bahasa Jepang dengan Serius
Ini menurut saya sangat penting.
Jangan hanya belajar bahasa Jepang karena ingin lulus tes. Usahakan sampai benar-benar bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Semakin baik kemampuan bahasa Jepang, semakin mudah kita memahami lingkungan, budaya, pekerjaan, dan orang-orang di sekitar kita.
Bahasa juga akan membuka lebih banyak kesempatan untuk berkomunikasi dan membangun hubungan dengan orang lain.
2. Bangun Pertemanan yang Baik
Ketika tinggal di luar negeri, lingkungan pertemanan sangat berpengaruh.
Kita memang bisa berteman dengan siapa saja. Namun, menurut pengalaman saya, pilihlah lingkungan yang bisa membuat kita berkembang.
Teman yang baik bisa saling membantu, memberikan informasi, memberikan semangat, dan menjadi tempat bertukar pengalaman.
Sebaliknya, kalau kita salah memilih lingkungan, kita juga bisa terbawa ke kebiasaan yang kurang baik.
Karena itu, tetap terbuka kepada siapa saja, tetapi jangan lupa menjaga diri dan memilih lingkungan yang positif.
3. Jangan Berangkat Hanya Karena Ikut-Ikutan
Kalau ingin kerja di Jepang, jangan hanya karena melihat orang lain berhasil.
Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda.
Ada yang berangkat karena ingin membantu keluarga, ada yang ingin mendapatkan pengalaman, ada yang ingin mengembangkan karier, dan ada juga yang ingin memperbaiki kondisi ekonomi.
Kita harus tahu alasan kita sendiri.
Menurut saya, tujuan itu penting karena ketika menghadapi kesulitan, kita akan kembali mengingat alasan kenapa kita berangkat.
4. Persiapkan Diri Sebelum Berangkat
Jangan menganggap kerja di Jepang sebagai sesuatu yang mudah.
Persiapkan bahasa, mental, kemampuan kerja, serta pengetahuan mengenai kehidupan di Jepang.
Jangan terlalu terlena dengan gambaran kehidupan di media sosial.
Kehidupan nyata tentu mempunyai tantangan tersendiri.
5. Tetap Mau Berkembang Setelah Sampai di Jepang
Menurut saya, proses belajar tidak berhenti setelah kita sampai di Jepang.
Justru setelah bekerja, kita harus semakin banyak belajar.
Pelajari pekerjaan, tingkatkan bahasa Jepang, pahami budaya kerja, belajar menggunakan teknologi, dan cari kemampuan baru yang bisa meningkatkan nilai kita.
Saya sendiri bisa bertahan selama 10 tahun di perusahaan yang sama bukan hanya karena lama bekerja, tetapi juga karena terus berusaha menunjukkan kemampuan dan hasil pekerjaan.
Kesimpulan
Kerja di Jepang bagi saya bukan sekadar tentang mendapatkan gaji dari luar negeri.
Saya datang ke Jepang karena ingin memperbaiki kondisi ekonomi dan mencari kehidupan yang lebih baik. Dari awal yang hanya bermodalkan kemauan, belajar bahasa Jepang, mengikuti pelatihan, menjalani wawancara, sampai akhirnya bekerja di perusahaan yang sama selama 10 tahun.
Selama perjalanan tersebut, pandangan saya tentang Jepang juga berubah.
Dulu saya hanya mengenal Jepang sebagai Tokyo dan kota besar. Setelah datang, saya justru mengenal kehidupan pedesaan, budaya kerja, bahasa daerah, lingkungan masyarakat, dan berbagai karakter orang Jepang.
Setelah 10 tahun, saya merasa kehidupan di Jepang sudah jauh lebih nyaman karena saya sudah memahami lingkungan dan sistemnya.
Namun, semua itu membutuhkan proses.
Untuk teman-teman yang ingin kerja di Jepang, pesan saya sederhana: belajar bahasa Jepang dengan serius, persiapkan mental, pilih lingkungan pertemanan yang baik, jangan berangkat hanya karena ikut-ikutan, dan terus kembangkan kemampuan.
Jangan hanya berpikir bagaimana caranya bisa sampai ke Jepang. Pikirkan juga bagaimana caranya agar setelah sampai di Jepang, kita bisa berkembang dan memiliki kehidupan yang lebih baik.
